Coklat Monggo: Sudut Manis Kotagede yang Bikin Lumer Mulut

Sabtu pagi di awal Mei aku menemani Kak Yani di kantornya. Ya, maklum, Sabtu adalah waktuku libur kerja, sementara Kak Yani tidak. Kami berencana jalan-jalan, tetapi memang belum ada rencana mau kemana.

Kemudian aku teringat kalau kantor Kak Yani kan dekat dengan Outlet sekaligus Pabrik Coklat Monggo. Ya, daripada bengong capek duduk, aku pinjam motor Kak Yani untuk ke sana. Berhubung aku penderita oriented disorder atau dalam kamusku disebut buta arah, jadi ada baiknya aku lihat google maps dan petunjuk dari Kak Yani. Lagi pula, orang Jogja kalau memberi petunjuk itu pakai arah mata angin. Ya bakal lebih tidak paham lagi.

Outlet Coklat Monggo berada di Kotagede, Jalan Dalem KG III / 978. Tidak susah, kok. Ancer-ancerannya pun gampang. Perempatan Pasar Kotagede belok kanan, ada Makam Raja Kotagede masih lurus. Jalan Dalem atau Desa Dalem ada di paling ujung jalan. 

Outlet sekaligus pabrik Coklat Monggo (kuliner.panduanwisata.id)

Ketika membuka pintu, aku melihat interior yang menarik dan manis.
Selamat datang

Terdapat bangku untuk istirahat sejenak sambil menikmati coklat.
bangku kayu untuk menunggu kamu

duduk sini enak lho

Di Coklat Monggo, mataku tertuju pada lemari kaca yang memamerkan variasi Coklat Monggo. Dari yang rasa klasik seperti campuran kacang mente, kopi, kacang almon, buah-buahan, rasa pedas, dan cengkeh pun ada. Variasi rasa terbaru adalah rasa rendang (kok aku macam sales). Aku tidak hafal variasinya, sih. Tetapi ada di foto ini kok.









Pelayanannya sangat ramah. Mbak-mbaknya senang mengobrol, tapi tidak gibah lho. Enaknya lagi, disediakan testernya.

Menyesal, sih, cuma ambil satu :(

Aku putuskan untuk membeli Dark Choco, Rendang, almon, kopi, mente, durian. Untuk coklat dengan massa 30 g dibanderol dengan harga Rp 32.000,00 sementara yang kecil (aku lupa massanya berapa), harganya Rp 16.000 rupiah. Ukuran yang besar dan kecil memiliki variasi yang tidak sama. Jadi kalau misal, kalian ingin yang dark choco 69%, kalian harus beli yang besar.


Di sini aku juga bisa melihat cara pembuatan coklat Monggo. Tetapi melihatnya dari jarak yang agak jauh. Dapurnya dibatasi oleh kaca, jadi siapapun bisa melihat. Untuk melihat lebih detil, tidak bisa. Mungkin harus buat perizinan dulu.
Pembeli cukup melihat dari tempat yang disediakan. 


Desain interiornya cukup menarik, selalu menunjukkan khas Kota Jogja yang nyeni. 




Saya mencicipi semua coklat yang aku beli, semuanya enak. Yang paling enak menurutku yang dark choco 69%. Manis dan pahitnya pas. Lumeran coklatnya benar-benar ingin bilang, "WOY, JAJANIN AKU COKLAT MONGGO SEKARANG."

Oh, ya, coklat Monggo ini dibuat dari coklat belgia. Aku pikir coklatnya asli dari Indonesia. Ya wajar kalau harganya cukup mahal, meskipun ujung-ujungnya terbayar dengan rasanya yang pas.


Oke, sekian cerita dari Desa Dalem Kotagede.










*Oh, ya pas aku melewati pasar, banyak bapak-bapak lagi merubungi batu akik!


Laporan Tujuh Menit Lagi

Waktu adalah makhluk tak hidup yang paling egois. Aku percaya itu. Dan waktuku untuk membuat laporan hampir habis. Tujuh menit lagi saya harus kirim email ke atasan. Baiknya aku berpikir sebelum mengerjakan laporan. Sebelum semuanya gagal tanpa rencana.

Setelah berpikir, aku akan menyelesaikan kerjaanku yang sedari tadi terbengkalai. Ya, laporan bulan April baru selesai 70%. Aku tak tahu harus melanjutkan bagaimana. Laporan kali ini berbeda dengan laporan bulan sebelumnya. 

Ah, kurang lima menit...

Sebentar, sebentar. Aku baru ingat kalau Pilon mengirim jadwal rapat di whatsapp. Baiklah, aku harus menyesuaikan jadwal rapat dengan pekerjaanku sendiri, bukan? Aku takut nanti bentrok sehingga tidak ada yang selesai. Yap, selesai. Aku kembali dengan laporan bulan April. Tunggu. Mengerjakan laporan tanpa secangkir kopi apa nikmatnya sih? Aku beranjak dari kursi dan bergegas menyeduh kopi hitam agar lekas kembali ke laporan.

Ah, kurang dua menit...

Oke, amunisi kopi cukup. Saatnya membuka laptop dan mulai mengetik. Eh, kok file laporannya berantakan begini? Astaga aku lupa tidak menyimpan dengan format Ms. Word 2003. Astaga berantakan semuaaaaaaaa. Aku kesal dan eh, ada chat masuk di ponsel.

Eh, kok sudah setengah jam aku pegang ponsel?

ASTAGA!  LAPORAN SAYAAAA!!



My Turning Point

Hai,


Kali ini saya akan bercerita tentang my turning point. Apa itu turning point? Adalah kondisi saat kalian harus kembali ke titik tertentu, titik balik, dari arah yang selama ini membuatmu jatuh atau semacamnya, sehingga kalian bisa menjadi lebih baik.

Ide tulisan ini saya dapat dari Emips, karena dulu saya memiliki cita-cita yang sama dengan Emips.


link gambar

Setelah menempuh pendidikan SMA, tentunya harapan orang tua saya adalah kuliah. Orang tua saya berharap saya kuliah di FK. Ya seperti orang tua pada umumnya. Menurut mereka menjadi dokter adalah pekerjaan yang mulia dan dihormati. Siapa sih yang tidak bangga anaknya dokter? Ya begitulah pemikiran orang tua saya.

Saya pun setuju dan mencoba berbagai seleksi masuk di FK. Demi itu saya habiskan waktu untuk belajar. Saya jarang bermain. Sebagian besar aktivitas saya waktu SMA hanya untuk les dan sekolah. Kemudian saya mencoba tes yang diadakan oleh universitas yang ada FK-nya dan gagal. Seleksi melalui SNMPTN (yang sekarang ini SBMPTN) pun gagal. Akhirnya saya diterima di Ilmu dan Teknologi Lingkungan Universitas Airlangga, sebuah pilihan cadangan sekaligus pilihan terakhir

Tentu saya merasa terpaksa kuliah di sana. Karena dari awal inginnya FK, merasakan kuliah di sana terasa biasa saja. Tetapi untungnya saya bersyukur bertemu teman-teman yang baik, bahkan 'gila'.

Saya mencoba ikut tes SNMPTN lagi di tahun berikutnya, mengambil FK. Sebelumnya saya mencoba paruh waktu untuk belajar materi kuliah dengan materi SNMPTN. Dan ya kembali lagi rezeki saya bukan di FK. Saya menangis? Pasti. Mereka memberi saya dukungan untuk terus meneruskan kuliah. Teman-teman dan dosen wali pun menyemangati.

Dari kegagalan yang berkali-kali itu akhirnya saya berpikir ya saya tidak cocok menjadi dokter. Rezeki saya bukan di sana. Allah tahu itu. Ya seperti firman-Nya, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu."

Dan itu benar. Allah perencana terbaik. Saya mulai belajar menyukai kuliah saya. Tugas-tugas yang diberi dosen membuat saya merasakan "Ini lho yang bikin kamu jatuh cinta sama teknik". Ya bagaimana tidak jatuh cinta, tugasnya membuat saya tidur hanya beberapa jam, sabtu minggu masih mengerjakan tugas perencanaan penuh rumus dan gambar teknik. Awesome pokoknya. Saya juga mengikuti berbagai kepanitian, dan HIMA sebagai wadah berbagi pengalaman dan cerita.

Allah benar-benar menempatkan rezeki saya di sini. Waktu semester 3, saya mendapat tawaran guru les untuk anak kelas 1 SMP. Saya pun dipercaya menjadi asisten dosen kuliah praktikum dan kuliah perencanaan. Saya pernah magang dan tinggal sendirian di Bontang dua bulan lebih. Jujur sejak kecil saya tinggal di Surabaya, ke luar kota hanya untuk wisata, jadi ingin tahu rasanya bagaimana rasanya survive di kota orang. Alhamdulillahnya lagi saya lulus dengan nilai terbaik di jurusan saya. Memang nilai tidak selalu menentukan kesuksesan orang di masa datang, tetapi jika mengingat masa lalu saya, ini adalah sebuah prestasi.

Melewati masa turning point tidaklah mudah, apalagi memulai. Bagi saya itu butuh niat. Saya bersyukur pernah merasakan down, dan saya bersyukur mempunyai keluarga, teman-teman, serta dosen yang selalu mendukung. Terima kasih juga untuk Allah yang telah memberikan cobaan bagaimana harus bangkit ketika gagal, bagaimana harus bersyukur saat yang lain belum mendapat rezeki yang lebih baik dari saya.

Sekian cerita turning point saya.

Oh ya, untuk Emips, semoga cita-cita doktermu tercapai, ya! Teruslah belajar dan berdoa! Emips harus yakin Allah perencana terbaik. Segalanya akan dimudahkan. Amiin.

Untuk Kak Nia, terima kasih telah menjadi ibu suri di KBI selama ini dan menjadi PIC dari segala PIC pembahasan di KBI.



Terima kasih.


Angsukma Putri Dewayanti


Tulisan ini diikutsertakan di dalam #MGANia bulan Maret



Sudah Sejauh Apa?

- Kantor PT Duta Karya, pukul 12.30.

Tugas kantor ini sungguh membuat Aldo lelah. Untuk yang kesekian kalinya Aldo melewatkan jam makan siang demi selesainya laporan presentasi si bos. Sebenarnya dia ingin beranjak untuk menyeduh kopi tetapi tiba-tiba terdengar pop out chat masuk di PC. 

Aldo mengerutkan dahi melihat alamat email itu. Ia putuskan untuk menunda menyeduh kopi. Rasa kantuknya mendadak hilang. Itu chat dari Aditya.
"Apakah Vira baik-baik saja?"
Refleks Aldo melihat perempuan yang duduk berseberangan dengan kubikelnya. Vira asyik dengan PC-nya sembari mendengarkan lagu yang bersuara melalui headset. Selintas mukanya terlihat sedih, tapi Vira tidak pernah menampakkannya secara terang-terangan. Aldo kembali menatap layar kemudian mengetik.

"Kurasa demikian."
Aldo melihat Aditya kembali mengetik sesuatu. Ia menunggu.
"Sudah sejauh apa?"
"Apa maksudmu?"
"Sudah sejauh apa Putri tidak memikirkanku?"
Aldo tertegun. Hubungan kedua sahabatnya ini, Aditya dan Vira, memang tidak berjalan sesuai keinginan mereka. Sejak Adit divonis leukimia beberapa tahun yang lalu, ia akhirnya memutuskan untuk tidak melamar Putri sebagai pendamping hidupnya. Aditya tidak mungkin bisa membahagiakannya. Penyakitnya itu justru membuat Vira menderita. Aditya tidak ingin hal itu terjadi.

Dia kembali menatap Vira kemudian membalas chat-nya.
"Awalnya memang sulit baginya. Dia tidak percaya bahwa hubungan kalian berakhir begitu saja, tanpa ada penyebab. Vira menjadi tertutup dan tidak ingin melakukan apa-apa. Nafsu makannya hilang. Semangatnya hilang. Tapi satu hal yang pasti kita tahu. Waktu adalah obat mujarab penghilang kesedihan. Butuh waktu lama untuk membuatnya mau keluar rumah dan kembali beraktivitas seperti biasa. Tapi sekarang Vira kembali menjadi gadis periang. Dia kembali bersemangat menanggapi sesuatu yang sebenarnya sepele. Tertawanya renyah seperti dulu. Sudah sejauh apa? Sudah sejauh ini dia kembali menemukan kehidupannya."
***

- Rumah Sakit Medikatama, pukul 13.00

Aditya merasakan sakit kepala yang luar biasa. Tubuhnya mengalami nyeri sana-sini. Baru saja dia muntah. Aditya tidak berusaha memencet tombol emergency yang ada di samping bantal. Dia tidak memerlukan itu. Dia sudah tidak memerlukan itu. Kini pernapasannya mendadak sesak. Namun tak urung niatnya untuk membaca kalimat terakhir chat sahabatnya dan tersenyum bahagia.
Sudah sejauh ini dia kembali menemukan kehidupannya."
Dan itulah yang terakhir dilihat Aditya.





Hai Key, Selamat Ulang Tahun dan Selamat Beristirahat

19 Februari 2015

Saya punya kakak kelas yang saya kagumi. Ada dua orang, yang pertama saya temui saat waktu SMP dan yang kedua saat saya kuliah. Mereka memiliki kesamaan yang sama, berkaca mata, dan menurut saya wajahnya cukup senang dilihat (halah). Beberapa hari yang lalu saya terpikirkan untuk menulis keduanya tepat di hari ulang tahun mereka.

Kali ini saya akan menulis idola yang pertama.

Karena saya adalah pengagum rahasia, dan kalian tidak berhak tahu, Saya perkenalkan dirinya dengan sebutan "Key". Inisial namanya "KPA".

Saya bertemu dengan Key saat ospek. Dia adalah salah satu anggota OSIS. Saya suka Key saat kali pertama bertemu. Oke ralat. Saya kagum. Key berkaca mata, tampan, dan suka basket. Ketika ada sesi minta tanda tangan kakak kelas, dengan pedenya saya menyodorkan buku saya untuk ditandatangani olehnya. Padahal, waktu saya minta, tidak ada satu pun yang minta padanya. Saya minta tanda tangannya sendirian.

Ospek selesai bukan berarti kekaguman saya juga selesai. Sebagai seorang pengagum rahasia yang berbudi, saya sering memperhatikannya.

Key kelas 9F, aku kelas 7D.
Key masuk pagi, aku masuk siang.
Key main basket, aku mengamatinya.
Key melewatiku, aku berusaha tidak melihat.

Begitu.

Saya pun berusaha mengorek informasi lebih jauh. Key lahir di Blitar, hari ini, 19 Februari, 25 tahun yang lalu. Anyway, Selamat ulang tahun, Key. Allah loves you much!

Kesenangan saya sebagai pengagum rahasia tidak sampai di situ, saya dapat informasi kalau rumahnya di Kebraon. Woohoooo, kami bertetangga! Biar saya ulangi, KAMI BERTETANGGA.

Setahun kemudian, Key lulus SMP. Key lanjut SMA di Smamda. Saya pernah melihatnya berseragam Smamda. Kalau saya ke sekolah diantar mama, pasti melewati rumah Key. Voila! Saya punya kesempatan untuk melihatnya. Saya pernah melihat Key duduk di teras, memasang kaos kaki sebelum berangkat ke sekolah. Saya juga sering melihat Key mengendarai sepeda sebelum dia naik angkot. Saya sering melihat Key di angkot. Saya sering melihat Key.

Saya juga punya cerita bersama Key. Waktu itu tanggal 1 Januari, saya lupa tahun berapa. Saya memberanikan diri untuk pergi membeli pulsa di Key. Oh ya, Key berjualan pulsa di rumahnya.

"Lho Kak Key?"

Hahahaha. Saya menyapa seolah-olah kaget. Padahal...

Dan kami pun berdialog. Itu adalah kali terakhir saya mengobrol dengan Key.


Hari ini ulang tahunnya. Saya kehilangan kabar Key. Beruntung sekarang ada media sosial. Hanya tulis namanya, dan keluarlah akun Key.

Saya membaca pesan ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya.

Saya membaca pesan mereka.

Mata saya berkaca-kaca.

Key sudah meninggal.

Key meninggal tiga tahun yang lalu, tepat tiga hari setelah hari ulang tahun saya.

Oke, saya syok. Fakta yang harus saya terima adalah Key pergi. Tiga tahun yang lalu. Dan saya baru mengetahuinya di hari ulang tahunnya. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Yang saya tahu adalah saya tidak pernah melihat Key saat melewati rumahnya. Rumah Key selalu tertutup.

Baiklah, sebagai pengagum rahasia yang baik, tidak ada yang lebih pantas selain mendoakan Key bahagia di sisi Allah. Key orang baik. Saya sayang Key. Semua sayang Key, Allah lebih sayang Key.


Selamat ulang tahun dan beristirahat, Key.