Surat untuk Papa
Papa...
Hari ini aku sengaja meluangkan waktu sejenak untuk menuliskan surat untuk Papa. Melihat usia Papa yang semakin menua dan rambut yang telah memutih, aku ingin mengungkapkan sesuatu kepadamu, Pa. Oke, dimulai setelah paragraf ini ya, Pa...
Papa...
Sampai dengan detik ini, Papa masih semangat bekerja. Ntah pagi, siang, bahkan tengah malam, Papa tidak capek sama sekali mencari nafkah. Hanya demi kami, keluargamu, bisa tidur nyenyak di kasur yang empuk. Aku masih ingat dulu, aku minta digendong setelah Papa pulang kerja. Rasanya kangen gitu.
Papa...
Meskipun Papa sibuk dengan pekerjaan, Papa selalu meluangkan waktu mengantarku ke sekolah, bahkan sampai aku kuliah. Mungkin terkesan lucu ya, sudah anak kuliahan kok masih diantar Papa. Tapi, inilah trikku supaya bisa menghabiskan waktu bersamamu, Pa. Hehe, maaf ya, Pa. Terkadang aku kasihan melihat Papa yang masih mengantarku ke kampus terus baru berangkat kantor padahal jarak keduanya sangaaat jauh. Anehnya, justru ini yang bikin Papa senang.
"Papa bosan di kantor, mending nganterin kamu aja," kata Papa.
Dan ketika aku membalas, "Aku naik angkot aja, Pa. Papa istirahat aja."
Papa langsung berkata, "Nggak capek. Siang maupun malam, Papa siap nganterin kamu kemana saja. Inget lho ya, hp Papa ini stanby 24 jam. Kamu tinggal telepon Papa."
Ketika Papa berkata seperti itu, sungguh aku ingin nangis, Pa. Papa terlalu baik.
Kebaikanmu tidak cukup sampai di situ, Pa. Aku masih ingat bagaimana caramu mengajarkanku naik sepeda pancal, menyapu dan mengepel rumah, dan kegiatan lainnya. Oh iya lupa, papa tidak mengajariku, lebih tepatnya memberi contoh. Papa tidak pernah menyuruhku, tapi Papa mempraktikkannya, memberi contoh. Sampai aku menyadari bahwa aku harus menirumu, Pa.
Papa...
Akhirnya aku menyadari betapa banyak yang Papa berikan padaku. Terima kasih ya, Pa. Papa adalah laki-laki terbaik yang aku punya.
Dan ketika ada laki-laki lain yang akan menggantikan posisi Papa, Papa jangan bersedih, ya. Aku tahu Papa pasti tidak rela gelar "laki-laki terbaik" akan menjadi milik laki-laki yang baru kukenal. Tapi, Pa, aku yakin, laki-laki ini akan membimbing diriku sama hebatnya sepertimu, Pa. Aku berjanji.
Aku mencintaimu, Papa..
Putri kecilmu,
- Angsukma Putri Dewayanti -

0 komentar: