Romantika Fisika (Cahaya, Lensa, dan Kemagnetan)
Senja selalu memamerkan keelokannya lewat celah dedaunan rindang di taman ini. Senja selalu piawai memadukan sinar tampak merah, oranye, dan kuning. Mereka bersatu padu saling membahagiakan siapapun yang melihat. Aku suka situasi ini. Aku tak pernah melewatkan situasi ini karena cocok untukku membaca buku. Membaca sembari menunggu adzan magrib.
Waktu yang kuhabiskan bersama buku dan senja hanyalah bentuk ketidak-move on-anku saja. Iya, move on dari semua kenangan yang selalu aku dan mantan kekasihku habiskan bersama. Membaca di waktu senja. Dan senja hari ini merupakan titik butanya. Saat mata dan lensa konkafku sudah lelah bekerja sama. Ingin rasanya menyudahi kegiatan bodoh ini.
Oh, ternyata ada yang menyudahi kegiatanku. Tetiba ada es krim mendarat di buku yang kubaca. Membuat bukuku rusak dan menjadi tak rupa.
"Aku, aku minta maaf. Aku tidak sengaja," ucapnya ketakutan saat melihat mukaku yang mendadak marah.
Sudah kubilang hanya "mendadak". Karena sejak saat itulah aku melihat kutub positif di dalam dirinya. Iya, aku si kutub negatif yang mencoba melupakan kenangan, tetapi malah berkubang tak ingin pindah. Sementara dia dan es krimnya memiliki kekuatan feromagnetik yang tak bisa membuatku untuk berhenti memandangnya. Benar-benar memiliki kekuatan feromagnetik.
Sejak saat itulah, senja selalu menemani aku dan dia yang asyik makan es krim sembari menunggu magrib.

0 komentar: