#30HariMenulisCerita - Lukisan Laut di Wajah Rani

14.57 Putri Dewayanti 0 Comments

the sea on the girl face



Hari ini aku mendapat job melukis lagi. Beruntung sekali seniman amatir macam aku tidak pernah sepi pesanan. Rata-rata mereka memintaku melukis dirinya, Mereka bosan hanya dipajang pada sebingkai foto. Menurut mereka lagi, foto itu tidak hidup. Entah, kebanyakan berkata seperti itu.

Sekarang aku di depan pintu apartemen 509. Pintu itu membuka setelah dua kali aku pencet bel. Seorang gadis ada di depanku. Cantik. Cantik sekali. Dia mempersilakanku masuk ke apartemennya. Apartemennya besar tapi tak banyak perabotan, sepertinya dia penghuni baru di sini.

Pelangganku satu ini bernama Rani. Dia ingin lukisan dirinya dipajang di kamar tidurnya. Ia ingin mengagumi diri sebelum terlelap. Rani membuatkanku kopi kemudian pamit untuk berdandan terlebih dahulu. Melihat sekeliling apartemen aku jadi punya ide bagaimana dia dilukis. Kubuka tirai jendela, dan sinar matahari sore masuk menciptakan warna oranye kemerahan yang berpadu dengan tembok putih tulang apartemen ini. Aku menata kursi berwarna putih di dekat jendela.

"Aku sudah siap," Rani menyapa di balik punggungku.

Aku menoleh. Malaikat. Ada malaikat di depanku. Rani cantik sekali. Ia mengenakan gaun tube top berwarna biru laut selutut, menampakkan kulitnya yang putih bersih. Rambutnya yang disemir coklat dikepang samping. "Ya, bagaimana kalau kamu duduk di kursi itu,"

Rani menurut saja. Segera ia duduk. "Duduklah senyaman mungkin," ucapku. Rani duduk tegap. Seolah-olah mau foto KTP. Baru kali ini ada yang minta dilukis dengan model seperti itu.

Sebelum melukis, aku selalu melakukan "ritual" mengamati objek lukisan. Demi sebuah lukisan yang indah ada baiknya kau memakai waktumu untuk mengamati. Rani cantik. Ya, berkali-kali aku mengucapkan hal itu tanpa rasa bosan. Matanya...Hei ada apa dengan matanya?

Kedua matanya menerawang jauh. Tak punya titik fokus. Ia ingin bebas, tapi jiwanya terpasung.  Ia memiliki masa lalu yang kelam, tapi ia ingin menunjukkan dia baik-baik saja. Entahlah itu hanya menurutku. Sebaiknya aku mulai melukis.

Kata teman-temanku yang sesama pelukis amatir, kemampuan melukisku tidak diragukan. Meskipun bukan dari lulusan akademi melukis atau semacamnya, aku paham memainkan cat minyak di atas kanvas. Aku melukis sesuai dengan instingku dan tak pernah memaksa jari-jari melukis jika tak memiliki inspirasi.

Mataku saling beradu antara Rani dan kanvas. Rani dan kanvas. Rani dan kanvas. Mimik muka Rani tenang, tetapi matanya tetap menerawang. Yang kutakutkan alih-alih dia kerasukan. Beberapa menit kemudian mukanya menjadi sendu. Abu-abu. Rani adalah objek melukis yang paling indah yang tidak bisa direncanakan. Pengaturan kursi jendela dan tetek bengeknya menjadi tidak berarti

"Ran, sudah selesai. Coba ke mari!"

Sudah dua jam lebih Rani duduk. Dia melemaskan kaki dan tangannya saat berdiri. Rani menghampiriku untuk melihat hasil lukisannya. "Astaga, indah sekali! Tak salah aku memanggilmu."

Ia mematut-matut dirinya di depan lukisan bak cermin. "Berkali-kali aku memanggil tukang lukis dan berkali-kali aku dikecewakan dengan hasilnya," katanya. "Lihat mukaku, benar-benar menunjukkan ingin lepas dari semua kebohongan dunia. Semua keinginan itu ada di lukisan ini pun sudah diwujudkan. Sekarang aku bisa hidup dengan bahagia." Ia mengucapkan kalimat itu dengan semangat.

Aku tersenyum puas. Sekarang mata rani tidak menerawang. Mimik mukanya tidak sendu lagi. Karena semua energi itu telah dipindah di atas kanvas. 

-end-



#harike-7 #30 HariMenulisCerita

0 komentar: