#30HariMenulisCerita - Menyambut Sepi di Kotamu [Part 2 - End]

01.43 Putri Dewayanti 0 Comments

Sampai kosan, aku tersenyum. Eh, kampret, mengapa aku lupa bertanya siapa namanya. Ah, sial. Lupa minta nomor hp-nya pula. Ya, mungkin besok akan bertemu lagi. Sepertinya aku harus sering-sering mengamen di sana. Setelah cuci muka, aku mulai memejamkan mata.

Keesokan malamnya aku mengamen lagi di sekitar PKU. Dia ada! Di warung oseng-oseng mercon yang sama! Kuhampiri dia sembari menyanyikan lagu, khusus untuknya. Dia tersenyum. Kemudian ia menggeser pantatnya untuk memberiku tempat duduk.

"Kau sering makan di sini?" tanyaku.
"Ya, saya suka tempat ini. Oseng-oseng merconnya enak sekali dan pedasnya sungguh terlalu nikmat," ucapnya sambil melihat sekeliling.

Aku bukan peramal, juga bukan seorang psikolog, tapi aku mengerti matanya menyimpan rasa sepi yang dalam dan menyiksa. Seolah-olah berton-ton kenangan menggantung di mata. Nyatanya, bibirnya berkata lain. Kami membicarakan banyak hal, bahkan tertawa. Ya, bibirnya tertawa, tetapi matanya sepi. Kosong.

Hubungan kami hari demi hari terus berlanjut sejak kuputuskan hanya mengamen di sekitar PKU. Setelah makan oseng-oseng mercon, dia menemaniku mengamen dari warung ke warung. Dia menyumbang suaranya yang menurutku agak cempreng. Tak mengapa, kusuka.


***

Malam ini malam minggu, aku akan menemui dia dan mengajak ngopi di Angkringan Tugu. Aku tak membawa gitar. Sekali-kali libur kerja, tidak apa-apa bukan. Kaos oblong terpasang rapi di badan. Celana jins oke! Bunga? Tak perlu, bunga akan layu. Lebih baik kuberi cinta yang tak akan pernah layu dimakan waktu. Lempar bata saja kalau kalimat barusan terdengar menjijikkan.

Hei, kok dia tidak ada? Setiba di warung, tidak ada gadis yang kukenal. Semua yang datang ke sini tidak ada yang sendirian. Tidak mungkin dia ada di warung lain. Keyakinanku tidak sejalan dengan akal sehat. Aku berjalan dari satu warung ke warung lain. Ya, dia tidak ada. Aku nyaris putus asa. Kaosku penuh keringat.

Mungkin dia terlambat. Aku kembali ke warung kali pertama bertemu. Penjual oseng-oseng menghampiriku dan memberi sepucuk kertas yang dilipat rapi.

"Hei, terima kasih, sudah menemaniku selama ini."

Baru kusadari aku tidak pernah tahu namamu, dan demikian kamu tak tahu namaku. Hanya ada inisial "S" di sudut kertas. Dan kamu pergi begitu saja.


***

Pertemuan yang sebentar tapi berkualitas itu membuatku harus mengenyahkan diri dari kota ini. Kuputuskan untuk kembali ke Surabaya. Mencari suasana baru. Sayangnya, Surabaya terlalu hiruk-pikuk. Dimana-mana penuh manusia dengan mobilitas tinggi.

Aku rindu kotamu. Aku ingin pulang ke kotamu. Haru dan biru saling mengaduk dalam rindu. Aku ingin menyusuri warung-warung yang telah kita lewati, meskipun itu artinya aku harus bertengkar dengan akal pikiran. Ya, semuanya masih seperti dulu. Pemilik warung masih mengenalku. Mereka bersahaja. Rupanya mereka paham tujuanku ke mari bukan untuk mengamen, tapi untuk menyambut gadis berinisial "S".

Ya, aku menyambut sepi dikotamu.


- end -







*Cerita yang kubuat terinspirasi dari Kla Project - Yogyakarta.

#harike-5 #30HariMenulisCerita





0 komentar: