#30HariMenulisCerita - Pasrahnya Jadi Bola Sepak
Panggil aku bola. Tidak ada yang spesial dari fisikku. Tuhan menciptakan aku dengan sederhana, terbuat dari kulit berbentuk bundar. Sudah, tidak pakai embel-embel rambut, jari, telinga, dkk, dll. Tetapi, Tuhan memberiku rasa.
Umurku baru dua bulan setelah dilahirkan di rumah sakit, eh pabrik maksudku. Sekarang aku tinggal di Lapangan Tambaksari, tepatnya di ruang penyimpanan peralatan sepak bola. Eh, apa sepak bola? Oh, ya, sehari setelah dilahirkan, Tuhan bertelepati. Kata-Nya, suatu hari nanti akan ada peran penting untukku di kompetisi sepak bola bergengsi. Peranku hanya pasrah saja. Aku tidak mengerti maksud pesan itu, tapi Tuhan tidak ingin memberi petunjuk lebih.
Aku merasakan ada seseorang yang membawaku entah ke mana. Hei aku mau diapakan? Perasaanku ke mana-mana selama dibawanya. Kucoba telepati dengan Tuhan, atau dengan petugas pabrik, tidak diindahkan. Aku merengut. Sebal. Tidak bisa apa-apa.
Semuanya telah terjawab setelah dua jam kemudian. Rupanya peranku seperti ini, toh. Sakit, euy, jadi bola sepak itu. Selama 90 menit pertandingan aku diperlakukan barbar oleh manusia-manusia. Salah satu dari mereka, yang bernama wasit meletakkan aku di lapangan. Rasa gatal akibat rumput-rumput itu membuatku ngeri. Aku tidak punya tangan dan kaki. Bagaimana aku bisa garuk-garuk? Aku hanya bisa pasrah.
Kalian tahu apa yang kampret dari sepak bola? Ya, ketika aku menjauh ke pinggir lapangan, manusia-manusia itu mengejarku. Lelah ia tak peduli. Keringat mengucur ia bodoh amat. Ketika mereka mendekatiku, bukannya diambil, malah ditendang! Nah, kurang kampret apa coba? Tapi toh, aku hanya bisa pasrah.
Sebenarnya ingin sekali protes ke Tuhan, tapi kan dosa. Jadi aku hanya bisa mengampretkan mereka dan memasrahkan diri. Bola bukan malaikat yang selalu tunduk, bukan? Nasibku tidak hanya sampai di situ. Seringkali aku disundul kepala mereka yang rupa-rupa. Kalau aku disundul oleh manusia gundul rasanya panas sekali. Disundul manusia jabrik akunya gatal-gatal, bahkan kesakitan. Belum lagi, kalau aku ditendang kena mistar gawang. Astagaaa, sakitnya tuh di sini!
Satu hal yang tidak kuduga-kuduga adalah aku punya manusia pelindung. Di saat manusia-manusia keji itu menandangku ke sana ke mari, Rupanya ada dia yang selalu berusaha melindungiku. Detik-detik terakhir menjelang pertandingan habis, aku ditendang sekuat tenaga. Rasa sakit menjalar di seluruh kulit. Saat itu pula rasanya aku ingin mati. Namun beberapa detik kemudian aku merasakan pelukan hangat. Dia memelukku, dia menangkapku. Dia menjagaku agar tidak melesak jauh. Aku merasakan dia menatapku dan tersenyum. Aku bersyukur bisa pasrah kali ini. Dan rasanya ingin sekali aku bilang, "Tangkap aku lagi, dong, Bang!"
-end-
#harike- 8 #30HariMenulisCerita


0 komentar: