My Turning Point
Hai,
Kali ini saya akan bercerita tentang my turning point. Apa itu turning point? Adalah kondisi saat kalian harus kembali ke titik tertentu, titik balik, dari arah yang selama ini membuatmu jatuh atau semacamnya, sehingga kalian bisa menjadi lebih baik.
Ide tulisan ini saya dapat dari Emips, karena dulu saya memiliki cita-cita yang sama dengan Emips.
![]() |
| link gambar |
Setelah menempuh pendidikan SMA, tentunya harapan orang tua saya adalah kuliah. Orang tua saya berharap saya kuliah di FK. Ya seperti orang tua pada umumnya. Menurut mereka menjadi dokter adalah pekerjaan yang mulia dan dihormati. Siapa sih yang tidak bangga anaknya dokter? Ya begitulah pemikiran orang tua saya.
Saya pun setuju dan mencoba berbagai seleksi masuk di FK. Demi itu saya habiskan waktu untuk belajar. Saya jarang bermain. Sebagian besar aktivitas saya waktu SMA hanya untuk les dan sekolah. Kemudian saya mencoba tes yang diadakan oleh universitas yang ada FK-nya dan gagal. Seleksi melalui SNMPTN (yang sekarang ini SBMPTN) pun gagal. Akhirnya saya diterima di Ilmu dan Teknologi Lingkungan Universitas Airlangga, sebuah pilihan cadangan sekaligus pilihan terakhir
Tentu saya merasa terpaksa kuliah di sana. Karena dari awal inginnya FK, merasakan kuliah di sana terasa biasa saja. Tetapi untungnya saya bersyukur bertemu teman-teman yang baik, bahkan 'gila'.
Saya mencoba ikut tes SNMPTN lagi di tahun berikutnya, mengambil FK. Sebelumnya saya mencoba paruh waktu untuk belajar materi kuliah dengan materi SNMPTN. Dan ya kembali lagi rezeki saya bukan di FK. Saya menangis? Pasti. Mereka memberi saya dukungan untuk terus meneruskan kuliah. Teman-teman dan dosen wali pun menyemangati.
Dari kegagalan yang berkali-kali itu akhirnya saya berpikir ya saya tidak cocok menjadi dokter. Rezeki saya bukan di sana. Allah tahu itu. Ya seperti firman-Nya, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu."
Dan itu benar. Allah perencana terbaik. Saya mulai belajar menyukai kuliah saya. Tugas-tugas yang diberi dosen membuat saya merasakan "Ini lho yang bikin kamu jatuh cinta sama teknik". Ya bagaimana tidak jatuh cinta, tugasnya membuat saya tidur hanya beberapa jam, sabtu minggu masih mengerjakan tugas perencanaan penuh rumus dan gambar teknik. Awesome pokoknya. Saya juga mengikuti berbagai kepanitian, dan HIMA sebagai wadah berbagi pengalaman dan cerita.
Allah benar-benar menempatkan rezeki saya di sini. Waktu semester 3, saya mendapat tawaran guru les untuk anak kelas 1 SMP. Saya pun dipercaya menjadi asisten dosen kuliah praktikum dan kuliah perencanaan. Saya pernah magang dan tinggal sendirian di Bontang dua bulan lebih. Jujur sejak kecil saya tinggal di Surabaya, ke luar kota hanya untuk wisata, jadi ingin tahu rasanya bagaimana rasanya survive di kota orang. Alhamdulillahnya lagi saya lulus dengan nilai terbaik di jurusan saya. Memang nilai tidak selalu menentukan kesuksesan orang di masa datang, tetapi jika mengingat masa lalu saya, ini adalah sebuah prestasi.
Melewati masa turning point tidaklah mudah, apalagi memulai. Bagi saya itu butuh niat. Saya bersyukur pernah merasakan down, dan saya bersyukur mempunyai keluarga, teman-teman, serta dosen yang selalu mendukung. Terima kasih juga untuk Allah yang telah memberikan cobaan bagaimana harus bangkit ketika gagal, bagaimana harus bersyukur saat yang lain belum mendapat rezeki yang lebih baik dari saya.
Sekian cerita turning point saya.
Oh ya, untuk Emips, semoga cita-cita doktermu tercapai, ya! Teruslah belajar dan berdoa! Emips harus yakin Allah perencana terbaik. Segalanya akan dimudahkan. Amiin.
Untuk Kak Nia, terima kasih telah menjadi ibu suri di KBI selama ini dan menjadi PIC dari segala PIC pembahasan di KBI.
Terima kasih.
Angsukma Putri Dewayanti
Tulisan ini diikutsertakan di dalam #MGANia bulan Maret
Allah benar-benar menempatkan rezeki saya di sini. Waktu semester 3, saya mendapat tawaran guru les untuk anak kelas 1 SMP. Saya pun dipercaya menjadi asisten dosen kuliah praktikum dan kuliah perencanaan. Saya pernah magang dan tinggal sendirian di Bontang dua bulan lebih. Jujur sejak kecil saya tinggal di Surabaya, ke luar kota hanya untuk wisata, jadi ingin tahu rasanya bagaimana rasanya survive di kota orang. Alhamdulillahnya lagi saya lulus dengan nilai terbaik di jurusan saya. Memang nilai tidak selalu menentukan kesuksesan orang di masa datang, tetapi jika mengingat masa lalu saya, ini adalah sebuah prestasi.
Melewati masa turning point tidaklah mudah, apalagi memulai. Bagi saya itu butuh niat. Saya bersyukur pernah merasakan down, dan saya bersyukur mempunyai keluarga, teman-teman, serta dosen yang selalu mendukung. Terima kasih juga untuk Allah yang telah memberikan cobaan bagaimana harus bangkit ketika gagal, bagaimana harus bersyukur saat yang lain belum mendapat rezeki yang lebih baik dari saya.
Sekian cerita turning point saya.
Oh ya, untuk Emips, semoga cita-cita doktermu tercapai, ya! Teruslah belajar dan berdoa! Emips harus yakin Allah perencana terbaik. Segalanya akan dimudahkan. Amiin.
Untuk Kak Nia, terima kasih telah menjadi ibu suri di KBI selama ini dan menjadi PIC dari segala PIC pembahasan di KBI.
Terima kasih.
Angsukma Putri Dewayanti
Tulisan ini diikutsertakan di dalam #MGANia bulan Maret


0 komentar: