#20FactsaboutMe Angsukma Putri Dewayanti

01.36 Putri Dewayanti 0 Comments

Selamat Cantik dan Tampan semuaaaa...
Kali ini aku ikut meramaikan virus endemik yang mewabah di blog dan instagram. What is it? Yap, Menulis #20FactsaboutMe, ntah itu kebiasaan buruk, baik, ataupun konyolmu. Penularannya simpel banget, cukuplah si empunya virus ngetag kamu di media sosial, dan taraaaaa kalian langsung tertular.

Dan aku pun ikut tertular.

Sebelum membaca #20FactsaboutMe, ada baiknya kalian cari posisi enak sambil ongkang-ongkang dan menyeruput espresso. Ahaa, i like this ritual.

And here we gooooo.

#Fact1 - Angsukma Putri Dewayanti
Yes, itu nama lengkapku. Pernah gak sih kalian dengar nama "Angsukma"? Beberapa bilang namaku itu unik (atau aneh kali ya, tapi mereka gak tega bilang gitu). Nama yang umum kan Anggi, Anggita, Angga gitu ya. Tapi namaku Angsukma.

Beberapa nanya begini:
"Angsukma artinya apa sih?"
"Ang? Ada keturunan Cina?" sambil liat mukaku.
"Dewa? Eh orang Bali ya?
-____________-
Itulah respon orang-orang saat aku mengenalkan diri. Lalu bagaimana aku menjawabnya? Dengan mudahnya aku menjawab, "Aku gak tau. Tanya aja sama papa. Papa yang ngasih nama."
Saking seringnya ditanya begitu, aku protes sama papa. "Pa, kenapa namaku 'Angsukma' sih?"
Eh, Papa langsung ngakak. Hasem. Kemudian Papa bercerita.
Papa: "Dulu Papa pengen kasih nama cina ke kamu. Namamu aslinya 'Ang Giok Nio'."
Aku: (buset dah, nama macam pula itu? mau dikata apa muka jawa nama cina)
Papa: Tapi nggak dibolehin sama Mbah. Orang cina minta nama jawa kok ini malah kebalik. Jadinya tinggal "Ang" aja.
Aku: "Terus Ang artinya apa?"
Papa: "Gak tau. Hahahaha."
Aku: (ya ampun) Kalo nama "Dewa" itu? Aku sering dikatain orang bali!
Papa: Nah, itu nama temennya Papa. Temennya Papa orang bali.
Aku: (no komen)

Jadi dari dialog itu aku masih gagal paham apa arti namaku. Sampai pada perayaan imlek, Papa nonton tv perayaan imlek, kemudian memanggilku.
Papa: "Dari kecil kamu suka warna merah kan?"
Aku: "Yes. Kenapa?"
Papa: "Papa habis dengerin ini nih.." (sambil nunjuk tv) "Angpao artinya amplop merah. Pao itu amplop, dan Ang itu artinya.."
Aku: "Merah" (senyum)
Papa: "Papa nggak salah kasih nama kan?"
Aku: "Hahahahaha"

Akhirnya aku---dan papa baru tahu arti namaku saat umurku sudah hampir kepala dua.

#Fact2: Nama panggilan
Masih ada hubungan dengan #Fact1, aku punya banyaak nama panggilan. Sebenarnya nama panggilku yang asli, hasil titah mama papa adalah Puput. Semua keluarga panggil demikian termasuk teman-teman SD, sampai aku beranjak SMP, nama panggilanku langsung bermacam-macam. Waktu SMP ada yang panggil aku Angsukma, Putri, Ang, Sukma. Iseng juga ada yang panggil Dewa. Lalu SMA, dipanggil Eng. Avatar Aang maksudnya. Itu tuh film anak kecil botak yang digadang-gadang punya empat elemen. Dan aku nggak pernah nonton x))

Sampai kuliahpun aku masih dipanggil Eng. Hingga pada akhirnya aku dipanggil Bos, karena kelakuanku yang semena-mena, jahat, tidak berperikehewanan dengan teman-teman. Hahaha *evil*
Tapi, tenang aja. Kalian panggil aku apa aja, aku masih noleh kok. Sekalipun kalian panggil aku Yanti (bahahahak), aku tetep noleh x))

#Fact3: Suka om-om Westlife
Boyband mana yang paling kece selain Westlife hah? Sini-sini kasih tau aku! Nggak ada yang bisa menandingi Westlife sekalipun boyband Korea. Dari kali pertama debut, sekitar tahun 2000 kalo nggak salah, aku udah klepek-klepek sama boyband satu ini. Especially Mark Feehily yang suaranya naudzubillah tenor banget dan cakepnya itu lho. Aku hafal semua liriknya meskipun pada waktu itu aku belum tahu artinya. Ada juga kebiasaan menempel poster Westlife di dinding kamar yang sempat bikin Papa ngamuk-ngamuk karena cat temboknya rusak terkena selotip poster. Akhirnya Papa cat ulang kamar. Kemudian aku tempeli poster lagi. Papa menyerah. Aku ketawa setan.

#Fact4: Tidak bisa lepas dari kaca mata
Minus mata saya sudah ada pada tahap memprihatinkan, jarak pandang saya kalau tidak pakai kaca mata tidak sampai tiga puluh senti. Cukup menyedihkan mengingat saya pakai kaca mata dari SD. Ini semua gara-gara tren PS (Play Station), jadi seharian main tanpa henti dan walhasil, mata saya nambah dua. Saking ketergantungannya dengan benda ini, sering banget tidur pakai kaca mata. Yah, siapa tahu kamu hadir di mimpi, dan gegara tidur tidak pakai kaca mata, aku tidak menyadari keberadaanmu :'))

Hidup aku tanpa kaca mata seperti pecandu narkoba yang lagi sakau. Pernah suatu kali aku mau solat isya, dan kebiasaanku adalah menaruh kaca mata di sajadah. Dan tidak sampai lima menit, kaca mata tidak sengaja diinjak teman.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa...aku buta-butaaa...."
Aku teriak kencang, membabi buta, jongkok sambil menatap naas kaca mata. Yang menginjak lebih syok lagi, karena takut kena marah.

#Fact5: Sleeping in anyway, anytime, and anywhere
Entah ini bisa dibilang anugerah atau tidak. Kenyataannya aku bisa tidur dimana saja, kapan saja, dalam kondisi apa saja. Kebiasaan ini muncul sejak kuliah, saat bosan dengan materi kuliah. Ya bagiku lebih baik tidur di saat kuliah, daripada ramai sendiri. Kan nggak enak ganggu yang lagi serius mengais ilmu. Hahaha. Kenangan yang memalukan adalah aku ketiduran di gor. Bayangkan saja, di saat semua orang ramai sorak-sorai nonton basket, aku malah pulas tidur sambil duduk. Akhirnya saya jadi bahan gosip kakak kelas.
"Nih anak ajaib banget bisa tidur di gor seramai ini."

#Fact6: Tidak suka daging, tapi suka bakso
Oke, alis kalian berkerut kan? Aku memang tidak suka daging. Daging kambing dan sapi. Ah ya, ini semua gegara aku lihat pemotongan hewan kurban waktu TK. Aku melihat sebilah pisau memotong hidup-hidup leher kambing dan sapi. Seketika itu berliter-liter darah jatuh ke tanah. Aku juga lihat si sapi sampai menangis saat lehernya dipotong. Allahu akbar, sejak saat itu aku ogah makan daging, bahkan steak aku juga tidak pernah makan.
Kalian pasti akan bilang, "Astaga Puput! Kamu nggak pernah makan steak? Hampa sekali hidupmu." 
Kenyataannya steak tidak membuatku hampa (tapi kamu yang membuatku hampa). Jadi kalau aku tidak sengaja mengunyah daging, reaksiku bakal pucat, mual, muntah, lalu menangis. Reaksi yang terakhir terjadi kalau rasa dagingnya menguar di lidah dan susah sekali hilang.
Dan sejak saat itu pula, aku tidak terlalu senang ada Idul Adha. Tidak. Tidak. Aku tidak menyalahkan hari raya itu. Hanya saja aku selalu membayangkan kambing dan sapi yang rela mengurbankan dirinya sendiri untuk dimakan manusia. Sejak saat itu aku mengurbankan kenangan setiap Idul Adha. Baiklah, abaikan kalimat terakhir.

#Fact7: Susah menghafal jalan
Ingatanku payah kalau disuruh menghafal jalan. Harus lewat berkali-kali agar aku tahu rutenya, marka jalannya, dan letak polisi berdiri. Yang terakhir ini penting sekali, karena sekali aku lupa jalan yang mengakibatkan menyalahi marka, polisi akan menyemprit dan memberhentikanku. Sebenarnya aku hafal jalan. Misalnya ya aku tahu Jalan Darmo dekat ini, aku tahu Jalan Basuki Rachmat dekat itu, tapi hafal teknis rute dan rambu wah angkat tangan aku.

#Fact8: Perfeksionis
Aku tidak pernah melabeli diri sebagai orang perfeksionis. Sayangnya di sekitarku menganggap demikian. Ah syudahlah. -Life.

#Fact9: On time
Aku tidak suka telat. Seringkali aku buat janji dengan seseorang dan dia datang terlambat. Kalau misal aku buat janji ketemu jam 8 pagi, aku sudah ada di TKP jam 8 kurang, atau kalaupun telat, tidak lebih dari 15 menit. Kalau benar-benar telat aku akan info maksimal satu jam sebelum ketemu. Aku begini karena tidak mau merugikan orang yang aku buat janji. Karena yang tidak bisa kembali itu waktu. Seringkali juga aku dibuat menunggu. Padahal dia yang menentukan jam. Tidak ada info sekalipun. Di-sms, balasnya otw. Ahelaah aku tidak suka balasan itu. Ketika sampai di TKP malah pringisan sambil bilang, "Sori, jam karet
."
Gini ya, kalau buat janji sama aku sekalian dihitung jam karetnya. Anggap saja jam 8 kamu ketemu aku, jam 8 itu harus sudah termasuk perhitungan jam karet. Kalau kalian ngaret samapi jam 9, ya bilang kalau ketemu jam 9, jangan jam 8. Aku tidak bakal telat kok! Aku menghargai waktumu dan kamu menghargai waktuku x))
Kalau kalian telat, biasanya aku langsung pasang muka jutek. Kalau aku sabar menunggu yang telat itu artinya otak lagi korsleting, atau barangkali aku lagi jatuh cinta.

#Fact10: Suka Patrick Banget
Bintang laut, pink, bodoh, dan gendut. Yes, Patrick Star I love it. Astaga, aku nggak bisa berhenti ketawa dan emosi kalau lihat Patrick lagi bertindak bodoh. Kalian pasti menanggapku aneh karena suka yang begitu -_-ya kan?

Kakakku dulu pernah bilang, "Temenku lho ada yang ngatain gini ke kamu 'Ada ya cewek suka Patrick. Dia unik pasti'."

Baahahahaha, aku ketawa.

#Fact11: Buku
Kalau anak Klub Buku baca #Fact11 udah bosan kali ya. Udah mainsteam katanya. Aku memang suka baca buku. Dengan baca buku, kita bisa belajar banyak hal.

Kok deskripsinya makin sedikit ya

#Fact12: Paling suka merepotkan papa
Ini fakta yang paling durhaka. Aku memang suka merepotkan papa. Papa juga pernah bilang suka kalau aku repotkan. Ya sudah, aku beruntung bukan, punya papa sekeren beliau? x))
Dari kecil aku memang lebih dekat sama papa dibanding mama, ah ya entah kenapa ya. Papa itu yang selalu mengajarkan aku kalau anak perempuan harus mandiri (dan aku mulai menangis).
"Puput, jadi anak perempuan itu harus mandiri. Jangan sampai menyusahkan orang lain. Kalaupun menyusahkan orang lain, orang lain itu haruslah Papa."
Begitu katanya.

Rekor paling merepotkan itu saat Papa dengan baik hatinya mau antar jemput aku dari SMP sampai kuliah semester 2. Astaga, Papa tidak pernah mengeluh untuk yang satu ini. Padahal jarak sekolah (SMP dan SMA) dan kampus tidak pernah sejalan dengan kantornya. Jauh sekali. Papa juga tidak pernah menolak kalau aku minta diantar ke suatu tempat.

"Selama tempatnya ada, Papa siap mengantar kamu kemana saja. Ingat ya, hp Papa ini online 24 jam, kamu bisa telepon Papa kapanpun."

Kurang super apaaa papaku ini.

#Fact13: Jogja lovers
Apa-apa yang berkaitan dengan Jogja, aku suka! Jogja itu romantis.

#Fact14: Baru bisa mengendarai motor pas kuliah semester 3
Kalian kaget kan? Di saat yang lain sudah bisa mengendarai motor pas SD, aku? baru pas kuliah semester 3. Itu pun karena terpaksa. Hahaha. Sebenarnya saya penganut lebih baik naik angkot daripada naik kendaraan pribadi. Biar pun lebih mahal dan lama, setidaknya aku bisa mengurangi kemacetan. Yang paling penting, aku bisa tidur. Lagi pula waktu itu aku masih takut mengendarai motor, karena jalur ke rumahku dilewati truk-truk berbagai model yang kalau saja aku tidak awas mengemudi, nantinya jadi...ya begitulah.
Sampai pada akhirnya, aku pengen cari penghasilan sendiri yang mau tidak mau butuh mobilitas yang lebih cepat. Akhirnya aku bisa mengendarai motor.

#Fact15: Tidak suka minum obat
Rasanya pahit seperti mantan dan kenangan.

#Fact16: Tulisanku tidak pernah sama font-nya
Font tulisanku memang sering berubah-ubah tergantung dari jenis bulpen, kertas, dan mood. Kalau kalian lihat buku catatan kuliahku, pasti beda lembar beda font. Entahlah.

aku sudah pegal mengetik T.T

#Fact17: Suka bertindak di luar kendali
Eeeem oke, hal itu terjadi kalau aku lagi kesal, mood tidak beraturan, dan apa-apa yang aku kerjakan tidak sesuai dengan ekspektasi. Aku sering bingung sendiri, marah-marah sendiri, dan merusak apa-apa di sekitar saya. Jadi kalau aku ada di situasi ini, lebih baik kalian jangan mendekat. Yang sudah jadi korban, maafkan. Hahahaha.

#Fact18: Punya celengan ayam
Menabung pangkal kaya. Aku punya celengan yang isinya uang receh hasil kembalian. Lumayan berat celengannya, cukup buat nimpuk kamu yang hahat sama aku. Fyi, celengan itu dibelikan mama pas aku SD. Alhamdulillah sampai sekarang masih terawat dan tidak rusak. Jumlah rupiahnya aku tidak tahu, aku tidak mau menghitung, karena recehan di celengan aku buat koleksi saja.

#Fact19: Hobi makan seafood
Tidak ada yang bisa mengalahkan kenikmatan seafood meskipun mereka mengandung logam berat. Haha. Aku suka kepiting, udang, lobster, cumi, kakap, tuna. Ah nikmat sekali itu. Di antara mereka,  aku paling suka udang. Paling enak dan murah untuk dijangkau. Satu rumah tahu kalau udang favoritku, jadi kalau ada masakan udang, sementara aku belum makan, pasti disisakan banyak. Pernah suatu kali Papa bercerita saat aku lagi di Kalimantan, "Di rumah ada udang goreng buuesaaar, sayang nggak ada kamu di rumah. Nggak ada yang makan."

#Fact20: Suka negeri Spanyol
Kapan aku bisa ke sana? Astaga aku suka sekali dengan negara ini, apalagi bahasa spanyolnya.
Bienvenido y Buenos dias en mi blog, amiga! Me llamo Puput. Yo vivo en Surabaya. Yo soy muy bonito y amable.


Itu #20FactsaboutMe, and how about you?


thanks


Putri Dewayanti




0 komentar:

Terima Kasih untuk Hari Senin dan Selasanya

00.53 Putri Dewayanti 0 Comments

"Teman adalah seseorang yang mengerti dirimu."

Bisa dibilang aku rindu teman-teman kuliah.
Sudah dua minggu aku  tidak muncul di dunia perkampusan, dan jujur saja itu membuatku rindu canda tawa mereka.

Senin sore, setelah aku selesai dengan urusanku (ceilah), aku membuka grup Line "ITL 2010 Seruuu". Selama ini aku hanya bisa berkomunikasi lewat dunia virtual ini. Hahaha, sok-sokan sibuk sekarang x)

Rama chat di grup
"Yang mau ikut ke Steak and Shake Kayoon, ayo rek. Sama aku dan Adam. Ben gak homo iki."

Huahaha, sumpah aku ketawa baca chat-nya Rama. Kebetulan sekali posisi aku lagi di sekitar PDAM, dan berencana mau ke kampus untuk install office di laptop. Baiklah, baiklah. Sudah kepalang rindu ngobrol bareng, jadinya aku mengiyakan ajakan Rama dan Adam.

Sesampai di kampus waktu magrib. Astaga, ini rekor buat aku. Gimana ya? Zaman masih muda, aku mesti berangkat jam 6 pagi dan pulang setelah magrib/isya. Tidak peduli ada dan tidaknya rapat organisasi dan kepanitian, tugas, laporan, paper, atau apalah. Pulang jam segitu ya karena akrab saja sama teman-teman, kakak, dan adik angkatan. Eh ada sih pertimbangan lain. Rata-rata selesai kuliah jam 4 sore. Dan taulah, kalau pulang jam segitu, akan terjebak macet di Jalan Wonokromo atau Gunung Sari. Jadi mending pulang malam. Enak. Lancar.

Setelah parkir sepeda, saya masuk kampus, dan...
Aku merasa asing di sini.
Astaga, aku kan angkatan tua.

Baiklah, sebaiknya aku solat magrib dulu sebelum menyelesaikan yang lain. Di mushola aku ketemu adik kelas dua tahun di bawahku.
"Mbaaak Aaaaang..."
"Hei..." (senyum)
"Mbak udah lulus yaaa?"
"......"
"Mbak sekarang dimanaa?"
"Di sini." (benar kan?)"

Ya ya begitu lah. Aku enggan meneruskan dialog kami x))

Sholat magrib selesai, aku berjalan menuju entah kemana. Aku cari Rama dan Adam kok tidak ada di sekre, eh cuma adik-adik angkatan doang :|

Pucuk dicinta ulam tiba. Adam chat:
"Ang dimana?"
"Di kampus. Adam dimanaa?"
"Di sekre"

Aku langsung lari. Hahaha, sungguh aku seperti anak hilang, tidak kenal siapa-siapa di kampus.

"Semakin kamu tidak mengenal orang-orang kampus, maka resmilah kamu sebagai mahasiswa tingkat dewa akhir."

Sesuai dengan kesepakatan, Adam dan Rama pergi ke Steak and Shake dulu, karena aku masih install office di kampus.

Dan yeyeaaaaah, akhirnya kami bertiga kumpul. Kami memesan Tuna Black Pepper, kentang lokal, dan Milk Shake. Tidak ada gambar ya, karena kami memang tidak sedang peduli dengan share-share makan, shelfie, apalagi update lokasi.

Sambil makan, kami saling update informasi tentang kuliah dan bagaimana nasib kami ke depannya. Eh, kami di sini memiliki arti angkatan kami ya, bukan kami bertiga. Hihi.

Dan tidak lupa aku menanyakan gosip yang hot di kampus.

Intinya, pertemuan kami bertiga ini saling berdiskusi, sharing pengalaman, sekaligus mendoakan mudah-mudahan kami, calon enjiner, sukses setelah kuliah baik di dunia kerja, pendidikan (yang mau kuliah lagi), dan kekasih. #ea


Terima kasih untuk hari Seninnya, friends :))
cc: Rama (Raja Kebraon), Ang (Ratu Kebraon), dan Adam (Partner Lab)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------


"Girl's talk is so amazing."

Rinduku belum terobati (haha).
Karena kemarin cuma bisa ketemu Rama dan Adam, hari ini, Selasa, aku, Vury, Avifa, Tania, dan Mega meet up.

Girl's day out.

Jadilah kami berlima meet up di Galaxy Mall cuma buat mengobrol. Sebenarnya aku agak malas ke sana, karena posisiku saat itu lagi di Karangpilang. Jauh-jauh ke sana cuma buat mengobrol itu rasanya gimana gitu. Dan lagipula, aku agak nganu dengan GM. Hihihi.

Dan dandananku tidak nge-mall banget.

Kemeja.
Celana pantalon hitam.
Safety shoes.
Ransel dengan isi laptop dan file yang tebalnya naudzubillah.

Jalan-jalan di mall seperti itu, rasanya seperti olah raga punggung dan kaki. It's oke lah, yang penting ketemu teman-teman.

Apa yang terjadi jika kaum perempuan berkumpul? Yihaa, gosip tiada habisnya. Eh sebenarnya tidak cuma gosip. Kami juga bicara fakta kok! 

Seperti biasa, setelahnya kami keluar masuk outlet baju. Jujur saja, aku tidak berminat untuk lihat-lihat, apalagi beli. Secara, baju-baju di sana harganya fantatis dan fungsinya hanya untuk terlihat fashionable. Bagaimana aku bisa ikhlas? Beda lagi kalau aku di toko buku. Bisa kalap saking inginnya punya perpustakaan. So, ketika kami masuk outlet, yang kucari kali pertama adalah KURSI. Tas di punggung ini cukup membuat punggung pegal-pegal. Jadilah aku seperti emak-emak yang menunggu anaknya lihat-lihat baju, sambil menjaga tas mereka -_-

Setelah mereka puas belanja, dan aku puas pegal-pegal, saatnya kami pulang ke rumah kami masing-masing :)

Yes, makasih ya teman-teman sudah meet up (kecup satu-satu).

cc: Ang, Vury Chan, Tania, Afiva, dan Mega(lon)


buzzle.com

0 komentar:

[Review] Setiap Tempat Punya Cerita - LONDON

21.33 Putri Dewayanti 0 Comments

Judul: London - Angel
Penulis: Windry Ramadhina
penerbit: Gagas media
Tebal buku: x + 330 halaman
Rate: 4,5/5 bintang
----------------------------------------------------------------------


Pembaca tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis "Orange", "Memori", dan "Montase", membawa kita menemani seorang penulis berna Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun ternyata tak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemuinya. Apakah perjalanannya kali ini sia-sia belaka?

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"I fell in love with you, I don't know how, I don't know why, I just did "
"I loved you yesterday, I love you still, I always have, I always will..." 

Diawali dengan omongan gila Gilang sambil minum whisky bersama teman-temannya, Akhirnya, penulis roman ini terbang ke London demi mengejar cintanya, Ning. Ning, gadis cantik teman sejak kecilnya telah membuat Gilang terpesona yang akhirnya memutuskan mengabdi di Galeri Tate Modern London sebagai seniman.

Saat tiba di London, Gilang dipertemukan berbagai persoalan yang dihadapi orang-orang sekitarnya. Gilang bertemu dengan V di pesawat yang rupanya pergi ke London untuk bertemu istrinya yang hampir menjadi mantan istri. Gilang juga dihadapi dengan masa lalu Madam Ellis dan Mr. Lowesly, yang kasusnya Mr. Lowesly memiliki rasa cinta yang amat dalam terhadap Madam Ellis.

Lalu bagaimana dengan kelanjutan Gilang dengan Ning?

Alih-alih, ia bertemu dengan Ning di hari pertama di London. Gilang malah bertemu sosok perempuan cantik yang misterius, Goldilocks. Goldilocks muncul hanya pada saat hujan, kemudian hilang dengan cepat saat hujan berhenti. Gilang bertemu dengannya di Bankside saat gerimis. Goldilocks yang berambut ikal ini datang dengan payung merahnya kemudian mengajak Gilang naik London Eye. Tidak ada yang namanya kebetulan. Gilang sering melihat atau bertemu Goldilocks saat hujan. Percaya atau tidak, memang seperti itu. Pertemuan yang bukan kebetulan ini membuat Gilang terus mencari-cari siapa sosok Goldilocks.

Dan saat itulah, Goldilocks menjadi kunci emas (golden lock) seluruh persoalan yang dihadapi Gilang selama di London. Tak luput juga kisahnya dengan Ning.

London Eye - Sungai Thames (http://stock-free-images.com/)

Kisah cintanya dengan gadis pujannya akhirnya berlanjut. Gilang berhasil bertemu dengan Ning. Dan hari-harinya begitu cerah sejak Ning berada di sisinya. Selama di London, Gilang diajak Ning berkeliling Tate Modern, dan tempat-tempat seni lainnya yang sangat digilai Ning. Gilang begitu bahagia. Tapi ia ingat, tujuan dia ke London bukan hanya menghabiskan waktu dengan Ning. Gilang ingin mengatakan bahwa Ning lah satu-satunya wanita yang sukses bertengger di hatinya bertahun-tahun.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Keren !! Windry Ramadhina sukses bikin saya betah baca buku ini. Tulisannya ringan dan mudah dipahami meskipun menggunakan bahasa baku. Dari awal saya baca, tujuan dari buku ini sangat jelas. Gilang mengejar cinta Ning. Meskipun demikian, Windry sukses memasukkan permasalahan lain yang sungguh, begitu menyentuh, tapi tidak merusak alur kisah cinta Gilang. Jujur saja, semua ini berkat tokoh Goldilocks. Goldilocks lah kunci emas dari semua cerita di buku ini. Seperti kunci yang mampu membuka segala pintu. Sungguh saya kagum dengan tokoh Goldilocks ini.

Klimaks cerita ini bikin saya terenyuh, lalu mendadak jantung berdetak lebih cepat (eh, ini serius). Antiklimaksnya pun tidak pernah saya duga.

Windry sanggup membawa pembaca merasakan alur cerita ini, seolah-olah pembaca mampu merasakan apa yang dirasakan Gilang selama di London.


-end-
Thanks x))

0 komentar: