#30HariMenulisCerita - Pasrahnya Jadi Bola Sepak

23.26 Putri Dewayanti 0 Comments



Panggil aku bola. Tidak ada yang spesial dari fisikku. Tuhan menciptakan aku dengan sederhana, terbuat dari kulit berbentuk bundar. Sudah, tidak pakai embel-embel rambut, jari, telinga, dkk, dll. Tetapi, Tuhan memberiku rasa.

Umurku baru dua bulan setelah dilahirkan di rumah sakit, eh pabrik maksudku. Sekarang aku tinggal di Lapangan Tambaksari, tepatnya di ruang penyimpanan peralatan sepak bola. Eh, apa sepak bola? Oh, ya, sehari setelah dilahirkan, Tuhan bertelepati. Kata-Nya, suatu hari nanti akan ada peran penting untukku di kompetisi sepak bola bergengsi. Peranku hanya pasrah saja. Aku tidak mengerti maksud pesan itu, tapi Tuhan tidak ingin memberi petunjuk lebih.

Aku merasakan ada seseorang yang membawaku entah ke mana.  Hei aku mau diapakan? Perasaanku ke mana-mana selama dibawanya. Kucoba telepati dengan Tuhan, atau dengan petugas pabrik, tidak diindahkan. Aku merengut. Sebal. Tidak bisa apa-apa.

Semuanya telah terjawab setelah dua jam kemudian. Rupanya peranku seperti ini, toh. Sakit, euy, jadi bola sepak itu. Selama 90 menit pertandingan aku diperlakukan barbar oleh manusia-manusia. Salah satu dari mereka, yang bernama wasit meletakkan aku di lapangan. Rasa gatal akibat rumput-rumput itu membuatku ngeri. Aku tidak punya tangan dan kaki. Bagaimana aku bisa garuk-garuk? Aku hanya bisa pasrah.

Kalian tahu apa yang kampret dari sepak bola? Ya, ketika aku menjauh ke pinggir lapangan, manusia-manusia itu mengejarku. Lelah ia tak peduli. Keringat mengucur ia bodoh amat. Ketika mereka mendekatiku, bukannya diambil, malah ditendang! Nah, kurang kampret apa coba? Tapi toh, aku hanya bisa pasrah.

Sebenarnya ingin sekali protes ke Tuhan, tapi kan dosa. Jadi aku hanya bisa mengampretkan mereka dan memasrahkan diri. Bola bukan malaikat yang selalu tunduk, bukan? Nasibku tidak hanya sampai di situ. Seringkali aku disundul kepala mereka yang rupa-rupa. Kalau aku disundul oleh manusia gundul rasanya panas sekali. Disundul manusia jabrik akunya gatal-gatal, bahkan kesakitan. Belum lagi, kalau aku ditendang kena mistar gawang. Astagaaa, sakitnya tuh di sini!

Satu hal yang tidak kuduga-kuduga adalah aku punya manusia pelindung. Di saat manusia-manusia keji itu menandangku ke sana ke mari, Rupanya ada dia yang selalu berusaha melindungiku. Detik-detik terakhir menjelang pertandingan habis, aku ditendang sekuat tenaga. Rasa sakit menjalar di seluruh kulit. Saat itu pula rasanya aku ingin mati. Namun beberapa detik kemudian aku merasakan pelukan hangat. Dia memelukku, dia menangkapku. Dia menjagaku agar tidak melesak jauh. Aku merasakan dia menatapku dan tersenyum. Aku bersyukur bisa pasrah kali ini. Dan rasanya ingin sekali aku bilang, "Tangkap aku lagi, dong, Bang!"



-end-


#harike- 8 #30HariMenulisCerita






0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Lukisan Laut di Wajah Rani

14.57 Putri Dewayanti 0 Comments

the sea on the girl face



Hari ini aku mendapat job melukis lagi. Beruntung sekali seniman amatir macam aku tidak pernah sepi pesanan. Rata-rata mereka memintaku melukis dirinya, Mereka bosan hanya dipajang pada sebingkai foto. Menurut mereka lagi, foto itu tidak hidup. Entah, kebanyakan berkata seperti itu.

Sekarang aku di depan pintu apartemen 509. Pintu itu membuka setelah dua kali aku pencet bel. Seorang gadis ada di depanku. Cantik. Cantik sekali. Dia mempersilakanku masuk ke apartemennya. Apartemennya besar tapi tak banyak perabotan, sepertinya dia penghuni baru di sini.

Pelangganku satu ini bernama Rani. Dia ingin lukisan dirinya dipajang di kamar tidurnya. Ia ingin mengagumi diri sebelum terlelap. Rani membuatkanku kopi kemudian pamit untuk berdandan terlebih dahulu. Melihat sekeliling apartemen aku jadi punya ide bagaimana dia dilukis. Kubuka tirai jendela, dan sinar matahari sore masuk menciptakan warna oranye kemerahan yang berpadu dengan tembok putih tulang apartemen ini. Aku menata kursi berwarna putih di dekat jendela.

"Aku sudah siap," Rani menyapa di balik punggungku.

Aku menoleh. Malaikat. Ada malaikat di depanku. Rani cantik sekali. Ia mengenakan gaun tube top berwarna biru laut selutut, menampakkan kulitnya yang putih bersih. Rambutnya yang disemir coklat dikepang samping. "Ya, bagaimana kalau kamu duduk di kursi itu,"

Rani menurut saja. Segera ia duduk. "Duduklah senyaman mungkin," ucapku. Rani duduk tegap. Seolah-olah mau foto KTP. Baru kali ini ada yang minta dilukis dengan model seperti itu.

Sebelum melukis, aku selalu melakukan "ritual" mengamati objek lukisan. Demi sebuah lukisan yang indah ada baiknya kau memakai waktumu untuk mengamati. Rani cantik. Ya, berkali-kali aku mengucapkan hal itu tanpa rasa bosan. Matanya...Hei ada apa dengan matanya?

Kedua matanya menerawang jauh. Tak punya titik fokus. Ia ingin bebas, tapi jiwanya terpasung.  Ia memiliki masa lalu yang kelam, tapi ia ingin menunjukkan dia baik-baik saja. Entahlah itu hanya menurutku. Sebaiknya aku mulai melukis.

Kata teman-temanku yang sesama pelukis amatir, kemampuan melukisku tidak diragukan. Meskipun bukan dari lulusan akademi melukis atau semacamnya, aku paham memainkan cat minyak di atas kanvas. Aku melukis sesuai dengan instingku dan tak pernah memaksa jari-jari melukis jika tak memiliki inspirasi.

Mataku saling beradu antara Rani dan kanvas. Rani dan kanvas. Rani dan kanvas. Mimik muka Rani tenang, tetapi matanya tetap menerawang. Yang kutakutkan alih-alih dia kerasukan. Beberapa menit kemudian mukanya menjadi sendu. Abu-abu. Rani adalah objek melukis yang paling indah yang tidak bisa direncanakan. Pengaturan kursi jendela dan tetek bengeknya menjadi tidak berarti

"Ran, sudah selesai. Coba ke mari!"

Sudah dua jam lebih Rani duduk. Dia melemaskan kaki dan tangannya saat berdiri. Rani menghampiriku untuk melihat hasil lukisannya. "Astaga, indah sekali! Tak salah aku memanggilmu."

Ia mematut-matut dirinya di depan lukisan bak cermin. "Berkali-kali aku memanggil tukang lukis dan berkali-kali aku dikecewakan dengan hasilnya," katanya. "Lihat mukaku, benar-benar menunjukkan ingin lepas dari semua kebohongan dunia. Semua keinginan itu ada di lukisan ini pun sudah diwujudkan. Sekarang aku bisa hidup dengan bahagia." Ia mengucapkan kalimat itu dengan semangat.

Aku tersenyum puas. Sekarang mata rani tidak menerawang. Mimik mukanya tidak sendu lagi. Karena semua energi itu telah dipindah di atas kanvas. 

-end-



#harike-7 #30 HariMenulisCerita

0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Mimpi di Telingaku

10.43 Putri Dewayanti 0 Comments

My ear dream


"Kamu percaya mimpi?"

Laki-laki berkaca mata di sampingku menatap sendu langit kota yang memerah, tanda akan menjemput malam. Dia adalah dr. Harris, teman semasa kecil. Kami bertemu saat magang di bagian IGD.

Kami berada di atap rumah sakit. Ini adalah tempat favorit kami untuk beristirahat sejenak dari aktivitas rumah sakit. Kami hanya punya waktu 30 menit untuk mengobrol. Oleh karena itu, kami harus memanfaatkan sebaik-baiknya.

Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Bukan. Bukan pertanyaannya. Tapi bagaimana caranya ia bertanya. Suaranya berbeda. Ada keganjilan di suranya yang tenor itu.

"Tentu, tanpa mimpi aku tak bisa sampai seperti ini," aku tersenyum. Aku menyeruput kopi berharap mampu mengurangi rasa cemas.

"Apa mimpimu kali ini?"

Dahiku berkerut. Berusaha memikirkan apa mimpiku berikutnya.

"Aku tak tahu. Aku cukup puas dengan apa yang kudapat sekarang."

Sekarang giliran dahinya yang berkerut. Kemudian dia tertawa sambil mengacak-acak rambutku. Dia merogoh saku jas putihnya dan menyodorkan sesuatu.

"Dreamcacther!" Ucapku agak keras saat melihat benda lingkaran berwarna biru tua dan bulu angsa berwarna sama yang menggantung.

Dreamcacther itu berbentuk anting. Ukurannya tidak terlalu besar sehingga tidak berat di telinga. Kuucapkan terima kasih saat ia meletakkan kedua anting itu di genggamanku. 

"Jadi apa kau sudah punya mimpi?" Ia bertanya sekali lagi.

Aku tersenyum. Anehnya setelah melihat dreamcacther, aku bisa bermimpi. Ya, mimpi yang kuharap bisa menjadi nyata.

"Aku ingin menjadi ibu dari anak-anakmu kelak."


***

"Putri, telingamu memerah. Sepertinya bahan anting sudah tidak cocok dengan kulitmu," dr. Sam mendekati dan mengamati daun telinga kananku. Aku mengelak. Risih. Dr. Sam memegang kedua pundakku. Aku menunduk.

"Putri, aku mengerti itu hadiah dari seseorang yang begitu berharga untukmu. Maaf, kalau aku jahat mengatakan ini, setelahnya Putri boleh membenciku," dr. Sam memberi jedah sejenak. "Aku tahu ini berat untukmu, tapi apa enaknya tinggal di masa lalu? Dr. Harris nyatanya sudah pergi."

Tangisku pecah mendengar namanya. Dr. Sam memelukku, memberikan perlindungan terbaiknya. "Setelah ini Putri boleh membenciku," ia mengulangi.

Seperti kata W.S Rendra, nasib cinta memang siapa yang tahu. Harris telah pergi selama-lamanya. Ia mengalami kecelakaan saat terbang ke Tokyo menemui orang tuanya. Jasadnya pun tak ditemukan. Lima tahun kepergiannya hampir membuatku gila. Memang aku bisa menjalani aktivitas seperti biasa. Segalanya atas dasar profesionalitas. Hidupku seperti mesin. Tetapi, hari-hariku terasa kosong dan sepi.

Dr. Sam menyentuh antingku. Pelan-pelan dia melepas. Aku merintih kecil, karena sakitnya luar biasa. Ya, melepas itu berat. Tapi setelahnya kaubisa melengang dengan ringan.

***

"Mengapa kautidak memberiku dreamcacther yang digantung di pintu?"

"Ada baiknya mimpi kaubawa ke manapun pergi. Agar selalu ingat kaubisa di sini karena ada mimpi yang selalu kausemogakan."

- end -



#harike-6 #30HariMenulisCerita





0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Menyambut Sepi di Kotamu [Part 2 - End]

01.43 Putri Dewayanti 0 Comments

Sampai kosan, aku tersenyum. Eh, kampret, mengapa aku lupa bertanya siapa namanya. Ah, sial. Lupa minta nomor hp-nya pula. Ya, mungkin besok akan bertemu lagi. Sepertinya aku harus sering-sering mengamen di sana. Setelah cuci muka, aku mulai memejamkan mata.

Keesokan malamnya aku mengamen lagi di sekitar PKU. Dia ada! Di warung oseng-oseng mercon yang sama! Kuhampiri dia sembari menyanyikan lagu, khusus untuknya. Dia tersenyum. Kemudian ia menggeser pantatnya untuk memberiku tempat duduk.

"Kau sering makan di sini?" tanyaku.
"Ya, saya suka tempat ini. Oseng-oseng merconnya enak sekali dan pedasnya sungguh terlalu nikmat," ucapnya sambil melihat sekeliling.

Aku bukan peramal, juga bukan seorang psikolog, tapi aku mengerti matanya menyimpan rasa sepi yang dalam dan menyiksa. Seolah-olah berton-ton kenangan menggantung di mata. Nyatanya, bibirnya berkata lain. Kami membicarakan banyak hal, bahkan tertawa. Ya, bibirnya tertawa, tetapi matanya sepi. Kosong.

Hubungan kami hari demi hari terus berlanjut sejak kuputuskan hanya mengamen di sekitar PKU. Setelah makan oseng-oseng mercon, dia menemaniku mengamen dari warung ke warung. Dia menyumbang suaranya yang menurutku agak cempreng. Tak mengapa, kusuka.


***

Malam ini malam minggu, aku akan menemui dia dan mengajak ngopi di Angkringan Tugu. Aku tak membawa gitar. Sekali-kali libur kerja, tidak apa-apa bukan. Kaos oblong terpasang rapi di badan. Celana jins oke! Bunga? Tak perlu, bunga akan layu. Lebih baik kuberi cinta yang tak akan pernah layu dimakan waktu. Lempar bata saja kalau kalimat barusan terdengar menjijikkan.

Hei, kok dia tidak ada? Setiba di warung, tidak ada gadis yang kukenal. Semua yang datang ke sini tidak ada yang sendirian. Tidak mungkin dia ada di warung lain. Keyakinanku tidak sejalan dengan akal sehat. Aku berjalan dari satu warung ke warung lain. Ya, dia tidak ada. Aku nyaris putus asa. Kaosku penuh keringat.

Mungkin dia terlambat. Aku kembali ke warung kali pertama bertemu. Penjual oseng-oseng menghampiriku dan memberi sepucuk kertas yang dilipat rapi.

"Hei, terima kasih, sudah menemaniku selama ini."

Baru kusadari aku tidak pernah tahu namamu, dan demikian kamu tak tahu namaku. Hanya ada inisial "S" di sudut kertas. Dan kamu pergi begitu saja.


***

Pertemuan yang sebentar tapi berkualitas itu membuatku harus mengenyahkan diri dari kota ini. Kuputuskan untuk kembali ke Surabaya. Mencari suasana baru. Sayangnya, Surabaya terlalu hiruk-pikuk. Dimana-mana penuh manusia dengan mobilitas tinggi.

Aku rindu kotamu. Aku ingin pulang ke kotamu. Haru dan biru saling mengaduk dalam rindu. Aku ingin menyusuri warung-warung yang telah kita lewati, meskipun itu artinya aku harus bertengkar dengan akal pikiran. Ya, semuanya masih seperti dulu. Pemilik warung masih mengenalku. Mereka bersahaja. Rupanya mereka paham tujuanku ke mari bukan untuk mengamen, tapi untuk menyambut gadis berinisial "S".

Ya, aku menyambut sepi dikotamu.


- end -







*Cerita yang kubuat terinspirasi dari Kla Project - Yogyakarta.

#harike-5 #30HariMenulisCerita





0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Menyambut Sepi di Kotamu (Part 1)

00.43 Putri Dewayanti 0 Comments

Ini bukan kotaku, memang. Aku tidak dilahirkan di sini. Keluarga pun tidak ada yang tinggal di sini. Aku merantau untuk memperbaiki nasib. Jakarta terlalu mainstream, dan aku tak suka ingar bingar. Jadilah, aku pilih kota ini. Semoga kota ini mampu menghidupi dan kuat kuhidupi.

Awalnya aku tak tahu harus bekerja sebagai apa. Aku hanya tamatan SMP, tidak mungkin lah kerja kantoran, selain menjadi office boy. Satu hal yang kuyakini kota ini tidak pernah mati akan kreativitas. Pun profesi musisi jalanan akan selalu dihargai di sini. Bersyukurlah aku karena Kla Project mentitahkan lirik "Musisi jalanan mulai beraksi..."

Jadi, kuputuskan aku akan menjadi pengamen. Keputusan inilah yang membuat aku bertemu denganmu.

Ya, tidak ada yang menduga kita akan bertemu di sini, di kota ini. Waktu itu aku sedang asyik mengamen lagu The Beatles - I Wanna Hold Your Hand. Eits, jangan salah meskipun aku pengamen, pengetahuanku akan lagu-lagu legendaris tidak diragukan lagi, ya. Seperti biasa, aku mengamen dari satu warung ke warung lain. Saat itulah aku bertemu kamu, di warung oseng-oseng mercon dekat pertigaan PKU.

Anehnya waktu itu kamu sendirian. Hei, matamu sembab, tapi kupilih diam saja tidak bertanya. Kusodorkan botol air putih untukmu. Hari ini libur dulu, kali ya, cari duitnya. Ada bidadari manis kok dianggurin. Ditemani lah sampai tidak sembab lagi. Kami hanya bertegur sapa, berbicara basa-basi, karena ia cenderung menutup diri.


***

Sampai kosan, aku tersenyum. Eh, kampret, mengapa aku lupa bertanya siapa namanya. Ah, sial. Lupa minta nomor hp-nya pula. Ya, mungkin besok akan bertemu lagi. Sepertinya aku harus sering-sering mengamen di sana. Setelah cuci muka, aku mulai memejamkan mata.












- bersambung - 



*Cerita yang kubuat terinspirasi dari Kla Project - Yogyakarta. Ketika menulis ini tentunya aku sedang mendengar "Untuk selalu pulang lagi..."


#harike-4 #30HariMenulisCerita


0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Aku Fulan, Si Penunggu Masjid

00.12 Putri Dewayanti 0 Comments

Sebenarnya tujuan mereka ke masjid untuk apa, sih? Aku mengernyitkan diri saat melihat aktivitas mereka yang katanya menunaikan solat terawih, kok, seolah-olah hanya menggerakkan tubuh tanpa makna. Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid. Tugasku sederhana, menunggu masjid.

Hari ini adalah hari keempat untuk solat terawih. Yang laki-laki datang dengan baju koko, sarung, tanpa sajadah. Laki-laki di sini terbiasa solat tanpa beralaskan sajadah. Berbeda dengan wanita, yang datang dengan mukenah warna-warni penuh motif dan sajadah yang tak kalah indahnya. Ketika mereka solat, aku bisa melihat dua perbedaan. Barisan shof laki-laki rapat, ujung kakinya berdempetan. Barisan shof wanita, menurutku, tidak rapat. Mereka terpaku dengan sajadah milik masing-masing. Meskipun kanan-kirinya masih longgar, tak masalah. Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid yang bisa melihat.

Solat terawih ditunaikan setelah solat isya. Saat Al Fatihah selesai dibaca, sang imam melanjutkan membaca ayat kursi yang ada di surat Al Baqarah 255. Rupanya beliau tidak berhenti sampai di situ, beliau masih melanjutkan Al Baqarah 266. Aku melihat ada perubahan mimik muka di wajah makmum. Ada yang gelisah. Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid yang bisa melihat.

Setelah mengucapkan salam, banyak yang berbisik kalau solatnya terlalu lama, bacaannya terlalu panjang. Banyak yang tidak mengerti. Tapi, toh, mereka hanya makmum. Makmum harus patuh dengan imam, bukan? Solat terawih dilanjutkan. Sang imam melafalkan bacaan surat yang panjang. Banyak yang tidak fokus. Rupanya banyak yang membatin "ini rokaat berapa ya?" atau "Aduh, lama sekali". Bapak yang memakai sarung merah itu, sedari tadi merencanakan, "Setelah ini main catur, ah!". Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid yang bisa merasa dan mendengar.

Sama halnya saat sang imam memberi ceramah. Beberapa bapak memejamkan mata. Entah merenung entah tidur. Anak-anak kecil lebih memilih bermain di sekitar masjid. Di teras beberapa ibu mengobrol dengan asyiknya. Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid yang memiliki penginderaan lebih.

Kalian sudah mengenalku, bukan? Aku Fulan, si penunggu masjid. Tugasku di sini sederhana, menunggu masjid. Tugasku di sana tidak sederhana, melaporkan apa yang kulihat ketika menunggu masjid.



#harike-3 #30HariMenulisCerita







0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Sebuah Perjalanan

00.21 Putri Dewayanti 0 Comments

Stasiun Lempuyangan (dok: pribadi)

"Meskipun kita tahu kemana kereta ini akan melaju, kita tidak akan tahu bagaimana kereta ini melaju." 

Suara kedatangan kereta Gaya Baru Malam memekakakan telingaku. Tak urung, aku tetap berdiri di belakang garis kuning bersiap-siap masuk gerbong. Ya, akhirnya aku pulang ke Surabaya. Tak sabar bertemu mama papa di rumah.

"Sampai bertemu lagi, Yogyakarta," ucapku pelan di bangku saat kereta pelan-pelan menjauhi Stasiun Lempuyangan. Perjalanan malam memang membuat aku tak bisa menikmati pemandangan luar dan akhirnya aku mulai mengedarkan pandangan. Pertama-tama di depan bangkuku ada keluarga kecil dengan satu anak yang kira-kira masih TK. Di kanan kiriku entah siapa, mereka sibuk dengan gawainya.

Aku sering melakukan perjalanan Yogyakarta-Surabaya dengan kereta, daripada bis, apalagi pesawat. Duh, mana kuat uang untuk tiket pesawat. Alasannya sederhana, karena kereta lebih nyaman dan aku sendiri lebih mudah berinteraksi dengan penumpang lainnya, ya meskipun sekadar ngobrol basa-basi.

Anak kecil di depanku ini sungguh aktif berbicara. Dia laki-laki. Lucu menggemaskan. Ya, namanya juga anak kecil. Kalau sudah besar, ya, amit-amit. Anak kecil itu sebenarnya capek terlalu lama sendiri duduk. Perjalanan dengan kereta ekonomi memang lama, karena sering berhenti di beberapa stasiun. Apalagi kereta ini doyan sekali memberi waktu beberapa menit untuk perokok aktif beraktivitas di luar. Ya, dua kali kampret lah lamanya.

Seringnya kereta itu berhenti, membuat sang anak bertanya ke ibunya.
"Mah, keretanya kok berhenti terus."
"Iya, Nak, ban keretanya bocor."
"Lho, Mah, bannya kereta kan dari besi!"

Anak itu mengucapkannya cukup keras. Sontak membuat mama dan papanya tertawa. Tidak hanya mereka, orang si sekitarnya pun yang diam-diam mendengar juga tertawa.

"Anaknya nggak bisa dibohongi, Bu," ucap Kakek yang duduk di bangku sebelah.

Ibunya tertawa. Sebenarnya sang ibu juga ngasal saat menjawab. Ya, mungkin beliau lelah. Kemudian sang kakek memanggil si anak dan mengajaknya salim.

"Sekolah yang pinter, ya, Nak," kata kakek. Si anak mengangguk dan  menyambut tangan sang kakek.

Percakapan sederhana itu membuatku kagum dan terharu. Ya, dua generasi bertemu dan berinteraksi. Yang tua memberi pesan berharga ke yang muda. Keluarga kecil itu turun di Sragen. Mereka berpamitan kepada kami yang masih melanjutkan perjalanan.

Kereta kembali melaju. Sang kakek menceritakan kehidupannya saat masih muda. Ya, saat itu ada pria yang mengajak ngobrol beliau. Terus aku cuma penggembira? Iya, aku orangnya cenderung jadi pendengar. Ya, hanya menanggapi sedikit-sedikit.

Jadi, kakek itu sudah mengelilingi banyak kota di Indonesia. Beliau bekerja sebagai enjiner kapal laut. Kemudian beliau memamerkan cincin yang dipakainya. Bentuknya besar dan aneh, terbuat dari logam berwarna abu-abu. Kalah deh batu akik!

Rupanya cincin itu memiliki makna. Cincin itu adalah kenang-kenangan persahabatan kakek dengan ketiga temannya yang dulu bekerja di pabrik kapal laut. Cincin itu rupanya baut kapal. Jadi baut kapal itu mereka berikan ke pandai besi untuk dibuat empat cincin. Ya, bayangkan saja sebasar apa bautnya.

Obrolan itu menutup perjalanan kami dan sampailah kami di Stasiun Gubeng. Jam dua dini hari. Alhamdulillah. Kami berpamitan dan mengucapkan "monggo". Kukemas ranselku dan keluar dari stasiun.

"Hei, Papa, I go home."




nb: cerita nonfiksi dengan sedikit penyedap fiksi. Sedikit saja, kok.




Hari ke-2 #30HariMenulisCerita







0 komentar:

Coklat Monggo: Sudut Manis Kotagede yang Bikin Lumer Mulut

23.55 Putri Dewayanti 0 Comments

Sabtu pagi di awal Mei aku menemani Kak Yani di kantornya. Ya, maklum, Sabtu adalah waktuku libur kerja, sementara Kak Yani tidak. Kami berencana jalan-jalan, tetapi memang belum ada rencana mau kemana.

Kemudian aku teringat kalau kantor Kak Yani kan dekat dengan Outlet sekaligus Pabrik Coklat Monggo. Ya, daripada bengong capek duduk, aku pinjam motor Kak Yani untuk ke sana. Berhubung aku penderita oriented disorder atau dalam kamusku disebut buta arah, jadi ada baiknya aku lihat google maps dan petunjuk dari Kak Yani. Lagi pula, orang Jogja kalau memberi petunjuk itu pakai arah mata angin. Ya bakal lebih tidak paham lagi.

Outlet Coklat Monggo berada di Kotagede, Jalan Dalem KG III / 978. Tidak susah, kok. Ancer-ancerannya pun gampang. Perempatan Pasar Kotagede belok kanan, ada Makam Raja Kotagede masih lurus. Jalan Dalem atau Desa Dalem ada di paling ujung jalan. 

Outlet sekaligus pabrik Coklat Monggo (kuliner.panduanwisata.id)

Ketika membuka pintu, aku melihat interior yang menarik dan manis.
Selamat datang

Terdapat bangku untuk istirahat sejenak sambil menikmati coklat.
bangku kayu untuk menunggu kamu

duduk sini enak lho

Di Coklat Monggo, mataku tertuju pada lemari kaca yang memamerkan variasi Coklat Monggo. Dari yang rasa klasik seperti campuran kacang mente, kopi, kacang almon, buah-buahan, rasa pedas, dan cengkeh pun ada. Variasi rasa terbaru adalah rasa rendang (kok aku macam sales). Aku tidak hafal variasinya, sih. Tetapi ada di foto ini kok.









Pelayanannya sangat ramah. Mbak-mbaknya senang mengobrol, tapi tidak gibah lho. Enaknya lagi, disediakan testernya.

Menyesal, sih, cuma ambil satu :(

Aku putuskan untuk membeli Dark Choco, Rendang, almon, kopi, mente, durian. Untuk coklat dengan massa 30 g dibanderol dengan harga Rp 32.000,00 sementara yang kecil (aku lupa massanya berapa), harganya Rp 16.000 rupiah. Ukuran yang besar dan kecil memiliki variasi yang tidak sama. Jadi kalau misal, kalian ingin yang dark choco 69%, kalian harus beli yang besar.


Di sini aku juga bisa melihat cara pembuatan coklat Monggo. Tetapi melihatnya dari jarak yang agak jauh. Dapurnya dibatasi oleh kaca, jadi siapapun bisa melihat. Untuk melihat lebih detil, tidak bisa. Mungkin harus buat perizinan dulu.
Pembeli cukup melihat dari tempat yang disediakan. 


Desain interiornya cukup menarik, selalu menunjukkan khas Kota Jogja yang nyeni




Saya mencicipi semua coklat yang aku beli, semuanya enak. Yang paling enak menurutku yang dark choco 69%. Manis dan pahitnya pas. Lumeran coklatnya benar-benar ingin bilang, "WOY, JAJANIN AKU COKLAT MONGGO SEKARANG."

Oh, ya, coklat Monggo ini dibuat dari coklat belgia. Aku pikir coklatnya asli dari Indonesia. Ya wajar kalau harganya cukup mahal, meskipun ujung-ujungnya terbayar dengan rasanya yang pas.


Oke, sekian cerita dari Desa Dalem Kotagede.










*Oh, ya pas aku melewati pasar, banyak bapak-bapak lagi merubungi batu akik!


0 komentar: