#30HariMenulisCerita - Perjalanan Mudik yang Berbeda

05.00 Putri Dewayanti 1 Comments

Dulu, sebelum ada Jembatan Suramadu, kapal feri adalah satu-satunya transportasi ke Pulau Madura. Pulau Madura, tepatnya di Kamal Bangkalan adalah rumah eyang, ibu dari mamaku. Sebenarnya eyang asli orang surabaya. Dulu tinggal di daerah Kalimas, tetapi akhirnya pindah ke Madura.

Saat mudik lebaran, kalau masih bisa dikatakan mudik mengingat terlalu sering ke sana dan jaraknya dekat, kami sekeluarga konvoi motor ke Madura. Sekeluarga ada enam orang, sehingga mengendarai tiga sepeda motor. Ngomong-ngomong kami tidak memiliki mobil. Pelabuhan Tanjung Perak saat edisi mudik benar-benar ramai minta ampun. Antrian sepeda motor, mobil, dan bis mengular panjang, baik sebelum, tepat, atau sesudah hari H lebaran.

Meskipun kapal feri sudah ditambahkan untuk edisi mudik, tetap saja belum menyanggupi banyaknya penumpang. Sistem buka tutup diterapkan oleh polisi setempat dan kru ASDP (Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan). Panasnya matahari tidak membuat kami lelah menunggu. Penjajah makanan, minuman, dan mainan turut menjadi tontonan kami selama menunggu. Menunggu itu sebenarnya tidak enak, bayangkan saja ketika portal dibuka motor saling berebut agar bisa masuk kapal. Kami sempat apes, pas motor kami di depan portal, eh malah ditutup sama pak polisinya. Oke, menunggu lagi. Lamanya menunggu sekitar dua jam lho. Kalau dihitung-hitung perjalanan dari rumah ke Tanjung Perak sekitar satu jam, mengantri dua jam, menyeberang setengah jam. Habis sudah tiga setengah jam di perjalanan.

Teriknya Madura itu ampun-ampunan lho, apalagi rumah eyang yang dekat Selat Madura. Kipas angin tidak mempan, AC tidak punya. Duduk diam saja sudah mengeluarkan keringat banyak. Percayalah. Jadi sesuatu sekali hari lebaran kami.

Setelah Jembatan Suramadu resmi dibuka, tepatnya di tahun 2009, perjalanan mudik tidak seperti dulu lagi. Orang-orang lebih menyukai menyeberang melalui Suramadu, terutama yang mudik tujuan Kabupaten Pamekasan, Sampang, Sumenep, dan pulau-pulau kecil sekitar Madura. Jembatan terpanjang di Indonesia ini memang memiliki keuntungan lebih dibanding naik kapal feri. Di awal tahun 2009, tarif sepeda motor hanya tiga ribu rupiah, mobil/bis/angkutan umum (golongan I) tiga puluh ribu rupiah saja. Tidak perlu mengantri. Enak kan. Perjalanan selama di jembatan kira-kira 15 20 menit, tidak jauh beda dengan kapal feri.

Di sisi lain, Pelabuhan Tanjung Perak edisi mudik sangat sepi. Kami lebih menyukai kapal feri dengan alasan rumah eyang hanya sepuluh menit dari pelabuhan, dan kami bisa beristirahat di kapal. Dari efisiensi waktu sebenarnya sama saja. Karena sudah tidak ada antrian, kami langsung masuk ke kapal. Perjalanan di kapal memakan waktu 30 menit dan dari Pelabuhan Ujung-Kamal ke rumah eyang hanya 10 menit. Sementara setelah lewat Suramadu, kami harus menempuh perjalanan dari Bangkalan ke rumah Eyang sekitar 20-30 menit. Sayangnya, tiket kapal feri lebih mahal, 9500 rupiah untuk sepeda motor boncengan.

Perbedaan nyata lainnya adalah kios-kios di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak maupun Pelabuhan Ujung tidak sebanyak dulu. Lebih banyak yang tutup, karena sedikitnya orang-orang yang memilih naik kapal feri. Sementara kios-kios ramai di kedua ujung Jembatan Suramadu. Pembangunan infrastruktur selalu ada positif negatifnya. Apalagi bulan Juni lalu, Pak Jokowi menggratiskan tarif Jembatan Suramadu untuk roda dua.

Itulah kisah mudik kami (kalau bisa dianggap mudik).


Bagaimana cerita mudikmu?


-end-



ps: aku tidak mendapati foto mudik, aku kasih bonus foto ini saja ya.

Matahari terbenam di Selamat Madura
Di tengah-tengah Selat Madura

Di lautan kita jaya
Jembatan Suramadu

#Harike-15  #30HariMenulisCerita






1 komentar: