Laporan Tujuh Menit Lagi

Waktu adalah makhluk tak hidup yang paling egois. Aku percaya itu. Dan waktuku untuk membuat laporan hampir habis. Tujuh menit lagi saya harus kirim email ke atasan. Baiknya aku berpikir sebelum mengerjakan laporan. Sebelum semuanya gagal tanpa rencana.

Setelah berpikir, aku akan menyelesaikan kerjaanku yang sedari tadi terbengkalai. Ya, laporan bulan April baru selesai 70%. Aku tak tahu harus melanjutkan bagaimana. Laporan kali ini berbeda dengan laporan bulan sebelumnya. 

Ah, kurang lima menit...

Sebentar, sebentar. Aku baru ingat kalau Pilon mengirim jadwal rapat di whatsapp. Baiklah, aku harus menyesuaikan jadwal rapat dengan pekerjaanku sendiri, bukan? Aku takut nanti bentrok sehingga tidak ada yang selesai. Yap, selesai. Aku kembali dengan laporan bulan April. Tunggu. Mengerjakan laporan tanpa secangkir kopi apa nikmatnya sih? Aku beranjak dari kursi dan bergegas menyeduh kopi hitam agar lekas kembali ke laporan.

Ah, kurang dua menit...

Oke, amunisi kopi cukup. Saatnya membuka laptop dan mulai mengetik. Eh, kok file laporannya berantakan begini? Astaga aku lupa tidak menyimpan dengan format Ms. Word 2003. Astaga berantakan semuaaaaaaaa. Aku kesal dan eh, ada chat masuk di ponsel.

Eh, kok sudah setengah jam aku pegang ponsel?

ASTAGA!  LAPORAN SAYAAAA!!



My Turning Point

Hai,


Kali ini saya akan bercerita tentang my turning point. Apa itu turning point? Adalah kondisi saat kalian harus kembali ke titik tertentu, titik balik, dari arah yang selama ini membuatmu jatuh atau semacamnya, sehingga kalian bisa menjadi lebih baik.

Ide tulisan ini saya dapat dari Emips, karena dulu saya memiliki cita-cita yang sama dengan Emips.


link gambar

Setelah menempuh pendidikan SMA, tentunya harapan orang tua saya adalah kuliah. Orang tua saya berharap saya kuliah di FK. Ya seperti orang tua pada umumnya. Menurut mereka menjadi dokter adalah pekerjaan yang mulia dan dihormati. Siapa sih yang tidak bangga anaknya dokter? Ya begitulah pemikiran orang tua saya.

Saya pun setuju dan mencoba berbagai seleksi masuk di FK. Demi itu saya habiskan waktu untuk belajar. Saya jarang bermain. Sebagian besar aktivitas saya waktu SMA hanya untuk les dan sekolah. Kemudian saya mencoba tes yang diadakan oleh universitas yang ada FK-nya dan gagal. Seleksi melalui SNMPTN (yang sekarang ini SBMPTN) pun gagal. Akhirnya saya diterima di Ilmu dan Teknologi Lingkungan Universitas Airlangga, sebuah pilihan cadangan sekaligus pilihan terakhir

Tentu saya merasa terpaksa kuliah di sana. Karena dari awal inginnya FK, merasakan kuliah di sana terasa biasa saja. Tetapi untungnya saya bersyukur bertemu teman-teman yang baik, bahkan 'gila'.

Saya mencoba ikut tes SNMPTN lagi di tahun berikutnya, mengambil FK. Sebelumnya saya mencoba paruh waktu untuk belajar materi kuliah dengan materi SNMPTN. Dan ya kembali lagi rezeki saya bukan di FK. Saya menangis? Pasti. Mereka memberi saya dukungan untuk terus meneruskan kuliah. Teman-teman dan dosen wali pun menyemangati.

Dari kegagalan yang berkali-kali itu akhirnya saya berpikir ya saya tidak cocok menjadi dokter. Rezeki saya bukan di sana. Allah tahu itu. Ya seperti firman-Nya, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu."

Dan itu benar. Allah perencana terbaik. Saya mulai belajar menyukai kuliah saya. Tugas-tugas yang diberi dosen membuat saya merasakan "Ini lho yang bikin kamu jatuh cinta sama teknik". Ya bagaimana tidak jatuh cinta, tugasnya membuat saya tidur hanya beberapa jam, sabtu minggu masih mengerjakan tugas perencanaan penuh rumus dan gambar teknik. Awesome pokoknya. Saya juga mengikuti berbagai kepanitian, dan HIMA sebagai wadah berbagi pengalaman dan cerita.

Allah benar-benar menempatkan rezeki saya di sini. Waktu semester 3, saya mendapat tawaran guru les untuk anak kelas 1 SMP. Saya pun dipercaya menjadi asisten dosen kuliah praktikum dan kuliah perencanaan. Saya pernah magang dan tinggal sendirian di Bontang dua bulan lebih. Jujur sejak kecil saya tinggal di Surabaya, ke luar kota hanya untuk wisata, jadi ingin tahu rasanya bagaimana rasanya survive di kota orang. Alhamdulillahnya lagi saya lulus dengan nilai terbaik di jurusan saya. Memang nilai tidak selalu menentukan kesuksesan orang di masa datang, tetapi jika mengingat masa lalu saya, ini adalah sebuah prestasi.

Melewati masa turning point tidaklah mudah, apalagi memulai. Bagi saya itu butuh niat. Saya bersyukur pernah merasakan down, dan saya bersyukur mempunyai keluarga, teman-teman, serta dosen yang selalu mendukung. Terima kasih juga untuk Allah yang telah memberikan cobaan bagaimana harus bangkit ketika gagal, bagaimana harus bersyukur saat yang lain belum mendapat rezeki yang lebih baik dari saya.

Sekian cerita turning point saya.

Oh ya, untuk Emips, semoga cita-cita doktermu tercapai, ya! Teruslah belajar dan berdoa! Emips harus yakin Allah perencana terbaik. Segalanya akan dimudahkan. Amiin.

Untuk Kak Nia, terima kasih telah menjadi ibu suri di KBI selama ini dan menjadi PIC dari segala PIC pembahasan di KBI.



Terima kasih.


Angsukma Putri Dewayanti


Tulisan ini diikutsertakan di dalam #MGANia bulan Maret



Sudah Sejauh Apa?

- Kantor PT Duta Karya, pukul 12.30.

Tugas kantor ini sungguh membuat Aldo lelah. Untuk yang kesekian kalinya Aldo melewatkan jam makan siang demi selesainya laporan presentasi si bos. Sebenarnya dia ingin beranjak untuk menyeduh kopi tetapi tiba-tiba terdengar pop out chat masuk di PC. 

Aldo mengerutkan dahi melihat alamat email itu. Ia putuskan untuk menunda menyeduh kopi. Rasa kantuknya mendadak hilang. Itu chat dari Aditya.
"Apakah Vira baik-baik saja?"
Refleks Aldo melihat perempuan yang duduk berseberangan dengan kubikelnya. Vira asyik dengan PC-nya sembari mendengarkan lagu yang bersuara melalui headset. Selintas mukanya terlihat sedih, tapi Vira tidak pernah menampakkannya secara terang-terangan. Aldo kembali menatap layar kemudian mengetik.

"Kurasa demikian."
Aldo melihat Aditya kembali mengetik sesuatu. Ia menunggu.
"Sudah sejauh apa?"
"Apa maksudmu?"
"Sudah sejauh apa Putri tidak memikirkanku?"
Aldo tertegun. Hubungan kedua sahabatnya ini, Aditya dan Vira, memang tidak berjalan sesuai keinginan mereka. Sejak Adit divonis leukimia beberapa tahun yang lalu, ia akhirnya memutuskan untuk tidak melamar Putri sebagai pendamping hidupnya. Aditya tidak mungkin bisa membahagiakannya. Penyakitnya itu justru membuat Vira menderita. Aditya tidak ingin hal itu terjadi.

Dia kembali menatap Vira kemudian membalas chat-nya.
"Awalnya memang sulit baginya. Dia tidak percaya bahwa hubungan kalian berakhir begitu saja, tanpa ada penyebab. Vira menjadi tertutup dan tidak ingin melakukan apa-apa. Nafsu makannya hilang. Semangatnya hilang. Tapi satu hal yang pasti kita tahu. Waktu adalah obat mujarab penghilang kesedihan. Butuh waktu lama untuk membuatnya mau keluar rumah dan kembali beraktivitas seperti biasa. Tapi sekarang Vira kembali menjadi gadis periang. Dia kembali bersemangat menanggapi sesuatu yang sebenarnya sepele. Tertawanya renyah seperti dulu. Sudah sejauh apa? Sudah sejauh ini dia kembali menemukan kehidupannya."
***

- Rumah Sakit Medikatama, pukul 13.00

Aditya merasakan sakit kepala yang luar biasa. Tubuhnya mengalami nyeri sana-sini. Baru saja dia muntah. Aditya tidak berusaha memencet tombol emergency yang ada di samping bantal. Dia tidak memerlukan itu. Dia sudah tidak memerlukan itu. Kini pernapasannya mendadak sesak. Namun tak urung niatnya untuk membaca kalimat terakhir chat sahabatnya dan tersenyum bahagia.
Sudah sejauh ini dia kembali menemukan kehidupannya."
Dan itulah yang terakhir dilihat Aditya.





Hai Key, Selamat Ulang Tahun dan Selamat Beristirahat

19 Februari 2015

Saya punya kakak kelas yang saya kagumi. Ada dua orang, yang pertama saya temui saat waktu SMP dan yang kedua saat saya kuliah. Mereka memiliki kesamaan yang sama, berkaca mata, dan menurut saya wajahnya cukup senang dilihat (halah). Beberapa hari yang lalu saya terpikirkan untuk menulis keduanya tepat di hari ulang tahun mereka.

Kali ini saya akan menulis idola yang pertama.

Karena saya adalah pengagum rahasia, dan kalian tidak berhak tahu, Saya perkenalkan dirinya dengan sebutan "Key". Inisial namanya "KPA".

Saya bertemu dengan Key saat ospek. Dia adalah salah satu anggota OSIS. Saya suka Key saat kali pertama bertemu. Oke ralat. Saya kagum. Key berkaca mata, tampan, dan suka basket. Ketika ada sesi minta tanda tangan kakak kelas, dengan pedenya saya menyodorkan buku saya untuk ditandatangani olehnya. Padahal, waktu saya minta, tidak ada satu pun yang minta padanya. Saya minta tanda tangannya sendirian.

Ospek selesai bukan berarti kekaguman saya juga selesai. Sebagai seorang pengagum rahasia yang berbudi, saya sering memperhatikannya.

Key kelas 9F, aku kelas 7D.
Key masuk pagi, aku masuk siang.
Key main basket, aku mengamatinya.
Key melewatiku, aku berusaha tidak melihat.

Begitu.

Saya pun berusaha mengorek informasi lebih jauh. Key lahir di Blitar, hari ini, 19 Februari, 25 tahun yang lalu. Anyway, Selamat ulang tahun, Key. Allah loves you much!

Kesenangan saya sebagai pengagum rahasia tidak sampai di situ, saya dapat informasi kalau rumahnya di Kebraon. Woohoooo, kami bertetangga! Biar saya ulangi, KAMI BERTETANGGA.

Setahun kemudian, Key lulus SMP. Key lanjut SMA di Smamda. Saya pernah melihatnya berseragam Smamda. Kalau saya ke sekolah diantar mama, pasti melewati rumah Key. Voila! Saya punya kesempatan untuk melihatnya. Saya pernah melihat Key duduk di teras, memasang kaos kaki sebelum berangkat ke sekolah. Saya juga sering melihat Key mengendarai sepeda sebelum dia naik angkot. Saya sering melihat Key di angkot. Saya sering melihat Key.

Saya juga punya cerita bersama Key. Waktu itu tanggal 1 Januari, saya lupa tahun berapa. Saya memberanikan diri untuk pergi membeli pulsa di Key. Oh ya, Key berjualan pulsa di rumahnya.

"Lho Kak Key?"

Hahahaha. Saya menyapa seolah-olah kaget. Padahal...

Dan kami pun berdialog. Itu adalah kali terakhir saya mengobrol dengan Key.


Hari ini ulang tahunnya. Saya kehilangan kabar Key. Beruntung sekarang ada media sosial. Hanya tulis namanya, dan keluarlah akun Key.

Saya membaca pesan ucapan selamat ulang tahun dari teman-temannya.

Saya membaca pesan mereka.

Mata saya berkaca-kaca.

Key sudah meninggal.

Key meninggal tiga tahun yang lalu, tepat tiga hari setelah hari ulang tahun saya.

Oke, saya syok. Fakta yang harus saya terima adalah Key pergi. Tiga tahun yang lalu. Dan saya baru mengetahuinya di hari ulang tahunnya. Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Yang saya tahu adalah saya tidak pernah melihat Key saat melewati rumahnya. Rumah Key selalu tertutup.

Baiklah, sebagai pengagum rahasia yang baik, tidak ada yang lebih pantas selain mendoakan Key bahagia di sisi Allah. Key orang baik. Saya sayang Key. Semua sayang Key, Allah lebih sayang Key.


Selamat ulang tahun dan beristirahat, Key.







Aku dan Musim Hujan

Aku percaya ketika hujan turun pasti malaikat turun ke bumi.
Entah dalam wujud lelaki tampan berjas hitam,
Atau dalam wujud mamang bakso pinggir jalan.


Aku tidak akan melanjutkan tulisan di atas, karena ujung-ujungnya mellow drama. Aku akan bercerita mengapa diriku begitu suka hujan.

Bagiku hujan adalah anugerah yang diberi Allah saat Surabaya terlalu terik. Maklum Surabaya yang terkenal panas dan polusi, dan ketika hujan turun hawanya terasa menyegarkan.

Cara terbaik menikmati hujan adalah merasakan setiap tetes airnya.

Aku suka hujan-hujan.

Am I childish? What should I care? 

Berawal dari Papa yang tidak suka memakai jas hujan. Kata Papa, "Memakai jas hujan itu ribet. Kalau hujan, ya hujan saja. Basah nggak papa. Toh kalau pakai jas hujan juga tetep basah."

Karena aku selalu antar jemput Papa dari SMP sampai kuliah (hahaha), aku tidak pernah memakai jas hujan. Sederas apapun. Jadi setiap kali hujan turun, aku dan papa berhenti di tempat teduh. Kami memasukkan tas, sepatu, dan jaket ke dalam plastik ukuran polybag yang selalu tersedia di jok motor papa. Jadilah kami hujan-hujan. Aku pakai seragam, Papa pakai kemeja kantornya.

Karena terlalu sering hujan-hujan, saya tidak pernah terkena penyakit akibat hujan. Flu, masuk angin, demam? Alhamdulillah tidak. Kalau aku flu itu pun karena terlalu sering minum es. Aku juga tidak pernah terkena penyakit kulit di kaki, mengingat aku tidak pernah memakai alas kaki saat hujan-hujan.

Saat aku sudah tidak antar jemput lagi, aku tetap tidak mau pakai jas hujan. Sudah kebiasaan :D

Di musim hujan kali ini, sudah terhitung lima kali lebih aku basah kuyub. Pertama kali memakai jas hujan di musim ini, saat selesai kerja, hujan pun tidak kunjung datang. Aku tunggu di kantor sampai jam setengah tujuh. Akhirnya ada orang kantor yang meminjami aku jas hujan. Awalnya aku tidak mau, tapi ya sudahlah. Menolak pertolongan orang itu tidak baik.

Meskipun saya tidak suka pakai jas hujan bukan berarti serta merta tidak pernah pakai. Ada beberapa keadaan yang memaksa aku memakainya:
  1. Saat berangkat, dan kemudian hujan. Ketika berangkat aku dituntut tampil rapi, cantik, dan memesona. Tidak mungkin kan aku datang dengan dandanan berantakan.
  2. Saat mama mulai mengomel. Beda dengan papa, mama selalu menyuruh pakai jas hujan.
Itulah pengalaman aku dan musim hujan. Sesederhana itu.
Bagaimana dengan ceritamu dengan hujan?