Gadis Es Krim
“Kau mau?” tawarnya sembari menyodorkan sesendok es krim di
depanku.
Aku tersenyum simpul melihat gadis di
depanku ini. Binar matanya saat melahap es krim menjadi energi potensial yang
luar biasa untukku. “Tidak, itu buatmu saja.”
Mukanya sedikit manyun saat
mengetahui aku menolak sodoran es krimnya. Kemudian dia melanjutkan melahap es
krim rasa vanilla itu.
Sungguh, aku benar-benar menyukai gadis
berambut ikal di depanku. Sudah lama aku memendam perasaan bodoh ini. Perasaan
yang kenyataannya tidak akan pernah kuungkapkan sampai kapanpun. Mungkin kalian
berpikir aku laki-laki banci yang tidak berani menembak dia. Jangan salah. Sebelumnya,
aku telah merencanakan untuk melamar gadis es krimku dengan menyiapkan kejutan
di kedai es krim favoritnya ini.
Semua rencana ini tidak ada yag tahu,
bahkan Dimas, sahabatku pun tidak kuberi tahu. Aku dan Dimas adalah sahabat
yang berbeda prinsip. Prinsipku selalu terencana, sehingga apa yang terjadi
adalah sesuai dengan prediksi. Meleset itu pun hanya lima persen. Berbeda
dengan Dimas yang cenderung spontanitas. Baginya segala yang spontan itu
tantangan.
Tetapi kalian tahu, apa yang
direncanakan terkadang kalah dengan apa yang disebut spontanitas. Perencanaan
itu terlalu banyak pertimbangan.
Gadis es krimku telah dilamar Dimas.

0 komentar: