Aku dan Musim Hujan

21.20 Putri Dewayanti 0 Comments

Aku percaya ketika hujan turun pasti malaikat turun ke bumi.
Entah dalam wujud lelaki tampan berjas hitam,
Atau dalam wujud mamang bakso pinggir jalan.


Aku tidak akan melanjutkan tulisan di atas, karena ujung-ujungnya mellow drama. Aku akan bercerita mengapa diriku begitu suka hujan.

Bagiku hujan adalah anugerah yang diberi Allah saat Surabaya terlalu terik. Maklum Surabaya yang terkenal panas dan polusi, dan ketika hujan turun hawanya terasa menyegarkan.

Cara terbaik menikmati hujan adalah merasakan setiap tetes airnya.

Aku suka hujan-hujan.

Am I childish? What should I care? 

Berawal dari Papa yang tidak suka memakai jas hujan. Kata Papa, "Memakai jas hujan itu ribet. Kalau hujan, ya hujan saja. Basah nggak papa. Toh kalau pakai jas hujan juga tetep basah."

Karena aku selalu antar jemput Papa dari SMP sampai kuliah (hahaha), aku tidak pernah memakai jas hujan. Sederas apapun. Jadi setiap kali hujan turun, aku dan papa berhenti di tempat teduh. Kami memasukkan tas, sepatu, dan jaket ke dalam plastik ukuran polybag yang selalu tersedia di jok motor papa. Jadilah kami hujan-hujan. Aku pakai seragam, Papa pakai kemeja kantornya.

Karena terlalu sering hujan-hujan, saya tidak pernah terkena penyakit akibat hujan. Flu, masuk angin, demam? Alhamdulillah tidak. Kalau aku flu itu pun karena terlalu sering minum es. Aku juga tidak pernah terkena penyakit kulit di kaki, mengingat aku tidak pernah memakai alas kaki saat hujan-hujan.

Saat aku sudah tidak antar jemput lagi, aku tetap tidak mau pakai jas hujan. Sudah kebiasaan :D

Di musim hujan kali ini, sudah terhitung lima kali lebih aku basah kuyub. Pertama kali memakai jas hujan di musim ini, saat selesai kerja, hujan pun tidak kunjung datang. Aku tunggu di kantor sampai jam setengah tujuh. Akhirnya ada orang kantor yang meminjami aku jas hujan. Awalnya aku tidak mau, tapi ya sudahlah. Menolak pertolongan orang itu tidak baik.

Meskipun saya tidak suka pakai jas hujan bukan berarti serta merta tidak pernah pakai. Ada beberapa keadaan yang memaksa aku memakainya:
  1. Saat berangkat, dan kemudian hujan. Ketika berangkat aku dituntut tampil rapi, cantik, dan memesona. Tidak mungkin kan aku datang dengan dandanan berantakan.
  2. Saat mama mulai mengomel. Beda dengan papa, mama selalu menyuruh pakai jas hujan.
Itulah pengalaman aku dan musim hujan. Sesederhana itu.
Bagaimana dengan ceritamu dengan hujan?







0 komentar: