#30HariMenulisCerita - Menyambut Sepi di Kotamu (Part 1)

Ini bukan kotaku, memang. Aku tidak dilahirkan di sini. Keluarga pun tidak ada yang tinggal di sini. Aku merantau untuk memperbaiki nasib. Jakarta terlalu mainstream, dan aku tak suka ingar bingar. Jadilah, aku pilih kota ini. Semoga kota ini mampu menghidupi dan kuat kuhidupi.

Awalnya aku tak tahu harus bekerja sebagai apa. Aku hanya tamatan SMP, tidak mungkin lah kerja kantoran, selain menjadi office boy. Satu hal yang kuyakini kota ini tidak pernah mati akan kreativitas. Pun profesi musisi jalanan akan selalu dihargai di sini. Bersyukurlah aku karena Kla Project mentitahkan lirik "Musisi jalanan mulai beraksi..."

Jadi, kuputuskan aku akan menjadi pengamen. Keputusan inilah yang membuat aku bertemu denganmu.

Ya, tidak ada yang menduga kita akan bertemu di sini, di kota ini. Waktu itu aku sedang asyik mengamen lagu The Beatles - I Wanna Hold Your Hand. Eits, jangan salah meskipun aku pengamen, pengetahuanku akan lagu-lagu legendaris tidak diragukan lagi, ya. Seperti biasa, aku mengamen dari satu warung ke warung lain. Saat itulah aku bertemu kamu, di warung oseng-oseng mercon dekat pertigaan PKU.

Anehnya waktu itu kamu sendirian. Hei, matamu sembab, tapi kupilih diam saja tidak bertanya. Kusodorkan botol air putih untukmu. Hari ini libur dulu, kali ya, cari duitnya. Ada bidadari manis kok dianggurin. Ditemani lah sampai tidak sembab lagi. Kami hanya bertegur sapa, berbicara basa-basi, karena ia cenderung menutup diri.


***

Sampai kosan, aku tersenyum. Eh, kampret, mengapa aku lupa bertanya siapa namanya. Ah, sial. Lupa minta nomor hp-nya pula. Ya, mungkin besok akan bertemu lagi. Sepertinya aku harus sering-sering mengamen di sana. Setelah cuci muka, aku mulai memejamkan mata.












- bersambung - 



*Cerita yang kubuat terinspirasi dari Kla Project - Yogyakarta. Ketika menulis ini tentunya aku sedang mendengar "Untuk selalu pulang lagi..."


#harike-4 #30HariMenulisCerita


#30HariMenulisCerita - Aku Fulan, Si Penunggu Masjid

Sebenarnya tujuan mereka ke masjid untuk apa, sih? Aku mengernyitkan diri saat melihat aktivitas mereka yang katanya menunaikan solat terawih, kok, seolah-olah hanya menggerakkan tubuh tanpa makna. Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid. Tugasku sederhana, menunggu masjid.

Hari ini adalah hari keempat untuk solat terawih. Yang laki-laki datang dengan baju koko, sarung, tanpa sajadah. Laki-laki di sini terbiasa solat tanpa beralaskan sajadah. Berbeda dengan wanita, yang datang dengan mukenah warna-warni penuh motif dan sajadah yang tak kalah indahnya. Ketika mereka solat, aku bisa melihat dua perbedaan. Barisan shof laki-laki rapat, ujung kakinya berdempetan. Barisan shof wanita, menurutku, tidak rapat. Mereka terpaku dengan sajadah milik masing-masing. Meskipun kanan-kirinya masih longgar, tak masalah. Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid yang bisa melihat.

Solat terawih ditunaikan setelah solat isya. Saat Al Fatihah selesai dibaca, sang imam melanjutkan membaca ayat kursi yang ada di surat Al Baqarah 255. Rupanya beliau tidak berhenti sampai di situ, beliau masih melanjutkan Al Baqarah 266. Aku melihat ada perubahan mimik muka di wajah makmum. Ada yang gelisah. Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid yang bisa melihat.

Setelah mengucapkan salam, banyak yang berbisik kalau solatnya terlalu lama, bacaannya terlalu panjang. Banyak yang tidak mengerti. Tapi, toh, mereka hanya makmum. Makmum harus patuh dengan imam, bukan? Solat terawih dilanjutkan. Sang imam melafalkan bacaan surat yang panjang. Banyak yang tidak fokus. Rupanya banyak yang membatin "ini rokaat berapa ya?" atau "Aduh, lama sekali". Bapak yang memakai sarung merah itu, sedari tadi merencanakan, "Setelah ini main catur, ah!". Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid yang bisa merasa dan mendengar.

Sama halnya saat sang imam memberi ceramah. Beberapa bapak memejamkan mata. Entah merenung entah tidur. Anak-anak kecil lebih memilih bermain di sekitar masjid. Di teras beberapa ibu mengobrol dengan asyiknya. Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid yang memiliki penginderaan lebih.

Kalian sudah mengenalku, bukan? Aku Fulan, si penunggu masjid. Tugasku di sini sederhana, menunggu masjid. Tugasku di sana tidak sederhana, melaporkan apa yang kulihat ketika menunggu masjid.



#harike-3 #30HariMenulisCerita







#30HariMenulisCerita - Sebuah Perjalanan

Stasiun Lempuyangan (dok: pribadi)

"Meskipun kita tahu kemana kereta ini akan melaju, kita tidak akan tahu bagaimana kereta ini melaju." 

Suara kedatangan kereta Gaya Baru Malam memekakakan telingaku. Tak urung, aku tetap berdiri di belakang garis kuning bersiap-siap masuk gerbong. Ya, akhirnya aku pulang ke Surabaya. Tak sabar bertemu mama papa di rumah.

"Sampai bertemu lagi, Yogyakarta," ucapku pelan di bangku saat kereta pelan-pelan menjauhi Stasiun Lempuyangan. Perjalanan malam memang membuat aku tak bisa menikmati pemandangan luar dan akhirnya aku mulai mengedarkan pandangan. Pertama-tama di depan bangkuku ada keluarga kecil dengan satu anak yang kira-kira masih TK. Di kanan kiriku entah siapa, mereka sibuk dengan gawainya.

Aku sering melakukan perjalanan Yogyakarta-Surabaya dengan kereta, daripada bis, apalagi pesawat. Duh, mana kuat uang untuk tiket pesawat. Alasannya sederhana, karena kereta lebih nyaman dan aku sendiri lebih mudah berinteraksi dengan penumpang lainnya, ya meskipun sekadar ngobrol basa-basi.

Anak kecil di depanku ini sungguh aktif berbicara. Dia laki-laki. Lucu menggemaskan. Ya, namanya juga anak kecil. Kalau sudah besar, ya, amit-amit. Anak kecil itu sebenarnya capek terlalu lama sendiri duduk. Perjalanan dengan kereta ekonomi memang lama, karena sering berhenti di beberapa stasiun. Apalagi kereta ini doyan sekali memberi waktu beberapa menit untuk perokok aktif beraktivitas di luar. Ya, dua kali kampret lah lamanya.

Seringnya kereta itu berhenti, membuat sang anak bertanya ke ibunya.
"Mah, keretanya kok berhenti terus."
"Iya, Nak, ban keretanya bocor."
"Lho, Mah, bannya kereta kan dari besi!"

Anak itu mengucapkannya cukup keras. Sontak membuat mama dan papanya tertawa. Tidak hanya mereka, orang si sekitarnya pun yang diam-diam mendengar juga tertawa.

"Anaknya nggak bisa dibohongi, Bu," ucap Kakek yang duduk di bangku sebelah.

Ibunya tertawa. Sebenarnya sang ibu juga ngasal saat menjawab. Ya, mungkin beliau lelah. Kemudian sang kakek memanggil si anak dan mengajaknya salim.

"Sekolah yang pinter, ya, Nak," kata kakek. Si anak mengangguk dan  menyambut tangan sang kakek.

Percakapan sederhana itu membuatku kagum dan terharu. Ya, dua generasi bertemu dan berinteraksi. Yang tua memberi pesan berharga ke yang muda. Keluarga kecil itu turun di Sragen. Mereka berpamitan kepada kami yang masih melanjutkan perjalanan.

Kereta kembali melaju. Sang kakek menceritakan kehidupannya saat masih muda. Ya, saat itu ada pria yang mengajak ngobrol beliau. Terus aku cuma penggembira? Iya, aku orangnya cenderung jadi pendengar. Ya, hanya menanggapi sedikit-sedikit.

Jadi, kakek itu sudah mengelilingi banyak kota di Indonesia. Beliau bekerja sebagai enjiner kapal laut. Kemudian beliau memamerkan cincin yang dipakainya. Bentuknya besar dan aneh, terbuat dari logam berwarna abu-abu. Kalah deh batu akik!

Rupanya cincin itu memiliki makna. Cincin itu adalah kenang-kenangan persahabatan kakek dengan ketiga temannya yang dulu bekerja di pabrik kapal laut. Cincin itu rupanya baut kapal. Jadi baut kapal itu mereka berikan ke pandai besi untuk dibuat empat cincin. Ya, bayangkan saja sebasar apa bautnya.

Obrolan itu menutup perjalanan kami dan sampailah kami di Stasiun Gubeng. Jam dua dini hari. Alhamdulillah. Kami berpamitan dan mengucapkan "monggo". Kukemas ranselku dan keluar dari stasiun.

"Hei, Papa, I go home."




nb: cerita nonfiksi dengan sedikit penyedap fiksi. Sedikit saja, kok.




Hari ke-2 #30HariMenulisCerita







Coklat Monggo: Sudut Manis Kotagede yang Bikin Lumer Mulut

Sabtu pagi di awal Mei aku menemani Kak Yani di kantornya. Ya, maklum, Sabtu adalah waktuku libur kerja, sementara Kak Yani tidak. Kami berencana jalan-jalan, tetapi memang belum ada rencana mau kemana.

Kemudian aku teringat kalau kantor Kak Yani kan dekat dengan Outlet sekaligus Pabrik Coklat Monggo. Ya, daripada bengong capek duduk, aku pinjam motor Kak Yani untuk ke sana. Berhubung aku penderita oriented disorder atau dalam kamusku disebut buta arah, jadi ada baiknya aku lihat google maps dan petunjuk dari Kak Yani. Lagi pula, orang Jogja kalau memberi petunjuk itu pakai arah mata angin. Ya bakal lebih tidak paham lagi.

Outlet Coklat Monggo berada di Kotagede, Jalan Dalem KG III / 978. Tidak susah, kok. Ancer-ancerannya pun gampang. Perempatan Pasar Kotagede belok kanan, ada Makam Raja Kotagede masih lurus. Jalan Dalem atau Desa Dalem ada di paling ujung jalan. 

Outlet sekaligus pabrik Coklat Monggo (kuliner.panduanwisata.id)

Ketika membuka pintu, aku melihat interior yang menarik dan manis.
Selamat datang

Terdapat bangku untuk istirahat sejenak sambil menikmati coklat.
bangku kayu untuk menunggu kamu

duduk sini enak lho

Di Coklat Monggo, mataku tertuju pada lemari kaca yang memamerkan variasi Coklat Monggo. Dari yang rasa klasik seperti campuran kacang mente, kopi, kacang almon, buah-buahan, rasa pedas, dan cengkeh pun ada. Variasi rasa terbaru adalah rasa rendang (kok aku macam sales). Aku tidak hafal variasinya, sih. Tetapi ada di foto ini kok.









Pelayanannya sangat ramah. Mbak-mbaknya senang mengobrol, tapi tidak gibah lho. Enaknya lagi, disediakan testernya.

Menyesal, sih, cuma ambil satu :(

Aku putuskan untuk membeli Dark Choco, Rendang, almon, kopi, mente, durian. Untuk coklat dengan massa 30 g dibanderol dengan harga Rp 32.000,00 sementara yang kecil (aku lupa massanya berapa), harganya Rp 16.000 rupiah. Ukuran yang besar dan kecil memiliki variasi yang tidak sama. Jadi kalau misal, kalian ingin yang dark choco 69%, kalian harus beli yang besar.


Di sini aku juga bisa melihat cara pembuatan coklat Monggo. Tetapi melihatnya dari jarak yang agak jauh. Dapurnya dibatasi oleh kaca, jadi siapapun bisa melihat. Untuk melihat lebih detil, tidak bisa. Mungkin harus buat perizinan dulu.
Pembeli cukup melihat dari tempat yang disediakan. 


Desain interiornya cukup menarik, selalu menunjukkan khas Kota Jogja yang nyeni. 




Saya mencicipi semua coklat yang aku beli, semuanya enak. Yang paling enak menurutku yang dark choco 69%. Manis dan pahitnya pas. Lumeran coklatnya benar-benar ingin bilang, "WOY, JAJANIN AKU COKLAT MONGGO SEKARANG."

Oh, ya, coklat Monggo ini dibuat dari coklat belgia. Aku pikir coklatnya asli dari Indonesia. Ya wajar kalau harganya cukup mahal, meskipun ujung-ujungnya terbayar dengan rasanya yang pas.


Oke, sekian cerita dari Desa Dalem Kotagede.










*Oh, ya pas aku melewati pasar, banyak bapak-bapak lagi merubungi batu akik!


Laporan Tujuh Menit Lagi

Waktu adalah makhluk tak hidup yang paling egois. Aku percaya itu. Dan waktuku untuk membuat laporan hampir habis. Tujuh menit lagi saya harus kirim email ke atasan. Baiknya aku berpikir sebelum mengerjakan laporan. Sebelum semuanya gagal tanpa rencana.

Setelah berpikir, aku akan menyelesaikan kerjaanku yang sedari tadi terbengkalai. Ya, laporan bulan April baru selesai 70%. Aku tak tahu harus melanjutkan bagaimana. Laporan kali ini berbeda dengan laporan bulan sebelumnya. 

Ah, kurang lima menit...

Sebentar, sebentar. Aku baru ingat kalau Pilon mengirim jadwal rapat di whatsapp. Baiklah, aku harus menyesuaikan jadwal rapat dengan pekerjaanku sendiri, bukan? Aku takut nanti bentrok sehingga tidak ada yang selesai. Yap, selesai. Aku kembali dengan laporan bulan April. Tunggu. Mengerjakan laporan tanpa secangkir kopi apa nikmatnya sih? Aku beranjak dari kursi dan bergegas menyeduh kopi hitam agar lekas kembali ke laporan.

Ah, kurang dua menit...

Oke, amunisi kopi cukup. Saatnya membuka laptop dan mulai mengetik. Eh, kok file laporannya berantakan begini? Astaga aku lupa tidak menyimpan dengan format Ms. Word 2003. Astaga berantakan semuaaaaaaaa. Aku kesal dan eh, ada chat masuk di ponsel.

Eh, kok sudah setengah jam aku pegang ponsel?

ASTAGA!  LAPORAN SAYAAAA!!