#30HariMenulisCerita - Buku Harian


Nama laki-laki itu Harris. Ia pemuda gagah, tampan, dan bersahaja. Harris menikah muda saat umur 23 tahun dengan wanita berumur 22 tahun bernama Harrisa. Harris dan Harrisa. Namanya yang berbeda satu huruf seolah-olah menunjukkan mereka berjodoh sejak lahir. Harris dan Harrisa hidup sederhana di rumah yang hanya memiliki satu dapur, satu kamar mandi, dan satu ruang kosong multifungsi sebagai tempat tidur, berkumpul, atau bertamu.

Mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Harrisa selalu membantu Harris berjualan. Biasanya mereka ambil beberapa dagangan di toko, kemudian menjajahkan dari rumah ke rumah. Dagangannya pun rupa-rupa, mulai dari sembako, peralatan dapur, sapu, dan keset. Mereka memiliki gerobak kecil yang mampu memuat dagangan. Mereka menawarkan barang dagangan dari rumah ke rumah. Upahnya mereka bagi menjadi tiga, untuk kehidupan sehari-hari, sedekah, dan simpanan hari tua.

Harris dan Harrisa sangat suka membaca. Sembari berjualan, mereka sempatkan untuk membaca. Membaca koran bekas, majalah, tulisan di tiang listrik, dan apapun yang berupa rangkaian kata dan gratis. Selain suka membaca, mereka juga suka menulis. Setelah makan malam, mereka selalu menulis semua kegiatan dalam satu hari. Mereka selalu menetapkan poin yang wajib ditulis: apa yang bahagia, apa yang sedih, apa yang disyukuri, dan siapa saja yang ditemui hari itu. Mereka sengaja membuat tulisan agar suatu hari nanti mereka bisa membaca bersama anak dan cucunya.

Sepuluh tahun berlalu. Harrisa menunjukkan kegelisahan. Ia bercerita kepada suaminya mengapa sampai saat ini mereka belum dikaruniai anak. Apa Tuhan berlaku tidak adil? Harrisa menitikkan air mata yang langsung diusap oleh Harris.

"Tuhan selalu punya cara untuk membahagiakan umatnya," ucap Harris tersenyum.

Harris mengecup kening istrinya dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sejak saat itu mereka berjanji untuk tidak saling mengeluh dan lebih bersyukur dengan apa yang mereka dapatkan. Akhirnya mereka memutuskan untuk menghapus poin "apa yang sedih" dalam buku harian. 

Kini usia pernikahan mereka menginjak tiga puluh tahun. Harrisa sudah memasuki usia menopause yang artinya mereka tidak mungkin dikaruniai keturunan. Hebatnya mereka tidak bersedih. Mereka bersyukur dengan apa yang dimiliki. Makan yang cukup, dagangan yang tak pernah sepi, dan tetangga yang murah hati. Kesederhanaan itu sudah membuat mereka bahagia.

Akhirnya mereka memutuskan untuk menghabiskan sebagian uang simpanan hari tua untuk membeli buku-buku bekas di pasar. Harrisa dari dulu berkeinginan memiliki taman baca.

"Kita kan sudah tua. Sudah saatnya pergunakan uang ini," kata Harris tersenyum.

Sejak ada tumpukan buku-buku, rumah mereka tak pernah sepi. Setiap hari anak-anak tetangga selalu datang ke rumah mereka sekadar membaca atau bermain. Melihat hal itu, Harris memutuskan Harrisa di rumah saja menemani anak-anak. Sudah saatnya Harrisa istirahat, dan biarkan ia bekerja sendiri. Semula Harrisa masih ingin membantu suaminya, tapi Harris menolak dengan halus.

"Kausudah cukup menemaniku bekerja. Kini saatnya kau bersenang-senang."

***

Rumah indah, 30 Maret 2014

Apa yang bahagia?
Sudah lima bulan lamanya rumah kami tak pernah sepi. Sejak kami memiliki taman baca, anak-anak tetangga sering mampir ke mari. Sejak saat itu pula, aku pandai bercerita. Aku selalu diminta anak-anak berdongeng. Hari ini aku mendongengkan Alice in Wonderland karya Lewis Carrol. Mereka menikmati dan kesekian kalinya memuji suara merduku.

Apa yang disyukuri?
Aku selalu bersyukur memiliki Harris. Dia suami yang hebat. Dia selalu memberi kehidupan baru untukku setiap pagi. Ia mengajariku banyak hal. Yang paling berkesan adalah saat ia mengatakan bahwa Tuhan selalu punya cara untuk membahagiakan umatnya. Entah dari mana ia bisa berkata seperti itu. Ucapan yang selalu membuatku bersyukur. Kata-kata yang meneduhkan.

Sepuluh tahun kemudian...
Untuk kesekian kalinya Harris duduk di sudut ruang multifungsinya. Usianya yang senja benar-benar .terpancar dari wajahnya. Matanya masih setajam dulu tetapi tidak bisa menyamarkan kedukaan, janggutnya memanjang dan memutih. Ia duduk sembari membuka buku bersampul merah. Buku harian Harris dan Harrisa. Halaman buku yang dibuka tampak kusut seolah-olah menunjukkan halaman itu sudah terlalu sering dibaca. Halaman itu adalah tulisan terakhir mendiang istrinya. 

Keesokan paginya, pada hari terakhir di bulan Maret, Harrisa tidak pernah bangun dari tidurnya. Ia tidur selama-lamanya. Harris hampir gila. Segalanya begitu mendadak. Selama ini istrinya tak pernah mengeluh sakit. Harris akhirnya mengerti bahwa Tuhan bisa mengambil milik-Nya lagi kapanpun Ia mau.

Lagi-lagi Harris menitikkan air mata setiap kali membaca buku harian itu.

Siapa saja yang ditemui hari itu?
Pagi hari aku membangunkan suamiku untuk bersiap-siap bekerja. Selanjutnya aku membacakan dongeng untuk "anak-anakku" yang kini berjumlah lima, yang bernama Aji, Rama, Meita, Retha, dan Vega. Kemarin "anak-anakku" hanya ada tiga. Mudah-mudahan besok "anak-anakku"  semakin banyak yang datang. Amiiiin. Sore harinya, Bu Tina, tetangga kami, memberi semangkok sup ayam untuk makan malam. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena telah menjaga Rama selama ini. Orang yang kutemui terakhir tentu saja suamiku. Harris pulang membawa lima buku anak-anak. Bukan buku bekas. Semuanya buku baru. Katanya, hari ini dia mendapat bonus banyak. Tak lupa, ia memberiku kejutan, sebuah coklat bar untuk dimakan berdua.

Bahagia sesederhana itu, ya.


-end-

#harike-12 #30HariMenulisCerita




#30HariMenulisCerita - Kebiasaan Memakai Helm

Saya pilih selamat

Banyak yang tidak mengerti dengan kebiasaanku satu ini. Dengan mudahnya mereka berkomentar tanpa alasan yang menurutku tidak jelas. Selalu memakai helm saat mengendarai motor itulah kebiasaanku. Lebih kukerucutkan lagi ya maksudnya. Selalu memakai helm saat mengendarai motor meskipun hanya berjarak beberapa ratus meter.

Beberapa dialog yang sering terjadi.
Sukirman: "Ke Indomari saja kok pakai helm?"
Aku: "Nanti kalau jatuh gimana?"
Sukirman: "Mulutnya lho kok bilang begitu!"

Ada pula yang seperti ini.
Sukirwoman: "Ngapain pake helm, kan gak ada polisi."
Aku: "Emang nunggu harus ada polisi baru pakai helm?"

Semuanya berawal dari aku magang di salah satu perusahaan gas di Bontang. Perusahaan tersebut berupa kompleks yang terdiri dari industri, gedung perkantoran, perumahan karyawan, dan lain-lain. Perusahaan tersebut sangat menjunjung tinggi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di mana semua karyawan selama bekerja harus mengutaman kesehatan dan keselamatan. Perusahaan tersebut dijaga sangat ketat, sehingga tidak semua orang bisa masuk. Kalaupun diizinkan masuk, orang tersebut harus paham akan semua peraturan yang diterapkan, terutama peraturan lalu lintas.

Salah satu peraturan lalu lintas yang wajib dipatuhi adalah penggunaan helm saat berkendara motor. Di sini aku baru menyadari betapa pentingnya menggunakan helm. Mari kita berpikir sejenak mengapa harus menggunakan helm.

Ada dialog yang sarkas. Bunyinya seperti ini.
"Kalian tahu mengapa harus pakai helm?"
"Untuk melindungi kepala."
"Mengapa kepala harus dilindungi?"
"Karena terdapat otak di dalamnya."
"Jadi, kalau tidak pakai helm berarti dia tidak punya apa?"

Silakan kalian jawab sendiri sebagai instropeksi diri. Organ otak begitu penting bagi kita. Semua pesan saraf dan rangsangan diatur di sini. Jika otak kalian (maaf) mengalami kecelakaan, kalian paham risiko yang terjadi, kan?

eciyeee

Susah sekali bagi orang di sekitarku memahami kebiasaan sederhana ini. Menurutku kecelakaan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Entah di jalan ramai penuh truk atau di depan rumah yang sepi. Semua kemungkinan itu ada. Kakakku pun pernah jatuh di lapangan sekolahnya saat rodanya terlilit benang layangan. Adikku pernah jatuh di kompleks perumahan. Memang tidak ada luka di kepala, tapi kemungkinan itu pasti ada, kan? Aku tidak menginginkan sampai itu terjadi, tapi siapa tahu, kan?

Oleh karena itu, sejak aku pulang dari magang, kuputuskan untuk memilih selamat dalam berkendara. Ke manapun aku pergi, sedekat apa jaraknya, selama aku berkendara dengan motor, wajib hukumnya menggunakan helm. Dan jangan lupa pastikan klik pada tali pengamannya.



-end-

#harike-11 #30HariMenulisCerita



#30HariMenulisCerita - Sepatu High Heels

red shoes

Coba jelaskan padaku mengapa perempuan itu suka sekali ribet! Aku termasuk orang yang tidak mau ribet, tapi terpaksa harus ribet. Paham maksudku, kan? Aku ribet kalau harus pergi ke acara yang membutuhkan fashion lebih, sepatu high heels salah satunya.

Aku tidak punya sepatu high heels. Masalah? Iya, masalah kalau aku harus pergi ke kondangan. Aku bingung mau pakai sepatu apa. Aku cuma punya tiga sepatu, flat shoes model sporty, sepatu kets, dan safety shoes. Nah, tidak mungkin kalau ke kondangan harus memakai sepatu demikian. Ya, sebenarnya oke-oke saja, cuma kembali lagi: cewek itu suka meribetkan diri.

Kisahku dengan sepatu high heels yang pertama adalah saat acara wisuda. Selain mengenakan toga sudah pasti aku mengenakan pakaian kebaya dengan segala keribetannya. Kalau pakai kebaya, akan terlihat aneh memakai salah satu dari sepatuku, kan? Beli? Ogah. Hahahaha. Jadi, baru beberapa langkah dari taksi yang aku tumpangi, dan ehem...alas high heels-nya lepas, saudaraaaaa. Aku melongo. Ada-ada aja kan, pas punya acara macam gini, sepatu malah rusak,sepatunya mama lagi. Akhirnya, mama menukar sepatunya dengan sepatuku. Uf, aku merasa durhaka.

Acara kondangan teman juga menjadi saksi bahwa aku merusakkan sepatu mamaku lagi. LAGI. Mungkin tingkahku yang petakilan. Sebelum ke lokasi kondangan, aku menuju rumah Retha untuk berangkat bersama. Sayangnya, aku kena macet dan takut telat jadinya aku lewat sela-sela barisan truk dan mobil. Ya, tentunya sepatuku harus bergesekan dengan aspal berkali-kali. Sampai di rumah Retha, tiba-tiba terdengar suara kretek. Hak sepatunya PATAH. Antara ingin tertawa terbahak-bahak dan mengasihani diri sendiri. Akhirnya Retha meminjami wedges setinggi sepuluh senti. Alhamdulillah sepatunya tidak rusak, hanya kakiku saja yang cekit-cekit. Ya bayangkan saja aku memakai sepatu itu untuk berdiri sekitar dua jam dan jalan cepat.

Yang terakhir, adalah saat menemani mama ke acara wisuda muridnya. Baru memarkir motor, dan tiba-tiba alas sepatunya lepas. Duh, Put, duh. Itu sepatunya mbakmu, Put.
         "Kamu itu ada-ada saja..." heran mama.
Lalu apa solusinya? Alas dan sepatunya kuikat dengan karet. Aku berjalan sedikit menyeret.

Ya begitulah. Aku jarang tidak beruntung menggunakan sepatu high heels. Lebih baik aku beli flat shoes yang feminin untuk acara begini. Tidak mungkin kan kalau aku pakai safety shoes!

Perihal gambar red high heels yang kujadikan teman cerita ini sebenarnya tidak terlalu nyambung dengan kekonyolanku. Aku suka warna merah. Red high heels bagiku terkesan hot dan seksi. Jika aku punya sepatu itu pasti hanya kujadikan pajangan. 

-end-


#harike-10 #30HariMenulisCerita

#30HariMenulisCerita - Media Sosial

cek-cek


Wah, sudah jam empat subuh. Sudah kebiasaan kalau menunggu adzan subuh berkumandang, Fariz selalu bermain dengan ponselnya. Memantau media sosial adalah kegiatan di pagi hari yang sama pentingnya dengan kadahajat. Pertama-tama ia mengecek grup whatsapp. Ini penting karena ia gabung di beberapa grup, dan ia tak mau ketinggalan satu berita pun. Bukankah, kita harus kaya informasi agar tidak ketinggalan zaman?

Fariz tertarik membaca percakapan grup. Grup sedang membahas toko daring Lalaza yang seharusnya kirim paket ponsel ke pelanggan malah keliru kirim sabun Nova.

"Fariz, sudah waktunya subuhan!" teriak ibunya dari dapur.
"Ya, Buuuu..." jawab Fariz.

Selanjutnya buka timeline Line dulu. Biasanya si Tio posting status galau. Benar dugaannya, si Tio galalu lagi. "Ini anak butuh dirukiyah, deh, betah banget berkubang di kenangan," batinnya.

Kemarin Fariz tanya ke Gya masalah tugas di Facebook. Jempolnya kini beralih ke ikon Facebook. Fariz sedikit kesal, karena belum dijawab Gya.

Kegiatan memantau akun media sosial berlanjut dengan kunjungan ke Path, Instagram, Twitter, hingga ia tidak sadar kalau waktu sholat subuh sudah habis.



-end-

#harike-9 #30HariMenulisCerita

#30HariMenulisCerita - Pasrahnya Jadi Bola Sepak



Panggil aku bola. Tidak ada yang spesial dari fisikku. Tuhan menciptakan aku dengan sederhana, terbuat dari kulit berbentuk bundar. Sudah, tidak pakai embel-embel rambut, jari, telinga, dkk, dll. Tetapi, Tuhan memberiku rasa.

Umurku baru dua bulan setelah dilahirkan di rumah sakit, eh pabrik maksudku. Sekarang aku tinggal di Lapangan Tambaksari, tepatnya di ruang penyimpanan peralatan sepak bola. Eh, apa sepak bola? Oh, ya, sehari setelah dilahirkan, Tuhan bertelepati. Kata-Nya, suatu hari nanti akan ada peran penting untukku di kompetisi sepak bola bergengsi. Peranku hanya pasrah saja. Aku tidak mengerti maksud pesan itu, tapi Tuhan tidak ingin memberi petunjuk lebih.

Aku merasakan ada seseorang yang membawaku entah ke mana.  Hei aku mau diapakan? Perasaanku ke mana-mana selama dibawanya. Kucoba telepati dengan Tuhan, atau dengan petugas pabrik, tidak diindahkan. Aku merengut. Sebal. Tidak bisa apa-apa.

Semuanya telah terjawab setelah dua jam kemudian. Rupanya peranku seperti ini, toh. Sakit, euy, jadi bola sepak itu. Selama 90 menit pertandingan aku diperlakukan barbar oleh manusia-manusia. Salah satu dari mereka, yang bernama wasit meletakkan aku di lapangan. Rasa gatal akibat rumput-rumput itu membuatku ngeri. Aku tidak punya tangan dan kaki. Bagaimana aku bisa garuk-garuk? Aku hanya bisa pasrah.

Kalian tahu apa yang kampret dari sepak bola? Ya, ketika aku menjauh ke pinggir lapangan, manusia-manusia itu mengejarku. Lelah ia tak peduli. Keringat mengucur ia bodoh amat. Ketika mereka mendekatiku, bukannya diambil, malah ditendang! Nah, kurang kampret apa coba? Tapi toh, aku hanya bisa pasrah.

Sebenarnya ingin sekali protes ke Tuhan, tapi kan dosa. Jadi aku hanya bisa mengampretkan mereka dan memasrahkan diri. Bola bukan malaikat yang selalu tunduk, bukan? Nasibku tidak hanya sampai di situ. Seringkali aku disundul kepala mereka yang rupa-rupa. Kalau aku disundul oleh manusia gundul rasanya panas sekali. Disundul manusia jabrik akunya gatal-gatal, bahkan kesakitan. Belum lagi, kalau aku ditendang kena mistar gawang. Astagaaa, sakitnya tuh di sini!

Satu hal yang tidak kuduga-kuduga adalah aku punya manusia pelindung. Di saat manusia-manusia keji itu menandangku ke sana ke mari, Rupanya ada dia yang selalu berusaha melindungiku. Detik-detik terakhir menjelang pertandingan habis, aku ditendang sekuat tenaga. Rasa sakit menjalar di seluruh kulit. Saat itu pula rasanya aku ingin mati. Namun beberapa detik kemudian aku merasakan pelukan hangat. Dia memelukku, dia menangkapku. Dia menjagaku agar tidak melesak jauh. Aku merasakan dia menatapku dan tersenyum. Aku bersyukur bisa pasrah kali ini. Dan rasanya ingin sekali aku bilang, "Tangkap aku lagi, dong, Bang!"



-end-


#harike- 8 #30HariMenulisCerita