#30HariMenulisCerita - Sebuah Perjalanan

00.21 Putri Dewayanti 0 Comments

Stasiun Lempuyangan (dok: pribadi)

"Meskipun kita tahu kemana kereta ini akan melaju, kita tidak akan tahu bagaimana kereta ini melaju." 

Suara kedatangan kereta Gaya Baru Malam memekakakan telingaku. Tak urung, aku tetap berdiri di belakang garis kuning bersiap-siap masuk gerbong. Ya, akhirnya aku pulang ke Surabaya. Tak sabar bertemu mama papa di rumah.

"Sampai bertemu lagi, Yogyakarta," ucapku pelan di bangku saat kereta pelan-pelan menjauhi Stasiun Lempuyangan. Perjalanan malam memang membuat aku tak bisa menikmati pemandangan luar dan akhirnya aku mulai mengedarkan pandangan. Pertama-tama di depan bangkuku ada keluarga kecil dengan satu anak yang kira-kira masih TK. Di kanan kiriku entah siapa, mereka sibuk dengan gawainya.

Aku sering melakukan perjalanan Yogyakarta-Surabaya dengan kereta, daripada bis, apalagi pesawat. Duh, mana kuat uang untuk tiket pesawat. Alasannya sederhana, karena kereta lebih nyaman dan aku sendiri lebih mudah berinteraksi dengan penumpang lainnya, ya meskipun sekadar ngobrol basa-basi.

Anak kecil di depanku ini sungguh aktif berbicara. Dia laki-laki. Lucu menggemaskan. Ya, namanya juga anak kecil. Kalau sudah besar, ya, amit-amit. Anak kecil itu sebenarnya capek terlalu lama sendiri duduk. Perjalanan dengan kereta ekonomi memang lama, karena sering berhenti di beberapa stasiun. Apalagi kereta ini doyan sekali memberi waktu beberapa menit untuk perokok aktif beraktivitas di luar. Ya, dua kali kampret lah lamanya.

Seringnya kereta itu berhenti, membuat sang anak bertanya ke ibunya.
"Mah, keretanya kok berhenti terus."
"Iya, Nak, ban keretanya bocor."
"Lho, Mah, bannya kereta kan dari besi!"

Anak itu mengucapkannya cukup keras. Sontak membuat mama dan papanya tertawa. Tidak hanya mereka, orang si sekitarnya pun yang diam-diam mendengar juga tertawa.

"Anaknya nggak bisa dibohongi, Bu," ucap Kakek yang duduk di bangku sebelah.

Ibunya tertawa. Sebenarnya sang ibu juga ngasal saat menjawab. Ya, mungkin beliau lelah. Kemudian sang kakek memanggil si anak dan mengajaknya salim.

"Sekolah yang pinter, ya, Nak," kata kakek. Si anak mengangguk dan  menyambut tangan sang kakek.

Percakapan sederhana itu membuatku kagum dan terharu. Ya, dua generasi bertemu dan berinteraksi. Yang tua memberi pesan berharga ke yang muda. Keluarga kecil itu turun di Sragen. Mereka berpamitan kepada kami yang masih melanjutkan perjalanan.

Kereta kembali melaju. Sang kakek menceritakan kehidupannya saat masih muda. Ya, saat itu ada pria yang mengajak ngobrol beliau. Terus aku cuma penggembira? Iya, aku orangnya cenderung jadi pendengar. Ya, hanya menanggapi sedikit-sedikit.

Jadi, kakek itu sudah mengelilingi banyak kota di Indonesia. Beliau bekerja sebagai enjiner kapal laut. Kemudian beliau memamerkan cincin yang dipakainya. Bentuknya besar dan aneh, terbuat dari logam berwarna abu-abu. Kalah deh batu akik!

Rupanya cincin itu memiliki makna. Cincin itu adalah kenang-kenangan persahabatan kakek dengan ketiga temannya yang dulu bekerja di pabrik kapal laut. Cincin itu rupanya baut kapal. Jadi baut kapal itu mereka berikan ke pandai besi untuk dibuat empat cincin. Ya, bayangkan saja sebasar apa bautnya.

Obrolan itu menutup perjalanan kami dan sampailah kami di Stasiun Gubeng. Jam dua dini hari. Alhamdulillah. Kami berpamitan dan mengucapkan "monggo". Kukemas ranselku dan keluar dari stasiun.

"Hei, Papa, I go home."




nb: cerita nonfiksi dengan sedikit penyedap fiksi. Sedikit saja, kok.




Hari ke-2 #30HariMenulisCerita







0 komentar: