#30HariMenulisCerita - Secangkir Espresso

23.33 Putri Dewayanti 0 Comments



"Dibalik kesibukan seseorang, ada sesuatu yang ingin dilupakan."


Begitulah yang kulihat dari gadis berambut coklat itu. Setiap malam selama hari kerja, sekitar pukul delapan, dia selalu datang ke Kedai Kopi memesan secangkir espresso dan air putih kemudian duduk di tempat yang dekat colokan. Tempat ini memang jadi andalan dia mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Aku menduga dia seorang wanita kantoran jika dilihat dari rok span dan blouse yang membalut indah tubuhnya.

Aku barista di kedai ini. Wajar saja jika aku mengenal wajah pelanggan yang sering nongol di kedai. Meskipun dia sering ke mari, dia tidak pernah basa-basi dengan kami, para barista. Dia hanya butuh kopi dan tempat yang nyaman. Sekitar pukul sebelas malam dia bergegas pulang. Kami mengucapkan "terima kasih" yang hanya disambut senyum kecil yang menurutku sedikit dipaksakan.

Beberapa minggu kemudian, aku tahu wanita itu bernama Hera. Ternyata Ferdi, tetanggaku, adalah teman sekantornya. Ia bekerja sebagai editor buku fiksi di penerbit Ideabooks. Wajar saja jika dia ke sini selalu membuka laptop. Mengedit naskah cerita memang tidak mudah. Hal lain yang kuketahui dari Ferdi adalah Hera seoarang workaholic. Jam pulang kantor tepat pukul lima sore, tapi Hera tidak pernah pulang tepat waktu. Gadis berambut pirang ini selalu pulang terlambat. Berarti setelah dari kantor dia langsung ke mari, pikirku.

Asli aku dibuat penasaran dengan Hera. Mengapa dia selalu ke mari setelah pulang kantor? Mengapa tidak langsung pulang ke rumah? Kalau aku jadi dia bisa tekor, sih, mengingat secangkir espresso di sini tidaklah murah.

"Dia kok nggak pernah dateng ke kafe sama seseorang sih? tanyaku ke Ferdi saat kami asyik jogging.

"Semenjak kejadian itu dia memang berbeda."

"Apaan?"

"Semua yang bekerja di Ideabooks tahu, setahun yang lalu, Hera sempat mengalami kecelakaan. Kecelakaan tunggal di tol Cipularang saat perjalanan dari  rumah orang tuanya di Bandung menuju Jakarta. Naasnya hanya Hera yang selamat itu pun dia harus dilarikan ke rumah sakit sesegera mungkin. Orang tuanya meninggal di tempat dan..." Ferdi menelan ludah sejenak, "tunangannya juga meninggal. Hera berhasil diselamatkan itu pun dia harus menjalani operasi dan perawatan selama tiga bulan."

"Bagaimana dengan pekerjaannya saat itu?" Aku bertanya penasaran.

"Hera adalah editor terbaik yang kami punya. Beberapa kali dia menjadi translator untuk novel terjemahan. Waktu itu dia memegang dua buku untuk diedit dan dua buku untuk diterjemah. Sempat terbengkalai, dan tim menginginkan diganti orang lain untuk sementara. Sayangnya si bos tidak mau. karena semuanya sudah diproses oleh Hera. Kalau sampai sisanya diganti orang lain, akan beda rasa. Beda hasil. Hebatnya si bos mau menunda proyek ini, dan menanggung risiko dari mundurnya deadline. Setelah keluar dari rumah sakit, sebenarnya Hera dapat cuti untuk recovery, tapi dia tidak mau. Dia bersihkeras tetap masuk."

***

"Espresso satu."

Kali ini giliranku yang menjadi barista. Hera datang lagi tetapi uniknya dia tidak membawa seperangkat alat kerja dan kawan-kawannya. Setelah mendapat espresso, Hera berjalan ke luar kafe. Dia berdiri memandang langit hitam sembari dia menyesap pelan-pelan espressonya. Aku tak bisa melihat ekspresinya karena ia memunggungi kafe. Aku lepas celemekku dan keluar menemuinya.

"Mengapa tidak di dalam saja? Biasanya kan seperti itu," kataku sok akrab.

Hera menoleh kaget. Aku bisa melihat kegugupannya yang ia tutupi dengan menyesap espresso. "Aku butuh angin segar," jawabnya.

"Hei, aku Gilang, namamu siapa?" Basa-basi tidak apa-apa, kan.

"Hera."

"Single bersih atau single kotor?"

Astaga mulut aku ini kenapa sih. Bisa-bisa dikira playboy kesepian. Kuperhatikan alisnya terangkat, dan akhirnya dia pun bertanya.

"Maksudnya?"

"Nggggg..." aku bingung menjelaskan, "Single bersih itu si doi lagi sendiri dan belum ada siapapun yang mengisi hatinya. Kalau single kotor, ya sebaliknya, Neng," jawabku nyengir.

Dia tampak ragu menjawab. Oke, dia tidak jawab tidak apa-apa kok. Namanya juga pertanyaan ngawur. "Single kotor," jawabnya.

"Single kotor gak baik untuk hati dan pikiran, Neng. Aa' bersihkan boleh?"

Dia tersenyum. Untuk kali pertama aku lihat dia tersenyum. Sepertinya ini permulaan yang baik. Tanpa berpikir lama-lama, ia mengangguk.

"Nah, gitu. Sesekali menikmati udara kota Jakarta nggak buruk-buruk amat, kok. "Hera mau espresso lagi? Malam ini beli satu gratis satu!"

***

The best thing about waking up is knowing you have another cup of coffee to enjoy"

Filosofi kopi barusan benar-benar Hera banget. Melupakan seseorang bukan dengan cara sibuk sampai mati. Masih banyak hal indah di dunia ini yang patut kaunikmati, kausyukuri. Kehilangan seseorang dalam sekejap adalah sesuatu yang tidak akan pernah diduga kita sebagai manusia biasa, tapi percayalah hal itu keputusan terbaik Tuhanmu. Tidak ada salahnya harus ikhlas agar bisa menikmati secangkir kebahagian baru.



-end-


#harike-13 #30HariMenulisCerita











0 komentar: