#30HariMenulisCerita - Mimpi di Telingaku
![]() |
| My ear dream |
"Kamu percaya mimpi?"
Laki-laki berkaca mata di sampingku menatap sendu langit kota yang memerah, tanda akan menjemput malam. Dia adalah dr. Harris, teman semasa kecil. Kami bertemu saat magang di bagian IGD.
Kami berada di atap rumah sakit. Ini adalah tempat favorit kami untuk beristirahat sejenak dari aktivitas rumah sakit. Kami hanya punya waktu 30 menit untuk mengobrol. Oleh karena itu, kami harus memanfaatkan sebaik-baiknya.
Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Bukan. Bukan pertanyaannya. Tapi bagaimana caranya ia bertanya. Suaranya berbeda. Ada keganjilan di suranya yang tenor itu.
"Tentu, tanpa mimpi aku tak bisa sampai seperti ini," aku tersenyum. Aku menyeruput kopi berharap mampu mengurangi rasa cemas.
"Apa mimpimu kali ini?"
Dahiku berkerut. Berusaha memikirkan apa mimpiku berikutnya.
"Aku tak tahu. Aku cukup puas dengan apa yang kudapat sekarang."
Sekarang giliran dahinya yang berkerut. Kemudian dia tertawa sambil mengacak-acak rambutku. Dia merogoh saku jas putihnya dan menyodorkan sesuatu.
"Dreamcacther!" Ucapku agak keras saat melihat benda lingkaran berwarna biru tua dan bulu angsa berwarna sama yang menggantung.
Dreamcacther itu berbentuk anting. Ukurannya tidak terlalu besar sehingga tidak berat di telinga. Kuucapkan terima kasih saat ia meletakkan kedua anting itu di genggamanku.
"Jadi apa kau sudah punya mimpi?" Ia bertanya sekali lagi.
Aku tersenyum. Anehnya setelah melihat dreamcacther, aku bisa bermimpi. Ya, mimpi yang kuharap bisa menjadi nyata.
"Aku ingin menjadi ibu dari anak-anakmu kelak."
***
"Putri, telingamu memerah. Sepertinya bahan anting sudah tidak cocok dengan kulitmu," dr. Sam mendekati dan mengamati daun telinga kananku. Aku mengelak. Risih. Dr. Sam memegang kedua pundakku. Aku menunduk.
"Putri, aku mengerti itu hadiah dari seseorang yang begitu berharga untukmu. Maaf, kalau aku jahat mengatakan ini, setelahnya Putri boleh membenciku," dr. Sam memberi jedah sejenak. "Aku tahu ini berat untukmu, tapi apa enaknya tinggal di masa lalu? Dr. Harris nyatanya sudah pergi."
Tangisku pecah mendengar namanya. Dr. Sam memelukku, memberikan perlindungan terbaiknya. "Setelah ini Putri boleh membenciku," ia mengulangi.
Seperti kata W.S Rendra, nasib cinta memang siapa yang tahu. Harris telah pergi selama-lamanya. Ia mengalami kecelakaan saat terbang ke Tokyo menemui orang tuanya. Jasadnya pun tak ditemukan. Lima tahun kepergiannya hampir membuatku gila. Memang aku bisa menjalani aktivitas seperti biasa. Segalanya atas dasar profesionalitas. Hidupku seperti mesin. Tetapi, hari-hariku terasa kosong dan sepi.
Dr. Sam menyentuh antingku. Pelan-pelan dia melepas. Aku merintih kecil, karena sakitnya luar biasa. Ya, melepas itu berat. Tapi setelahnya kaubisa melengang dengan ringan.
***
"Mengapa kautidak memberiku dreamcacther yang digantung di pintu?"
"Ada baiknya mimpi kaubawa ke manapun pergi. Agar selalu ingat kaubisa di sini karena ada mimpi yang selalu kausemogakan."
- end -
#harike-6 #30HariMenulisCerita


0 komentar: