My Turning Point

21.17 Putri Dewayanti 0 Comments

Hai,


Kali ini saya akan bercerita tentang my turning point. Apa itu turning point? Adalah kondisi saat kalian harus kembali ke titik tertentu, titik balik, dari arah yang selama ini membuatmu jatuh atau semacamnya, sehingga kalian bisa menjadi lebih baik.

Ide tulisan ini saya dapat dari Emips, karena dulu saya memiliki cita-cita yang sama dengan Emips.


link gambar

Setelah menempuh pendidikan SMA, tentunya harapan orang tua saya adalah kuliah. Orang tua saya berharap saya kuliah di FK. Ya seperti orang tua pada umumnya. Menurut mereka menjadi dokter adalah pekerjaan yang mulia dan dihormati. Siapa sih yang tidak bangga anaknya dokter? Ya begitulah pemikiran orang tua saya.

Saya pun setuju dan mencoba berbagai seleksi masuk di FK. Demi itu saya habiskan waktu untuk belajar. Saya jarang bermain. Sebagian besar aktivitas saya waktu SMA hanya untuk les dan sekolah. Kemudian saya mencoba tes yang diadakan oleh universitas yang ada FK-nya dan gagal. Seleksi melalui SNMPTN (yang sekarang ini SBMPTN) pun gagal. Akhirnya saya diterima di Ilmu dan Teknologi Lingkungan Universitas Airlangga, sebuah pilihan cadangan sekaligus pilihan terakhir

Tentu saya merasa terpaksa kuliah di sana. Karena dari awal inginnya FK, merasakan kuliah di sana terasa biasa saja. Tetapi untungnya saya bersyukur bertemu teman-teman yang baik, bahkan 'gila'.

Saya mencoba ikut tes SNMPTN lagi di tahun berikutnya, mengambil FK. Sebelumnya saya mencoba paruh waktu untuk belajar materi kuliah dengan materi SNMPTN. Dan ya kembali lagi rezeki saya bukan di FK. Saya menangis? Pasti. Mereka memberi saya dukungan untuk terus meneruskan kuliah. Teman-teman dan dosen wali pun menyemangati.

Dari kegagalan yang berkali-kali itu akhirnya saya berpikir ya saya tidak cocok menjadi dokter. Rezeki saya bukan di sana. Allah tahu itu. Ya seperti firman-Nya, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu."

Dan itu benar. Allah perencana terbaik. Saya mulai belajar menyukai kuliah saya. Tugas-tugas yang diberi dosen membuat saya merasakan "Ini lho yang bikin kamu jatuh cinta sama teknik". Ya bagaimana tidak jatuh cinta, tugasnya membuat saya tidur hanya beberapa jam, sabtu minggu masih mengerjakan tugas perencanaan penuh rumus dan gambar teknik. Awesome pokoknya. Saya juga mengikuti berbagai kepanitian, dan HIMA sebagai wadah berbagi pengalaman dan cerita.

Allah benar-benar menempatkan rezeki saya di sini. Waktu semester 3, saya mendapat tawaran guru les untuk anak kelas 1 SMP. Saya pun dipercaya menjadi asisten dosen kuliah praktikum dan kuliah perencanaan. Saya pernah magang dan tinggal sendirian di Bontang dua bulan lebih. Jujur sejak kecil saya tinggal di Surabaya, ke luar kota hanya untuk wisata, jadi ingin tahu rasanya bagaimana rasanya survive di kota orang. Alhamdulillahnya lagi saya lulus dengan nilai terbaik di jurusan saya. Memang nilai tidak selalu menentukan kesuksesan orang di masa datang, tetapi jika mengingat masa lalu saya, ini adalah sebuah prestasi.

Melewati masa turning point tidaklah mudah, apalagi memulai. Bagi saya itu butuh niat. Saya bersyukur pernah merasakan down, dan saya bersyukur mempunyai keluarga, teman-teman, serta dosen yang selalu mendukung. Terima kasih juga untuk Allah yang telah memberikan cobaan bagaimana harus bangkit ketika gagal, bagaimana harus bersyukur saat yang lain belum mendapat rezeki yang lebih baik dari saya.

Sekian cerita turning point saya.

Oh ya, untuk Emips, semoga cita-cita doktermu tercapai, ya! Teruslah belajar dan berdoa! Emips harus yakin Allah perencana terbaik. Segalanya akan dimudahkan. Amiin.

Untuk Kak Nia, terima kasih telah menjadi ibu suri di KBI selama ini dan menjadi PIC dari segala PIC pembahasan di KBI.



Terima kasih.


Angsukma Putri Dewayanti


Tulisan ini diikutsertakan di dalam #MGANia bulan Maret



0 komentar:

Sudah Sejauh Apa?

20.35 Putri Dewayanti 0 Comments

- Kantor PT Duta Karya, pukul 12.30.

Tugas kantor ini sungguh membuat Aldo lelah. Untuk yang kesekian kalinya Aldo melewatkan jam makan siang demi selesainya laporan presentasi si bos. Sebenarnya dia ingin beranjak untuk menyeduh kopi tetapi tiba-tiba terdengar pop out chat masuk di PC. 

Aldo mengerutkan dahi melihat alamat email itu. Ia putuskan untuk menunda menyeduh kopi. Rasa kantuknya mendadak hilang. Itu chat dari Aditya.
"Apakah Vira baik-baik saja?"
Refleks Aldo melihat perempuan yang duduk berseberangan dengan kubikelnya. Vira asyik dengan PC-nya sembari mendengarkan lagu yang bersuara melalui headset. Selintas mukanya terlihat sedih, tapi Vira tidak pernah menampakkannya secara terang-terangan. Aldo kembali menatap layar kemudian mengetik.

"Kurasa demikian."
Aldo melihat Aditya kembali mengetik sesuatu. Ia menunggu.
"Sudah sejauh apa?"
"Apa maksudmu?"
"Sudah sejauh apa Putri tidak memikirkanku?"
Aldo tertegun. Hubungan kedua sahabatnya ini, Aditya dan Vira, memang tidak berjalan sesuai keinginan mereka. Sejak Adit divonis leukimia beberapa tahun yang lalu, ia akhirnya memutuskan untuk tidak melamar Putri sebagai pendamping hidupnya. Aditya tidak mungkin bisa membahagiakannya. Penyakitnya itu justru membuat Vira menderita. Aditya tidak ingin hal itu terjadi.

Dia kembali menatap Vira kemudian membalas chat-nya.
"Awalnya memang sulit baginya. Dia tidak percaya bahwa hubungan kalian berakhir begitu saja, tanpa ada penyebab. Vira menjadi tertutup dan tidak ingin melakukan apa-apa. Nafsu makannya hilang. Semangatnya hilang. Tapi satu hal yang pasti kita tahu. Waktu adalah obat mujarab penghilang kesedihan. Butuh waktu lama untuk membuatnya mau keluar rumah dan kembali beraktivitas seperti biasa. Tapi sekarang Vira kembali menjadi gadis periang. Dia kembali bersemangat menanggapi sesuatu yang sebenarnya sepele. Tertawanya renyah seperti dulu. Sudah sejauh apa? Sudah sejauh ini dia kembali menemukan kehidupannya."
***

- Rumah Sakit Medikatama, pukul 13.00

Aditya merasakan sakit kepala yang luar biasa. Tubuhnya mengalami nyeri sana-sini. Baru saja dia muntah. Aditya tidak berusaha memencet tombol emergency yang ada di samping bantal. Dia tidak memerlukan itu. Dia sudah tidak memerlukan itu. Kini pernapasannya mendadak sesak. Namun tak urung niatnya untuk membaca kalimat terakhir chat sahabatnya dan tersenyum bahagia.
Sudah sejauh ini dia kembali menemukan kehidupannya."
Dan itulah yang terakhir dilihat Aditya.





0 komentar: