Sudah Sejauh Apa?

20.35 Putri Dewayanti 0 Comments

- Kantor PT Duta Karya, pukul 12.30.

Tugas kantor ini sungguh membuat Aldo lelah. Untuk yang kesekian kalinya Aldo melewatkan jam makan siang demi selesainya laporan presentasi si bos. Sebenarnya dia ingin beranjak untuk menyeduh kopi tetapi tiba-tiba terdengar pop out chat masuk di PC. 

Aldo mengerutkan dahi melihat alamat email itu. Ia putuskan untuk menunda menyeduh kopi. Rasa kantuknya mendadak hilang. Itu chat dari Aditya.
"Apakah Vira baik-baik saja?"
Refleks Aldo melihat perempuan yang duduk berseberangan dengan kubikelnya. Vira asyik dengan PC-nya sembari mendengarkan lagu yang bersuara melalui headset. Selintas mukanya terlihat sedih, tapi Vira tidak pernah menampakkannya secara terang-terangan. Aldo kembali menatap layar kemudian mengetik.

"Kurasa demikian."
Aldo melihat Aditya kembali mengetik sesuatu. Ia menunggu.
"Sudah sejauh apa?"
"Apa maksudmu?"
"Sudah sejauh apa Putri tidak memikirkanku?"
Aldo tertegun. Hubungan kedua sahabatnya ini, Aditya dan Vira, memang tidak berjalan sesuai keinginan mereka. Sejak Adit divonis leukimia beberapa tahun yang lalu, ia akhirnya memutuskan untuk tidak melamar Putri sebagai pendamping hidupnya. Aditya tidak mungkin bisa membahagiakannya. Penyakitnya itu justru membuat Vira menderita. Aditya tidak ingin hal itu terjadi.

Dia kembali menatap Vira kemudian membalas chat-nya.
"Awalnya memang sulit baginya. Dia tidak percaya bahwa hubungan kalian berakhir begitu saja, tanpa ada penyebab. Vira menjadi tertutup dan tidak ingin melakukan apa-apa. Nafsu makannya hilang. Semangatnya hilang. Tapi satu hal yang pasti kita tahu. Waktu adalah obat mujarab penghilang kesedihan. Butuh waktu lama untuk membuatnya mau keluar rumah dan kembali beraktivitas seperti biasa. Tapi sekarang Vira kembali menjadi gadis periang. Dia kembali bersemangat menanggapi sesuatu yang sebenarnya sepele. Tertawanya renyah seperti dulu. Sudah sejauh apa? Sudah sejauh ini dia kembali menemukan kehidupannya."
***

- Rumah Sakit Medikatama, pukul 13.00

Aditya merasakan sakit kepala yang luar biasa. Tubuhnya mengalami nyeri sana-sini. Baru saja dia muntah. Aditya tidak berusaha memencet tombol emergency yang ada di samping bantal. Dia tidak memerlukan itu. Dia sudah tidak memerlukan itu. Kini pernapasannya mendadak sesak. Namun tak urung niatnya untuk membaca kalimat terakhir chat sahabatnya dan tersenyum bahagia.
Sudah sejauh ini dia kembali menemukan kehidupannya."
Dan itulah yang terakhir dilihat Aditya.





0 komentar: