Gadis Es Krim



“Kau mau?” tawarnya sembari menyodorkan sesendok es krim di depanku.

Aku tersenyum simpul melihat gadis di depanku ini. Binar matanya saat melahap es krim menjadi energi potensial yang luar biasa untukku. “Tidak, itu buatmu saja.” 

Mukanya sedikit manyun saat mengetahui aku menolak sodoran es krimnya. Kemudian dia melanjutkan melahap es krim rasa vanilla itu.

Sungguh, aku benar-benar menyukai gadis berambut ikal di depanku. Sudah lama aku memendam perasaan bodoh ini. Perasaan yang kenyataannya tidak akan pernah kuungkapkan sampai kapanpun. Mungkin kalian berpikir aku laki-laki banci yang tidak berani menembak dia. Jangan salah. Sebelumnya, aku telah merencanakan untuk melamar gadis es krimku dengan menyiapkan kejutan di kedai es krim favoritnya ini.

Semua rencana ini tidak ada yag tahu, bahkan Dimas, sahabatku pun tidak kuberi tahu. Aku dan Dimas adalah sahabat yang berbeda prinsip. Prinsipku selalu terencana, sehingga apa yang terjadi adalah sesuai dengan prediksi. Meleset itu pun hanya lima persen. Berbeda dengan Dimas yang cenderung spontanitas. Baginya segala yang spontan itu tantangan.
Tetapi kalian tahu, apa yang direncanakan terkadang kalah dengan apa yang disebut spontanitas. Perencanaan itu terlalu banyak pertimbangan.

Gadis es krimku telah dilamar Dimas.

Aku Bahagia

aku bahagia kita dipertemukan kembali
untuk alasan apapun
untuk tujuan apapun
entah itu hanya sementara atau selamanya
aku tak peduli, aku bahagia
aku menyayangimu

you

Aku tak pernah memikirkanmu, mendoakanmu, bahkan berharap dirimu hadir kembali.
Aku teringat quote yang mengena tentang ini. Ya, aku menemukannya di buku "Surat untuk Ruth" karya Bernard Batubara.

Di saat kita tidak lagi mencari, disitulah kita akan menemukan.

Ya, aku menemukanmu. Menemukan kita.


Sejak saat itu kita sepakat kembali menulis cerita di lembaran baru.



headset

Seringkali kau memanfaatkanku sebagai gaya-gayaan anak muda zaman sekarang. Ah iya, bodiku emang keren sekali.

Tetapi, apa balas budimu? sudah kuupayakan bernyanyi indah membahana di kupingmu. Kau malah memberiku ruang sesak dan berbau.

Hei, Bersihkan KOTORAN telingamu!

Terbang

Alam mulai liar dengan mengeluarkan hujan deras tanpa henti selama hampir satu jam. Sarah melirik jam tangan kemudian bergidik ngeri. Deadline mengumpulkan naskah berita setengah jam lagi, padahal dia harus menempuh perjalanan yang tidak lama.

Akhirnya Sarah memintaku untuk menaunginya dari amukan hujan. Kubiarkan air hujan menusuk kulitku. Aku tak peduli. Yang penting aku melindungi Sarah, dan Sarah memegang erat diriku. Titik.

Seketika si angin datang berhembus hebat. Rasa sakitku semakin terasa dan tak kuasa menahan kombinasi hujan dan angin.

Sarah semakin rapat menggenggamku. Oh, andai aku bisa menggenggamnya juga.

Tubuhnya semakin mengginggil, aku pun menjadi bodoh dan semakin sakit. Ia pun tak sanggup menggenggamku. Terbanglah aku! Mengudara meninggalkan Sarah yang jatuh pingsan di jalan kota. Rasa sakit hilang. Genggaman Sarah tak mencegahku. Aku terbang hingga rongsok.

Selamat tinggal, Sarah! Selamat datang payung yang kedua!