Menjadi Tukang "Bersih" di Jakarta itu Melelahkan

23.49 Putri Dewayanti 0 Comments


Ada salah satu acara menarik di channel BBC Knowledge yang menggelitik saya, Toughest Place To Be. Acara tersebut mirip dengan “Jika Aku Menjadi” yang ditayangkan di Trans TV. Tema acara yang ditayangkan Senin, 26 Mei 2014 itu menceritakan seorang tukang sampah asal London yang merasakan menjadi tukang sampah di Jakarta.

Oh ya, dalam tulisan ini frase “tukang sampah” saya ganti dengan “tukang bersih”. Sejatinya merekalah yang memunguti, membersihkan sampah kita. Justru pembuangnya lah yang pantas di sebut tukang sampah.

Wilbur membersihkan tempat sampah dengan kucuran air.
Wilbur Remerez, seorang tukang bersih asal London diminta untuk bekerja selama 10 hari di daerah Guntur, Jakarta. Wilbur ditemani oleh Imam, yang memang berprofesi sebagai tukang bersih. Wilbur menemani Imam bekerja seharian. Dari apa yang dilihatnya dari sosok Imam, pekerjaan menjadi tukang bersih di Jakarta sungguh sangat melelahkan. Tentunya Wilbur telah membandingkan pekerjaan tukang bersihnya di London dengan di sini. Ya, Imam harus mengambil sampah dari rumah ke rumah, kemudian membersihkan tempat sampah (bak sampah) warga dengan air, bahkan mengambil sampah yang menyumbat saluran drainase warga. 

Wilbur (kiri) dan Imam (kanan) mengangkut sampah
Menurut Wilbur, pekerjaan ini sungguh di luar batas. Seharusnya membersihkan tempat sampah dilakukan oleh warga, bukan Imam. Terlebih lagi jika dibandingkan dengan honor yang tidak sepadan dengan biaya hidup, biaya kesehatan, biaya keluarga, dan lain-lain. Wilbur pun sedih ketika mendengar pernyataan Imam yang kurang lebih seperti ini, "Mereka (warga) hanya ingin rumahnya bersih. Tidak peduli bagaimana sampah ini dikemanakan. Toh, mereka juga sudah membayar kontribusi sampah, meskipun saya rasa tidak sepadan. Terkadang mereka juga tidak mengucapkan terima kasih saat saya ambil sampahnya."

Tak hanya sampai di situ apa yang dirasakan Wilbur. Sampah yang dikumpulkan tidak dipilah sesuai dengan jenisnya. Tentu ini akan menambah pekerjaan Imam dalam membersihkan sampah. Belum lagi dengan proses pengangkutan yang hanya menggunakan gerobak. Penggunaan gerobak sangat tidak efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa dua jam hanya mendapatkan dua ratus rumah. Tentu ia membandingkan dengan sistem pengangkutan di London yang sudah menggunakan truk canggih dari rumah ke rumah.

Wilbur di TPA Bantar Gebang
Permasalahan sampah di Jakarta, menurut Wilbur, tidak hanya masalah proses pengambilan, pemisahan, dan pengangkutan. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, juga dikeluhkan. TPA yang sangat besar ini tidak terorganisir dengan baik. Wilbur membayangkan bagaimana bisa alat berbahaya, seperti ekskavator beroperasi di antara pemulung-pemulung di gunungan sampah yang memuncak. Hal ini tentu akan membahayakan si pemulung. Kondisi Bantar Gebang juga sangat memprihatinkan. Di sana ternyata menjadi tempat tinggal orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada sampah.

Warga yang tinggal di sekitar Bantar Gebang
Oke, dari situ biarkan saya berpendapat. Sejak dari sumber (penghasil sampah), pengelolaan sampah sudah salah. Sebelum sampah diserahkan ke tukang sampah, sampah harus dipilah sesuai dengan karakteristiknya. Kita bisa memilahnya dengan sampah kategori organik dan anorganik. Sisa makanan, daun kering, kertas, tisu, merupakan contoh dari sampah organik. Sampah organik adalah sampah yang mudah sekali didegradasi secara biologi. Sedangkan plastik, kaleng, kaca, logam merupakan contoh dari sampah anorganik. Sampah anorganik adalah sampah yang sukar didegradasi secara biologi, sehingga harus ada perlakukan khusus untuk jenis sampah ini. Umumnya sampah anorganik akan dijual kembali ke pengepul. Nah, kalau kita dari awal sudah memilah, tentu akan memudahkan pekerjaan pemulung kan :) Saya juga sudah membiasakan memilah sampah di rumah.

Selanjutnya, permasalahan berikutnya adalah proses pengangkutan. Kalau menurutku ya, agar tidak menambah pekerjaan tukang bersih, sebaiknya tempat sampah dibuat secara komunal. Jadi misalkan satu blok rumah, dibuatkan satu tempat sampah sesuai dengan volume sampah yang dihasilkan. Alat pengangkut bisa dikondisikan sesuai dengnan finansial maupun efektivitas alat yang melewati suatu daerah. Yang jelas, alat pengangkutan harus dapat menampung volume sampah dan tertutup agar sanitasi tetap terjaga. Jam pengambilan sampah juga harus dipertimbangkan. Ini untuk memudahkan tukang bersih dalam beraktivitas. Kalau misalnya diambil setiap hari tapi ternyata volume sampah sedikit sekali kan kasihan tukang bersihnya, dan sebaliknya.

Dan yang krusial adalah TPA. Sesuai dengan kepanjangannya, TPA merupakan tempat pembuangan akhir. Yang namanya “akhir”, menurut saya adalah kondisi dimana sampah sudah tidak dapat dikelola secara prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang sederhana. Jadi gampangannya, sampah sudah mentok gak bisa diolah. Sayangnya, kebanyakan yang di TPA, masih belum dipilah. Jadilah banyak pemulung yang bekerja di sana.

Umumnya, sampah di TPA hanya dilakukan teknik open dumping, yang dasarnya tidak dilapisi lapisan antilindi. Efeknya adalah timbul bau menyengat dan mencemari tanah dan air tanah. Pengolahan sampah di TPA yang sering diterapkan adalah pembuatan kompos, pembuatan biogas, pengolahan air lindi, dan penghancuran sampah plastik. Well, menurutku pengolahan tersebut efektif, tetapi tidak akan menjadi efektif kalau manajemen sumberdayanya yang tidak terkoordinir dengan baik.

Nah, itu penjelasan dari sudut pandang sanitasi lingkungan. Sekarang mari kita lihat dari sudut pandang kesejahteraan. Honor tukang bersih tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Imam hanya memikirkan besok makan apa. Kalau dia hanya menggantungkan dengan mengambil sampah, tidak akan mencukupi. Imam juga mengepul sampah yang dapat dijual kembali. Well, seharusnya pemerintah sudah memperhatikan kesejahteraan mereka sebagai pahlawan kebersihan.

Nah, mungkin kita tidak dapat berkontribusi dalam mengelola sampah dari sumber hingga akhir, ataupun kita tidak dapat menggaji tinggi tukang bersih, tetapi kita dapat berkontribusi dari lingkungan sekitar rumah, sekolah, kampus, ataupun fasilitas umum. Kita sebagai tukang sampah juga harus menjadi tukang bersih. Setidaknya kita membuang dan memilah sampah pada tempatnya :)

Satu hal yang berkesan pada acara Toughest Place To Be adalah saat Wilbur bertanya kepada Imam mengapa ia bisa bertahan dengan pekerjaan yang sungguh tidak sepadan dengan pengabdiannya. Jawaban Imam simpel, keluarga. Karena Imam memiliki istri dan anak yang masih bayi, ia wajib menafkahi mereka. Tidak peduli sesusah apapun, Imam mengikhlaskan dan bahagia dengan profesi tukang bersihnya itu :)

0 komentar: