Menjadi Tukang "Bersih" di Jakarta itu Melelahkan
Ada salah satu acara menarik di
channel BBC Knowledge yang menggelitik saya, Toughest Place To Be. Acara
tersebut mirip dengan “Jika Aku Menjadi” yang ditayangkan di Trans TV. Tema
acara yang ditayangkan Senin, 26 Mei 2014 itu menceritakan seorang tukang sampah
asal London yang merasakan menjadi tukang sampah di Jakarta.
Oh ya, dalam tulisan ini frase “tukang
sampah” saya ganti dengan “tukang bersih”. Sejatinya merekalah yang memunguti,
membersihkan sampah kita. Justru pembuangnya lah yang pantas di sebut tukang sampah.
 |
| Wilbur membersihkan tempat sampah dengan kucuran air. | | |
|
Wilbur Remerez, seorang tukang
bersih asal London diminta untuk bekerja selama 10 hari di daerah Guntur,
Jakarta. Wilbur ditemani oleh Imam, yang memang berprofesi sebagai tukang
bersih. Wilbur menemani Imam bekerja seharian. Dari apa yang dilihatnya dari sosok Imam, pekerjaan menjadi
tukang bersih di Jakarta sungguh sangat melelahkan. Tentunya Wilbur telah
membandingkan pekerjaan tukang bersihnya di London dengan di sini. Ya, Imam
harus mengambil sampah dari rumah ke rumah, kemudian membersihkan tempat sampah
(bak sampah) warga dengan air, bahkan mengambil sampah yang menyumbat saluran
drainase warga.
 |
| Wilbur (kiri) dan Imam (kanan) mengangkut sampah |
Menurut Wilbur, pekerjaan ini sungguh di luar batas. Seharusnya membersihkan tempat sampah dilakukan oleh warga, bukan Imam. Terlebih
lagi jika dibandingkan dengan honor yang tidak sepadan dengan biaya hidup,
biaya kesehatan, biaya keluarga, dan lain-lain. Wilbur pun sedih ketika mendengar pernyataan Imam yang kurang lebih seperti ini, "Mereka (warga) hanya ingin rumahnya bersih. Tidak peduli bagaimana sampah ini dikemanakan. Toh, mereka juga sudah membayar kontribusi sampah, meskipun saya rasa tidak sepadan. Terkadang mereka juga tidak mengucapkan terima kasih saat saya ambil sampahnya."
Tak hanya sampai di situ apa yang
dirasakan Wilbur. Sampah yang dikumpulkan tidak dipilah sesuai dengan jenisnya.
Tentu ini akan menambah pekerjaan Imam dalam membersihkan sampah. Belum lagi
dengan proses pengangkutan yang hanya menggunakan gerobak. Penggunaan gerobak sangat
tidak efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa dua jam hanya mendapatkan dua
ratus rumah. Tentu ia membandingkan dengan sistem pengangkutan di London yang
sudah menggunakan truk canggih dari rumah ke rumah.
 |
| Wilbur di TPA Bantar Gebang |
Permasalahan sampah di Jakarta,
menurut Wilbur, tidak hanya masalah proses pengambilan, pemisahan, dan
pengangkutan. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, juga dikeluhkan. TPA
yang sangat besar ini tidak terorganisir dengan baik. Wilbur membayangkan
bagaimana bisa alat berbahaya, seperti ekskavator beroperasi di antara
pemulung-pemulung di gunungan sampah yang memuncak. Hal ini tentu akan
membahayakan si pemulung. Kondisi Bantar Gebang juga sangat memprihatinkan. Di
sana ternyata menjadi tempat tinggal orang-orang yang menggantungkan hidupnya
pada sampah.
 |
| Warga yang tinggal di sekitar Bantar Gebang |
Oke, dari situ biarkan saya
berpendapat. Sejak dari sumber (penghasil sampah), pengelolaan sampah sudah
salah. Sebelum sampah diserahkan ke tukang sampah, sampah harus dipilah sesuai
dengan karakteristiknya. Kita bisa memilahnya dengan sampah kategori organik
dan anorganik. Sisa makanan, daun kering, kertas, tisu, merupakan contoh dari
sampah organik. Sampah organik adalah sampah yang mudah sekali didegradasi
secara biologi. Sedangkan plastik, kaleng, kaca, logam merupakan contoh dari
sampah anorganik. Sampah anorganik adalah sampah yang sukar didegradasi secara
biologi, sehingga harus ada perlakukan khusus untuk jenis sampah ini. Umumnya
sampah anorganik akan dijual kembali ke pengepul. Nah, kalau kita dari awal
sudah memilah, tentu akan memudahkan pekerjaan pemulung kan :) Saya juga sudah membiasakan
memilah sampah di rumah.
Selanjutnya, permasalahan
berikutnya adalah proses pengangkutan. Kalau menurutku ya, agar tidak menambah
pekerjaan tukang bersih, sebaiknya tempat sampah dibuat secara komunal. Jadi
misalkan satu blok rumah, dibuatkan satu tempat sampah sesuai dengan volume
sampah yang dihasilkan. Alat pengangkut bisa dikondisikan sesuai dengnan
finansial maupun efektivitas alat yang melewati suatu daerah. Yang jelas, alat
pengangkutan harus dapat menampung volume sampah dan tertutup agar sanitasi
tetap terjaga. Jam pengambilan sampah juga harus dipertimbangkan. Ini untuk
memudahkan tukang bersih dalam beraktivitas. Kalau misalnya diambil setiap hari
tapi ternyata volume sampah sedikit sekali kan kasihan tukang bersihnya, dan
sebaliknya.
Dan yang krusial adalah TPA.
Sesuai dengan kepanjangannya, TPA merupakan tempat pembuangan akhir. Yang
namanya “akhir”, menurut saya adalah kondisi dimana sampah sudah tidak dapat
dikelola secara prinsip 3R (Reduce,
Reuse, Recycle) yang sederhana. Jadi gampangannya, sampah sudah mentok gak
bisa diolah. Sayangnya, kebanyakan yang di TPA, masih belum dipilah. Jadilah
banyak pemulung yang bekerja di sana.
Umumnya, sampah di TPA hanya
dilakukan teknik open dumping, yang
dasarnya tidak dilapisi lapisan antilindi. Efeknya adalah timbul bau menyengat
dan mencemari tanah dan air tanah. Pengolahan sampah di TPA yang sering
diterapkan adalah pembuatan kompos, pembuatan biogas, pengolahan air lindi, dan
penghancuran sampah plastik. Well, menurutku
pengolahan tersebut efektif, tetapi tidak akan menjadi efektif kalau manajemen
sumberdayanya yang tidak terkoordinir dengan baik.
Nah, itu penjelasan dari sudut pandang sanitasi lingkungan. Sekarang mari kita lihat dari sudut pandang kesejahteraan. Honor tukang bersih tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Imam hanya memikirkan besok makan apa. Kalau dia hanya menggantungkan dengan mengambil sampah, tidak akan mencukupi. Imam juga mengepul sampah yang dapat dijual kembali. Well, seharusnya pemerintah sudah memperhatikan kesejahteraan mereka sebagai pahlawan kebersihan.
Nah, mungkin kita tidak dapat
berkontribusi dalam mengelola sampah dari sumber hingga akhir, ataupun kita tidak dapat menggaji tinggi tukang bersih, tetapi kita dapat
berkontribusi dari lingkungan sekitar rumah, sekolah, kampus, ataupun fasilitas
umum. Kita sebagai tukang sampah juga harus menjadi tukang bersih. Setidaknya kita membuang dan memilah sampah pada tempatnya :)
Satu hal yang berkesan pada acara
Toughest Place To Be adalah saat Wilbur bertanya kepada Imam mengapa ia bisa
bertahan dengan pekerjaan yang sungguh tidak sepadan dengan pengabdiannya.
Jawaban Imam simpel, keluarga. Karena
Imam memiliki istri dan anak yang masih bayi, ia wajib menafkahi mereka. Tidak
peduli sesusah apapun, Imam mengikhlaskan dan bahagia dengan profesi tukang
bersihnya itu :)
0 komentar: