Terima Kasih untuk Hari Senin dan Selasanya

"Teman adalah seseorang yang mengerti dirimu."

Bisa dibilang aku rindu teman-teman kuliah.
Sudah dua minggu aku  tidak muncul di dunia perkampusan, dan jujur saja itu membuatku rindu canda tawa mereka.

Senin sore, setelah aku selesai dengan urusanku (ceilah), aku membuka grup Line "ITL 2010 Seruuu". Selama ini aku hanya bisa berkomunikasi lewat dunia virtual ini. Hahaha, sok-sokan sibuk sekarang x)

Rama chat di grup
"Yang mau ikut ke Steak and Shake Kayoon, ayo rek. Sama aku dan Adam. Ben gak homo iki."

Huahaha, sumpah aku ketawa baca chat-nya Rama. Kebetulan sekali posisi aku lagi di sekitar PDAM, dan berencana mau ke kampus untuk install office di laptop. Baiklah, baiklah. Sudah kepalang rindu ngobrol bareng, jadinya aku mengiyakan ajakan Rama dan Adam.

Sesampai di kampus waktu magrib. Astaga, ini rekor buat aku. Gimana ya? Zaman masih muda, aku mesti berangkat jam 6 pagi dan pulang setelah magrib/isya. Tidak peduli ada dan tidaknya rapat organisasi dan kepanitian, tugas, laporan, paper, atau apalah. Pulang jam segitu ya karena akrab saja sama teman-teman, kakak, dan adik angkatan. Eh ada sih pertimbangan lain. Rata-rata selesai kuliah jam 4 sore. Dan taulah, kalau pulang jam segitu, akan terjebak macet di Jalan Wonokromo atau Gunung Sari. Jadi mending pulang malam. Enak. Lancar.

Setelah parkir sepeda, saya masuk kampus, dan...
Aku merasa asing di sini.
Astaga, aku kan angkatan tua.

Baiklah, sebaiknya aku solat magrib dulu sebelum menyelesaikan yang lain. Di mushola aku ketemu adik kelas dua tahun di bawahku.
"Mbaaak Aaaaang..."
"Hei..." (senyum)
"Mbak udah lulus yaaa?"
"......"
"Mbak sekarang dimanaa?"
"Di sini." (benar kan?)"

Ya ya begitu lah. Aku enggan meneruskan dialog kami x))

Sholat magrib selesai, aku berjalan menuju entah kemana. Aku cari Rama dan Adam kok tidak ada di sekre, eh cuma adik-adik angkatan doang :|

Pucuk dicinta ulam tiba. Adam chat:
"Ang dimana?"
"Di kampus. Adam dimanaa?"
"Di sekre"

Aku langsung lari. Hahaha, sungguh aku seperti anak hilang, tidak kenal siapa-siapa di kampus.

"Semakin kamu tidak mengenal orang-orang kampus, maka resmilah kamu sebagai mahasiswa tingkat dewa akhir."

Sesuai dengan kesepakatan, Adam dan Rama pergi ke Steak and Shake dulu, karena aku masih install office di kampus.

Dan yeyeaaaaah, akhirnya kami bertiga kumpul. Kami memesan Tuna Black Pepper, kentang lokal, dan Milk Shake. Tidak ada gambar ya, karena kami memang tidak sedang peduli dengan share-share makan, shelfie, apalagi update lokasi.

Sambil makan, kami saling update informasi tentang kuliah dan bagaimana nasib kami ke depannya. Eh, kami di sini memiliki arti angkatan kami ya, bukan kami bertiga. Hihi.

Dan tidak lupa aku menanyakan gosip yang hot di kampus.

Intinya, pertemuan kami bertiga ini saling berdiskusi, sharing pengalaman, sekaligus mendoakan mudah-mudahan kami, calon enjiner, sukses setelah kuliah baik di dunia kerja, pendidikan (yang mau kuliah lagi), dan kekasih. #ea


Terima kasih untuk hari Seninnya, friends :))
cc: Rama (Raja Kebraon), Ang (Ratu Kebraon), dan Adam (Partner Lab)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------


"Girl's talk is so amazing."

Rinduku belum terobati (haha).
Karena kemarin cuma bisa ketemu Rama dan Adam, hari ini, Selasa, aku, Vury, Avifa, Tania, dan Mega meet up.

Girl's day out.

Jadilah kami berlima meet up di Galaxy Mall cuma buat mengobrol. Sebenarnya aku agak malas ke sana, karena posisiku saat itu lagi di Karangpilang. Jauh-jauh ke sana cuma buat mengobrol itu rasanya gimana gitu. Dan lagipula, aku agak nganu dengan GM. Hihihi.

Dan dandananku tidak nge-mall banget.

Kemeja.
Celana pantalon hitam.
Safety shoes.
Ransel dengan isi laptop dan file yang tebalnya naudzubillah.

Jalan-jalan di mall seperti itu, rasanya seperti olah raga punggung dan kaki. It's oke lah, yang penting ketemu teman-teman.

Apa yang terjadi jika kaum perempuan berkumpul? Yihaa, gosip tiada habisnya. Eh sebenarnya tidak cuma gosip. Kami juga bicara fakta kok! 

Seperti biasa, setelahnya kami keluar masuk outlet baju. Jujur saja, aku tidak berminat untuk lihat-lihat, apalagi beli. Secara, baju-baju di sana harganya fantatis dan fungsinya hanya untuk terlihat fashionable. Bagaimana aku bisa ikhlas? Beda lagi kalau aku di toko buku. Bisa kalap saking inginnya punya perpustakaan. So, ketika kami masuk outlet, yang kucari kali pertama adalah KURSI. Tas di punggung ini cukup membuat punggung pegal-pegal. Jadilah aku seperti emak-emak yang menunggu anaknya lihat-lihat baju, sambil menjaga tas mereka -_-

Setelah mereka puas belanja, dan aku puas pegal-pegal, saatnya kami pulang ke rumah kami masing-masing :)

Yes, makasih ya teman-teman sudah meet up (kecup satu-satu).

cc: Ang, Vury Chan, Tania, Afiva, dan Mega(lon)


buzzle.com

[Review] Setiap Tempat Punya Cerita - LONDON

Judul: London - Angel
Penulis: Windry Ramadhina
penerbit: Gagas media
Tebal buku: x + 330 halaman
Rate: 4,5/5 bintang
----------------------------------------------------------------------


Pembaca tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye.

Windry Ramadhina, penulis "Orange", "Memori", dan "Montase", membawa kita menemani seorang penulis berna Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun ternyata tak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemuinya. Apakah perjalanannya kali ini sia-sia belaka?

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

"I fell in love with you, I don't know how, I don't know why, I just did "
"I loved you yesterday, I love you still, I always have, I always will..." 

Diawali dengan omongan gila Gilang sambil minum whisky bersama teman-temannya, Akhirnya, penulis roman ini terbang ke London demi mengejar cintanya, Ning. Ning, gadis cantik teman sejak kecilnya telah membuat Gilang terpesona yang akhirnya memutuskan mengabdi di Galeri Tate Modern London sebagai seniman.

Saat tiba di London, Gilang dipertemukan berbagai persoalan yang dihadapi orang-orang sekitarnya. Gilang bertemu dengan V di pesawat yang rupanya pergi ke London untuk bertemu istrinya yang hampir menjadi mantan istri. Gilang juga dihadapi dengan masa lalu Madam Ellis dan Mr. Lowesly, yang kasusnya Mr. Lowesly memiliki rasa cinta yang amat dalam terhadap Madam Ellis.

Lalu bagaimana dengan kelanjutan Gilang dengan Ning?

Alih-alih, ia bertemu dengan Ning di hari pertama di London. Gilang malah bertemu sosok perempuan cantik yang misterius, Goldilocks. Goldilocks muncul hanya pada saat hujan, kemudian hilang dengan cepat saat hujan berhenti. Gilang bertemu dengannya di Bankside saat gerimis. Goldilocks yang berambut ikal ini datang dengan payung merahnya kemudian mengajak Gilang naik London Eye. Tidak ada yang namanya kebetulan. Gilang sering melihat atau bertemu Goldilocks saat hujan. Percaya atau tidak, memang seperti itu. Pertemuan yang bukan kebetulan ini membuat Gilang terus mencari-cari siapa sosok Goldilocks.

Dan saat itulah, Goldilocks menjadi kunci emas (golden lock) seluruh persoalan yang dihadapi Gilang selama di London. Tak luput juga kisahnya dengan Ning.

London Eye - Sungai Thames (http://stock-free-images.com/)

Kisah cintanya dengan gadis pujannya akhirnya berlanjut. Gilang berhasil bertemu dengan Ning. Dan hari-harinya begitu cerah sejak Ning berada di sisinya. Selama di London, Gilang diajak Ning berkeliling Tate Modern, dan tempat-tempat seni lainnya yang sangat digilai Ning. Gilang begitu bahagia. Tapi ia ingat, tujuan dia ke London bukan hanya menghabiskan waktu dengan Ning. Gilang ingin mengatakan bahwa Ning lah satu-satunya wanita yang sukses bertengger di hatinya bertahun-tahun.


------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Keren !! Windry Ramadhina sukses bikin saya betah baca buku ini. Tulisannya ringan dan mudah dipahami meskipun menggunakan bahasa baku. Dari awal saya baca, tujuan dari buku ini sangat jelas. Gilang mengejar cinta Ning. Meskipun demikian, Windry sukses memasukkan permasalahan lain yang sungguh, begitu menyentuh, tapi tidak merusak alur kisah cinta Gilang. Jujur saja, semua ini berkat tokoh Goldilocks. Goldilocks lah kunci emas dari semua cerita di buku ini. Seperti kunci yang mampu membuka segala pintu. Sungguh saya kagum dengan tokoh Goldilocks ini.

Klimaks cerita ini bikin saya terenyuh, lalu mendadak jantung berdetak lebih cepat (eh, ini serius). Antiklimaksnya pun tidak pernah saya duga.

Windry sanggup membawa pembaca merasakan alur cerita ini, seolah-olah pembaca mampu merasakan apa yang dirasakan Gilang selama di London.


-end-
Thanks x))

Olde Cafe Surabaya

Haiii...

Hari minggu kalian kemana, guys?
Alhamdulillah, hari ini aku meet up bareng Mega dan Yanet.
Ya, lama nggak ketemu sih dan lama nggak gossipping.


Kami akhirnya meet up di salah satu kafe  (ciyee anak kafe) di bilangan Kota Surabaya.
Tadaaaa...

Olde Cafe 

photo by: @oldecafe


Dilihat dari lokasinya, kafe ini dibilang cukup strategis di Jalan Polisi Istimewa no. 28 (depan Daun Lada, pas!!). Parkirnya enjoy untuk sepeda motor maupun mobil. Oke udah ada bayangan kan? x)

Kafenya dibagi menjadi dua bagian, indoor dan outdoor. Bagi kalian yang suka ngerokok bolehlah kalian di luar sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Bagi yang nggak, indoor juga asyik kok. Kalo menurutku ya, desain interior maupun eksteriornya cukup cozy.

Interior Olde Cafe

Di outdoor, desainnya didominasi dengan kayu. Meja, kursi, dinding, bahkan lantai serbakayu. Nyaman kok, nggak panas-panas amat meskipun di luar. Nah, di outdoor ini biasanya dijadikan tempat nobar (nonton bareng). Sebenernya aku rada aneh liat ada AC di outdoor. Ntah deh itu dipake atau nggak. Desain lampunya pun cukup unik. Itu tuh, lampu teplok. Lampu tradisional yang biasa dipake mamang nasi goreng jualan.

Eksterior Olde Cafe (1)

Eksterior Olde Cafe (2)

Saat aku masuk di dalem, langsung melotot di "jemuran" testimoni ini nih. Seneng banget liat kertas warna-warni menggantung. Di bawahnya bikin aku makin seneng. Beberapa majalah menumpuk rapi. Langsung deh aku ambil buat dibaca.

asyik yaaa :))

Desain interiornya pun nggak kalah keren sama yang outdoor.  Meja dan kursinya sama dengan yang di outdoor, cuma ketambahan sofa yang empuk (dijamin kalo aku pulang terus liat tuh sofa langsung asal nggeblak aja). Dapurnya juga lumayan luas, buat mobilitas bartendernya nggak susah.
 
yang bareng temen-temen di sini nih duduknya (eh lepiku kepotret )

 buat yang pacaran (hahaha)

Di satu sudut, disedain pula segepok rokok buat kalian yang candu (eits, jangan dihisap di indoor ya, ntar dikeplak yang punya).

apik penataannya


hazelnut frappe
Salah satu yang menjadi daya tarik cafe adalah menunya, baik minuman maupun makanan. Kalo aku sih asal kopinya enak, nggak masalah kalo rasa yang lain standar aja.

Oke, menu yang disediakan Olde Cafe nggak terlalu banyak. Ya standar, ada varian kopi, teh, dan rasa-rasa buah (dan rasa kamu #eh). Hemm, as usual aku pesen kopi, hazelnut frappe.










kwetiau goreng seafood
Makanannya pun ada yang kelas berat dan ada kelas bulu (tinju kali). Aku pesen apa ya namanya -_- lupa. Intinya kwetiau goreng seafood pake telur. Harganya pun pas di kantong anak kuliahan kok, jadi nggak bikin kanker.








                                               Ini nih, quote yang bikin aku jatuh cinta!
uwuwuwuwu, seksi kan quotenya x)



Sekian ulasan Olde Cafe
Yang penasaran, yuk mari dicoba


Thanks for reading x))

Bulan Ramadhan: Surabaya vs Bontang

Marhaban ya ramadhan. Alhamdulillah sebentar lagi kita akan menyambut bulan ramadhan yang penuh berkah. Bulan dimana kita bisa memperbaiki ibadah yang dulu gagal fokus. Aku bersyukur banget bulan ramadhan tahun ini bisa dinikmati bersama keluarga. KELUARGA. Tahun lalu, aku nggak bisa ngerasain enaknya puasa bareng keluarga, lebih-lebih lebaran.

nyobamoto.com

Well, bulan ramadhan tahun kemarin bertepatan dengan aku PKL (Praktik Kerja Lapangan) di PT Badak NGL, Bontang. Sengaja sih waktu yang kuambil dua bulan (kampus ngasih ijinnya maksimal dua bulan). Risiko ambil periode PKL selama itu ya itu tadi, puasa gak bareng keluarga, lebaran sendirian. Terus ya aku mikir, mumpung merantau, kenapa gak dilamain aja sekalian? Toh aku ya pengen tahu sejauh mana aku bisa survive tanpa bantuan keluarga. Awalnya sih niat di Chevron Dumai. Dumai lhooo, di Riau. Eh tapi gak diijinin gegara Riau lagi berasap. Ya sudah deh nyangsang di Bontang. Dan alhamdulillah, aku nggak nyesel PKL di sini.
Oke, kembali ke bulan ramadhan. Kali ini aku pengen nostalgia gimana suka dukanya ngerasain puasa di Bontang jika dibandingkan di Surabaya.


Buka Puasa
Surabaya
Kalo di Surabaya, pastiiii bukanya bareng keluarga kaaan. Ada papa, mama, mas, adek, mbak. Semuanya ngumpul, makan, liat tv, solat. Bukanya pasti di rumah, tak pernah kami buka puasa di luar. Suara adzan kedengeren sampe rumah.
 
Bontang:
 Dari kamarku aku gak denger suara adzan T.T suwediiih. Aku biasanya pantengin LNG TV (TV-nya PT Badak) buat nungguin adzan. Kemudian aku buka puasa di Mess Hall Nam-Nam (Nam-Nam adalah nama mess untuk anak PKL). Oke di sini, buka puasanya ya bareng temen-temen PKL. Buka puasanya empat sehat terlalu sempurna. Aku bisa comot apa saja, secara prasmanan sih. Hih. Bikin gendut kan. Ta'jil disediain, Makanan inti ya ada sup, ayam, ikan, sayur macem-macem. Buah juga disediain. Mau minum susu, teh, kopi, sirup, air putih juga tinggal bikin disediain. Daaaan ada mesin es krim lho. Bisa ambil es krim sesuka hati :D
Kalo dilihat dari menu, memang lebih mantap buka puasa di Bontang ya, tapi apa enaknya sih kalo gak bareng keluarga? 

Solat teraweh
Surabaya:
Solat teraweh bareng mama dan mbak. Kami jalan bareng ke Mushola Al-Muhajirin. Kalo pulang, mesti nunggu papa ketemu di persimpangan jalan. Lalu kami pulang bersama. Nyaaaaaah.

Bontang:
Tentu aja sama temen-temen. Pergi ke masjid naik bis, men! Oke kesannya kami terlihat malas. Jarak mess ke masjid itu kek dari Kampus C ke Gor Bulu tangkis yang deket Galaxy Mall itu. Terkesan jauh kan kalo jalan kaki, tapi keterlaluan dekatnya kalo sampe naik bis. Hahaha.

Sahur
Surabaya:
Aku tipe orang yang gampang tidur, dan susah bangun. Alias ngebo. Kalo sahur, pasti dibangunin mama. Suara mama adalah alarm terbaik. Jadilah aku tak perlu khawatir telat atau gak sahur.

Bontang:
Dibangunin alaaaaareeeeeeeeem. Alarm hp. Kadang gak mempan, akhirnya kesiangan terus gak sahur. Okelah sahur itu hukumnya sunah, tapi kalo puasa wajib kek ramadhan kini kan ya males kalo gak sahur. Aku jomblo pula. Hih. Akhirnya temenku, Tia dan Iva, gak pernah absen gedor pintu kamar dan menyebut namaku sampe aku bangun. Hehehe.

Tadarus:
Surabaya:
jujur aja sih, aku gak pernah tadarus di Surabaya .____.  nakal ya :(

Bontang:
aku tadarus lhoooo :)) biasanya pas nunggu buka dari jam lima sampe setengah tujuh. Oh ya, ini waktu indonesia bagian tengah ya, jadi lebih cepet sejam. Terus lanjut tadarus pas khotbah teraweh. Kenapa tadarus? mungkin ini obat biar gak kangen rumah.

Takbiran
Surabaya:
kagak pernah takbiran, kecuali pas masih jadi santriwati cilik yang cantik. Cuma nonton tv di rumah, atau sibuk chatting ngucapin mohon maaf lahir dan batin.

Bontang:
takbiran dong, keliling Bontang pake mobilnya andik pastinya. Di sini terasa banget feel takbirannya. Setelah takbiran, berhenti buat makan, terus keliling lagi. Dan sampe mess jam setengah satu dini hari. Waktu itu hujan deras.

Idul Fitri
Surabaya:
Hari pertama Idul Fitri kami sekeluarga pulang ke Madura (eits, eyang orang sby kok, cuma tinggal di Madura aja). Semua ngumpul, salam-salaman, ngobrol ngalor-ngidul, makan ini-itu. Ah enak pokoknya. Terus hari kedua, kami sekeluarga unjung-unjung ke rumah tante, om, pakde, dkk sambil makan (lagi). Yah, tradisi yang menyenangkan, apalagi kalo dapet salam tempel. Hehehe

Oke, ini bagian yang aku gak suka. Kami mahasiswa PKL yang gak bisa pulang karena periode PKL belum selesai, mau gak mau ya lebaran di sini. Kami melakukan solat Id di GOR PT Badak bareng karyawan dan keluarganya. Setelah solat Id kami kembali ke mess. Dan apa yang kami lakukan, gaes? Telepon. Ya, sibuk menelepon keluarga. Aku pun demikian. Kami mencari posisi menyendiri dan nyaman untuk komunikasi. Daaan pas aku telepon papa, aku nangis. Suwumpah aku kangen sama laki-laki satu ini. Kemudian hp papa dipindahtangankan ke mama, mas, mbak, kemudian adek. Mereka lebaran bersama tanpa aku :|
 Tapi, lebaran di lingkup PT Badak juga gak kalah enak. Hahaha. Setelah solat Id, GM (General Manager) ngadain open house. Semua boleh bergabung, termasuk kami. Dan selayaknya open house, kami bisa makaaaaaaaaaaaaaaan sepuasnya sampe tumpeh-tumpeh. Jadi, kalo ke sana, perut harus kosong melompong dari makanan berat. 
Setelah puas makan besar, kami memutuskan untuk kembali ke mess. Kami nggak ngerti mau kemana! Dan jadilah aku tidur siang di mess. Oke, ngenes kan, semua orang asyik berkumpul sama keluarga, eh aku malah tidur siang.
Hari kedua lebaran. Kami main golf dan foto-foto. Kurang kerjaan kan. Terus siangnya ke rumah karyawan. Unjung-unjung gitu lah.Ya akhirnya kami berprinsip bahwa karyawan juga keluarga kami. Nyebelinnya hujan, dan gak bawa jas hujan. Jadilah mamel-mamel gitu. Gak ada salam tempel ternyata. Hiks
Oh ya, di tradisi lebaran di Bontang itu unik lho. Tiap rumah, pasti ada cheese cake  dan blackforest. Aku sampe bosen ngeliatnya.

Jadi itulah pengalaman yang aku rasain bulan puasa gak bareng keluarga. Hambar. Tapi ya disyukuri sajalah, toh aku juga menemukan "keluarga" baru di sana :)

Marhaban ya Ramadhan
Mohon maaf lahir dan batin
Happy Fasting :*









Aku menunggumu, gadis fisikaku

Dear, gadis fisika...

Lex I: Corpus omne perseverare in statu suo quiescendi vel movendi uniformiter in directum, nisi quatenus a viribus impressis cogitur statum illum mutare.

Jangan kira aku bisa mengartikan kalimat itu dengan sempurna. Aku payah dalam hal ini. Aku hanya googling "Hukum Newton I" dan kalimat itulah yang keluar. Dan jangan kira aku tertarik dengan fisika, karena aku bukan Newtonian sepertimu. 

Gadis fisika, pernahkah kamu berpikir bahwa tidak bisa melupakanmu termasuk hukum Newton I? Oh ayolah, jangan berpikir seperti yang di buku-buku, yang hanya memberikan contoh klasik orang akan terdorong saat bis mendadak mengerem. Eh maaf, kamu jangan tersinggung ya gadisku. Eh maaf lagi, mantan gadisku.

Itulah yang kurasakan, gadis fisika.
Aku adalah sebuah massa yang tetap dengan kesetiaan konstan tidak bisa melupakanmu. Resultan gaya melupakanmu nol. Aku masih mencintaimu, gadis fisika.

Lucu ya, aku yang tak tahu menahu fisika bisa berpikir seperti ini. Mungkin dirimu lah yang menginspirasi.

Gadis fisika,
Bisakah kita menerapkan hukum Newton III kembali? Saat aku memberikan gaya kepadamu, engkau akan membalasnya dengan besar gaya yang sama. Sama indahnya, sama menggebunya. Mampukah?

Aku menunggumu, gadis fisika(ku).



- Aditya Hadinata -