Teman Saya Butuh Inspirasi dan Ini Inspirasiku

21.53 Putri Dewayanti 0 Comments

Menemukan inspirasi bisa dari mana aja lho. Salah satu teman saya, Syahalwyni, mas-mas jago sejarah dari Klub Buku Indonesia (KBI), lagi nulis buku kemudian buntu. Akhirnya dia cari inspirasi ke anak-anak grup KBI. Salah satunya aku.

Begini teksnya (Syahalwyni, 2014)

Kamu tahu apa yang kupikirkan di saat aku menulis surat ini? Aku berusaha untuk tidak memikirkan apa-apa. Fokus kepada apa yang kutulis. Apa hal itu termasuk proses berpikir? "Sebuah tulisan yang begitu adanya..."

Tulisan ini bercerita tentang perspektif diri. Siapa diri itu? Diri itu bisa saja aku atau kamu. Anggap saja diri itu adalah kamu...

***Ini sajak, bukan puisi:

Hi. Kamu yang di sana sedang apa? berikan aku sebait kata-kata agar aku tak lagi murung diselimuti malam tanpa bintang. Tuliskan saja apa yang kamu pikirkan. Apa saja. Asal saja, jangan kautumpahkan kesenangan padaku. Karena kubosan dengan kesenangan yang itu-itu saja. Berikan padaku penderitaan. Mungkin dengan itu aku dapat bertahan hidup untuk hari esok. Mungkin saja penderitaan itu akan membawaku  menuju kebahagiaan yang bukan itu-itu saja.

Jika perspektif diri ini adalah "kamu", apa yang akan kamu ceritakan?

----------------------------------------

Setelah baca itu, aku langsung ngetik...

Betapa susahnya berhenti sejenak untuk tidak memikirkanmu. Tak mengetahui kabarmu seperti harum pagi tanpa embun, siang cerah tanpa teduh, sore indah tanpa senja, dan malam gelap tanpa bintang. Aku tahu kamu berbeda. Kamu bukan tipe orang yang mudah mengatakan bahwa kamu merinduku, mencintaiku, menyayangiku. Karenanya, aku mencoba berlaku dengan berbeda pula. Aku tumpahkan kepada Tuhan segala yang terpendam tentangmu. Aku merindumu dan aku berdoa untukmu.

----------------------------------------

Ceilaaah, aku bisa ngetik puitis macam gitu, tanpa mikir panjang. Nggak tahu kenapa tulisan itu mengalir apa adanya. Seolah-olah perasaan ini bersekongkol dengan jari-jemari.

Well, semoga jawabanku bisa menginspirasi Kak Syahalwyni. Kalau bukunya terbit, kasih satu lah ya buat aku *big hope*

0 komentar:

Menjadi Tukang "Bersih" di Jakarta itu Melelahkan

23.49 Putri Dewayanti 0 Comments


Ada salah satu acara menarik di channel BBC Knowledge yang menggelitik saya, Toughest Place To Be. Acara tersebut mirip dengan “Jika Aku Menjadi” yang ditayangkan di Trans TV. Tema acara yang ditayangkan Senin, 26 Mei 2014 itu menceritakan seorang tukang sampah asal London yang merasakan menjadi tukang sampah di Jakarta.

Oh ya, dalam tulisan ini frase “tukang sampah” saya ganti dengan “tukang bersih”. Sejatinya merekalah yang memunguti, membersihkan sampah kita. Justru pembuangnya lah yang pantas di sebut tukang sampah.

Wilbur membersihkan tempat sampah dengan kucuran air.
Wilbur Remerez, seorang tukang bersih asal London diminta untuk bekerja selama 10 hari di daerah Guntur, Jakarta. Wilbur ditemani oleh Imam, yang memang berprofesi sebagai tukang bersih. Wilbur menemani Imam bekerja seharian. Dari apa yang dilihatnya dari sosok Imam, pekerjaan menjadi tukang bersih di Jakarta sungguh sangat melelahkan. Tentunya Wilbur telah membandingkan pekerjaan tukang bersihnya di London dengan di sini. Ya, Imam harus mengambil sampah dari rumah ke rumah, kemudian membersihkan tempat sampah (bak sampah) warga dengan air, bahkan mengambil sampah yang menyumbat saluran drainase warga. 

Wilbur (kiri) dan Imam (kanan) mengangkut sampah
Menurut Wilbur, pekerjaan ini sungguh di luar batas. Seharusnya membersihkan tempat sampah dilakukan oleh warga, bukan Imam. Terlebih lagi jika dibandingkan dengan honor yang tidak sepadan dengan biaya hidup, biaya kesehatan, biaya keluarga, dan lain-lain. Wilbur pun sedih ketika mendengar pernyataan Imam yang kurang lebih seperti ini, "Mereka (warga) hanya ingin rumahnya bersih. Tidak peduli bagaimana sampah ini dikemanakan. Toh, mereka juga sudah membayar kontribusi sampah, meskipun saya rasa tidak sepadan. Terkadang mereka juga tidak mengucapkan terima kasih saat saya ambil sampahnya."

Tak hanya sampai di situ apa yang dirasakan Wilbur. Sampah yang dikumpulkan tidak dipilah sesuai dengan jenisnya. Tentu ini akan menambah pekerjaan Imam dalam membersihkan sampah. Belum lagi dengan proses pengangkutan yang hanya menggunakan gerobak. Penggunaan gerobak sangat tidak efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa dua jam hanya mendapatkan dua ratus rumah. Tentu ia membandingkan dengan sistem pengangkutan di London yang sudah menggunakan truk canggih dari rumah ke rumah.

Wilbur di TPA Bantar Gebang
Permasalahan sampah di Jakarta, menurut Wilbur, tidak hanya masalah proses pengambilan, pemisahan, dan pengangkutan. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, juga dikeluhkan. TPA yang sangat besar ini tidak terorganisir dengan baik. Wilbur membayangkan bagaimana bisa alat berbahaya, seperti ekskavator beroperasi di antara pemulung-pemulung di gunungan sampah yang memuncak. Hal ini tentu akan membahayakan si pemulung. Kondisi Bantar Gebang juga sangat memprihatinkan. Di sana ternyata menjadi tempat tinggal orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada sampah.

Warga yang tinggal di sekitar Bantar Gebang
Oke, dari situ biarkan saya berpendapat. Sejak dari sumber (penghasil sampah), pengelolaan sampah sudah salah. Sebelum sampah diserahkan ke tukang sampah, sampah harus dipilah sesuai dengan karakteristiknya. Kita bisa memilahnya dengan sampah kategori organik dan anorganik. Sisa makanan, daun kering, kertas, tisu, merupakan contoh dari sampah organik. Sampah organik adalah sampah yang mudah sekali didegradasi secara biologi. Sedangkan plastik, kaleng, kaca, logam merupakan contoh dari sampah anorganik. Sampah anorganik adalah sampah yang sukar didegradasi secara biologi, sehingga harus ada perlakukan khusus untuk jenis sampah ini. Umumnya sampah anorganik akan dijual kembali ke pengepul. Nah, kalau kita dari awal sudah memilah, tentu akan memudahkan pekerjaan pemulung kan :) Saya juga sudah membiasakan memilah sampah di rumah.

Selanjutnya, permasalahan berikutnya adalah proses pengangkutan. Kalau menurutku ya, agar tidak menambah pekerjaan tukang bersih, sebaiknya tempat sampah dibuat secara komunal. Jadi misalkan satu blok rumah, dibuatkan satu tempat sampah sesuai dengan volume sampah yang dihasilkan. Alat pengangkut bisa dikondisikan sesuai dengnan finansial maupun efektivitas alat yang melewati suatu daerah. Yang jelas, alat pengangkutan harus dapat menampung volume sampah dan tertutup agar sanitasi tetap terjaga. Jam pengambilan sampah juga harus dipertimbangkan. Ini untuk memudahkan tukang bersih dalam beraktivitas. Kalau misalnya diambil setiap hari tapi ternyata volume sampah sedikit sekali kan kasihan tukang bersihnya, dan sebaliknya.

Dan yang krusial adalah TPA. Sesuai dengan kepanjangannya, TPA merupakan tempat pembuangan akhir. Yang namanya “akhir”, menurut saya adalah kondisi dimana sampah sudah tidak dapat dikelola secara prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang sederhana. Jadi gampangannya, sampah sudah mentok gak bisa diolah. Sayangnya, kebanyakan yang di TPA, masih belum dipilah. Jadilah banyak pemulung yang bekerja di sana.

Umumnya, sampah di TPA hanya dilakukan teknik open dumping, yang dasarnya tidak dilapisi lapisan antilindi. Efeknya adalah timbul bau menyengat dan mencemari tanah dan air tanah. Pengolahan sampah di TPA yang sering diterapkan adalah pembuatan kompos, pembuatan biogas, pengolahan air lindi, dan penghancuran sampah plastik. Well, menurutku pengolahan tersebut efektif, tetapi tidak akan menjadi efektif kalau manajemen sumberdayanya yang tidak terkoordinir dengan baik.

Nah, itu penjelasan dari sudut pandang sanitasi lingkungan. Sekarang mari kita lihat dari sudut pandang kesejahteraan. Honor tukang bersih tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Imam hanya memikirkan besok makan apa. Kalau dia hanya menggantungkan dengan mengambil sampah, tidak akan mencukupi. Imam juga mengepul sampah yang dapat dijual kembali. Well, seharusnya pemerintah sudah memperhatikan kesejahteraan mereka sebagai pahlawan kebersihan.

Nah, mungkin kita tidak dapat berkontribusi dalam mengelola sampah dari sumber hingga akhir, ataupun kita tidak dapat menggaji tinggi tukang bersih, tetapi kita dapat berkontribusi dari lingkungan sekitar rumah, sekolah, kampus, ataupun fasilitas umum. Kita sebagai tukang sampah juga harus menjadi tukang bersih. Setidaknya kita membuang dan memilah sampah pada tempatnya :)

Satu hal yang berkesan pada acara Toughest Place To Be adalah saat Wilbur bertanya kepada Imam mengapa ia bisa bertahan dengan pekerjaan yang sungguh tidak sepadan dengan pengabdiannya. Jawaban Imam simpel, keluarga. Karena Imam memiliki istri dan anak yang masih bayi, ia wajib menafkahi mereka. Tidak peduli sesusah apapun, Imam mengikhlaskan dan bahagia dengan profesi tukang bersihnya itu :)

0 komentar:

Gadis Es Krim

12.09 Putri Dewayanti 0 Comments



“Kau mau?” tawarnya sembari menyodorkan sesendok es krim di depanku.

Aku tersenyum simpul melihat gadis di depanku ini. Binar matanya saat melahap es krim menjadi energi potensial yang luar biasa untukku. “Tidak, itu buatmu saja.” 

Mukanya sedikit manyun saat mengetahui aku menolak sodoran es krimnya. Kemudian dia melanjutkan melahap es krim rasa vanilla itu.

Sungguh, aku benar-benar menyukai gadis berambut ikal di depanku. Sudah lama aku memendam perasaan bodoh ini. Perasaan yang kenyataannya tidak akan pernah kuungkapkan sampai kapanpun. Mungkin kalian berpikir aku laki-laki banci yang tidak berani menembak dia. Jangan salah. Sebelumnya, aku telah merencanakan untuk melamar gadis es krimku dengan menyiapkan kejutan di kedai es krim favoritnya ini.

Semua rencana ini tidak ada yag tahu, bahkan Dimas, sahabatku pun tidak kuberi tahu. Aku dan Dimas adalah sahabat yang berbeda prinsip. Prinsipku selalu terencana, sehingga apa yang terjadi adalah sesuai dengan prediksi. Meleset itu pun hanya lima persen. Berbeda dengan Dimas yang cenderung spontanitas. Baginya segala yang spontan itu tantangan.
Tetapi kalian tahu, apa yang direncanakan terkadang kalah dengan apa yang disebut spontanitas. Perencanaan itu terlalu banyak pertimbangan.

Gadis es krimku telah dilamar Dimas.

0 komentar:

Aku Bahagia

09.33 Putri Dewayanti 0 Comments

aku bahagia kita dipertemukan kembali
untuk alasan apapun
untuk tujuan apapun
entah itu hanya sementara atau selamanya
aku tak peduli, aku bahagia
aku menyayangimu

0 komentar:

you

09.07 Putri Dewayanti 0 Comments

Aku tak pernah memikirkanmu, mendoakanmu, bahkan berharap dirimu hadir kembali.
Aku teringat quote yang mengena tentang ini. Ya, aku menemukannya di buku "Surat untuk Ruth" karya Bernard Batubara.

Di saat kita tidak lagi mencari, disitulah kita akan menemukan.

Ya, aku menemukanmu. Menemukan kita.


Sejak saat itu kita sepakat kembali menulis cerita di lembaran baru.



0 komentar: