#30HariMenulisCerita - Final Story

19.00 Putri Dewayanti 0 Comments



Hari lebaran telah tiba yang menandakan proyek #30HariMenulisCerita telah usai. Ide awal berasal dari teman-teman Klub Buku Indonesia yang ingin berlatih menulis selama bulan puasa. Bentuk tulisan terserah kita, tema pun bebas, asalkan dalam bentuk cerita. Proyek ini tidak menginginkan menang atau kalah. Proyek #30HariMenulisCerita hanya merupakan ajang untuk berlatih menulis. Jadi selama 30 hari berpuasa kita juga menulis sebanyak 30 cerita.

Jadi apa aku sudah membuat 30 cerita?

ngggg~~

nggaaak :|

Jujur saja, aku ini penulis amatir. Ini proyek menulis pertamaku. Sebenarnya ide itu selalu ada, tapi entah ketika jari-jari berhadapan dengan kibor kok malah buntu. Jadi aku hanya sanggup menulis 16 cerita, termasuk tulisan ini (kalau kalian setuju disebut cerita).

Kalian mau baca #30HariMenulisCerita-ku? Here we go...



Kalian juga bisa membaca punya teman-teman di blog ini:


Terima kasih untuk teman-teman yang sudah berkontribusi. Semoga ada ajang seperti ini lagi agar kemampuan menulis semakin membaik.

Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H. Taqabballahu minna waminkum, taqabbal yaa kariim. Mohon maaf kalau ada salah kata maupun perbuatan.


-finalstory-


#Harike-16 #30HariMenulisCerita

0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Perjalanan Mudik yang Berbeda

05.00 Putri Dewayanti 1 Comments

Dulu, sebelum ada Jembatan Suramadu, kapal feri adalah satu-satunya transportasi ke Pulau Madura. Pulau Madura, tepatnya di Kamal Bangkalan adalah rumah eyang, ibu dari mamaku. Sebenarnya eyang asli orang surabaya. Dulu tinggal di daerah Kalimas, tetapi akhirnya pindah ke Madura.

Saat mudik lebaran, kalau masih bisa dikatakan mudik mengingat terlalu sering ke sana dan jaraknya dekat, kami sekeluarga konvoi motor ke Madura. Sekeluarga ada enam orang, sehingga mengendarai tiga sepeda motor. Ngomong-ngomong kami tidak memiliki mobil. Pelabuhan Tanjung Perak saat edisi mudik benar-benar ramai minta ampun. Antrian sepeda motor, mobil, dan bis mengular panjang, baik sebelum, tepat, atau sesudah hari H lebaran.

Meskipun kapal feri sudah ditambahkan untuk edisi mudik, tetap saja belum menyanggupi banyaknya penumpang. Sistem buka tutup diterapkan oleh polisi setempat dan kru ASDP (Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan). Panasnya matahari tidak membuat kami lelah menunggu. Penjajah makanan, minuman, dan mainan turut menjadi tontonan kami selama menunggu. Menunggu itu sebenarnya tidak enak, bayangkan saja ketika portal dibuka motor saling berebut agar bisa masuk kapal. Kami sempat apes, pas motor kami di depan portal, eh malah ditutup sama pak polisinya. Oke, menunggu lagi. Lamanya menunggu sekitar dua jam lho. Kalau dihitung-hitung perjalanan dari rumah ke Tanjung Perak sekitar satu jam, mengantri dua jam, menyeberang setengah jam. Habis sudah tiga setengah jam di perjalanan.

Teriknya Madura itu ampun-ampunan lho, apalagi rumah eyang yang dekat Selat Madura. Kipas angin tidak mempan, AC tidak punya. Duduk diam saja sudah mengeluarkan keringat banyak. Percayalah. Jadi sesuatu sekali hari lebaran kami.

Setelah Jembatan Suramadu resmi dibuka, tepatnya di tahun 2009, perjalanan mudik tidak seperti dulu lagi. Orang-orang lebih menyukai menyeberang melalui Suramadu, terutama yang mudik tujuan Kabupaten Pamekasan, Sampang, Sumenep, dan pulau-pulau kecil sekitar Madura. Jembatan terpanjang di Indonesia ini memang memiliki keuntungan lebih dibanding naik kapal feri. Di awal tahun 2009, tarif sepeda motor hanya tiga ribu rupiah, mobil/bis/angkutan umum (golongan I) tiga puluh ribu rupiah saja. Tidak perlu mengantri. Enak kan. Perjalanan selama di jembatan kira-kira 15 20 menit, tidak jauh beda dengan kapal feri.

Di sisi lain, Pelabuhan Tanjung Perak edisi mudik sangat sepi. Kami lebih menyukai kapal feri dengan alasan rumah eyang hanya sepuluh menit dari pelabuhan, dan kami bisa beristirahat di kapal. Dari efisiensi waktu sebenarnya sama saja. Karena sudah tidak ada antrian, kami langsung masuk ke kapal. Perjalanan di kapal memakan waktu 30 menit dan dari Pelabuhan Ujung-Kamal ke rumah eyang hanya 10 menit. Sementara setelah lewat Suramadu, kami harus menempuh perjalanan dari Bangkalan ke rumah Eyang sekitar 20-30 menit. Sayangnya, tiket kapal feri lebih mahal, 9500 rupiah untuk sepeda motor boncengan.

Perbedaan nyata lainnya adalah kios-kios di sekitar Pelabuhan Tanjung Perak maupun Pelabuhan Ujung tidak sebanyak dulu. Lebih banyak yang tutup, karena sedikitnya orang-orang yang memilih naik kapal feri. Sementara kios-kios ramai di kedua ujung Jembatan Suramadu. Pembangunan infrastruktur selalu ada positif negatifnya. Apalagi bulan Juni lalu, Pak Jokowi menggratiskan tarif Jembatan Suramadu untuk roda dua.

Itulah kisah mudik kami (kalau bisa dianggap mudik).


Bagaimana cerita mudikmu?


-end-



ps: aku tidak mendapati foto mudik, aku kasih bonus foto ini saja ya.

Matahari terbenam di Selamat Madura
Di tengah-tengah Selat Madura

Di lautan kita jaya
Jembatan Suramadu

#Harike-15  #30HariMenulisCerita






1 komentar:

#30HariMenulisCerita - Kilas Balik Sidang Skripsi

00.00 Putri Dewayanti 0 Comments



Tepat setahun yang lalu, aku menghadapi sidang skripsi untuk menyelesaikan masa studiku di Ilmu dan Teknologi Lingkungan. Lima belas Juli 2014 aku berada di ruang sidang 201. Persiapanku ala kadarnya. Aku tidak merendah, lho. Berlatih presentasi dengan dosen pembimbing hanya sekali. Aku sok sibuk waktu itu :p

Rok hitam, kemeja putih, dan jilbab hitam. Lengkap. Pukul sembilan pagi, aku telah standby di kampus sembari baca santai dan menunggu teman-teman yang membawa konsumsi untuk penguji. Oh, ya, sidang skripsiku ini waktu bulan puasa. Mudah-mudahan barokah. Beberapa menit kemudian teman-teman datang untuk support aku sukses sidang.

"Ang, jas almamatermu mana?" Tanya Mega.

"...."

"Ang gak bawa, ya?"

"Lupaaaa wooooooyy..."

Beruntungnya ada temanku, Romdon, yang selalu menyimpan jas almamater di loker lab. Subhanallaaah, iya kan ada-ada saja aku ini.

Menjelang dzuhur, dosen pembimbingku berpapasan saat beliau selesai memberi kuliah. Aku kikuk, takut nanti gak dibelain saat dibantai penguji lain. Sebut saja namanya Bu Nora. Ketika berpapasan terjadilah dialog singkat.

 "Lho, Ang, tumben pakaiannya rapi!" senyam-senyum coba bikin down aku.

"Kan nanti saya sidang, Bu..."

"Oh, jadi sidang?" 

Skakmat. Teman-teman pada tertawa. Iseng benar dosen satu ini. Bu Nora memang tipikal dosen gaul yang hobi isengin mahasiswanya, termasuk aku. Katanya di antara mahasiswa bimbingannya yang paling susah diatur itu aku. Hahahahahaaaa.

Usai sholat dzuhur, aku dan teman-teman bergegas ke ruang sidang. Tentu saja sidangnya tertutup. Teman-teman menunggu di luar. Ada empat penguji, dua diantaranya adalah dosen pembimbing. Skripsiku tentang penelitian pengolahan air limbah dengan judul, "Pengaruh Organic Loading Rate (OLR) terhadap Efisiensi Penyisihan Chemical Oxygen Demand (COD) dan Total Suspended Solids (TSS) pada Anaerobic Filter". Kalian cukup tahu judulnya saja, ya. Kalian tidak tega kan suruh aku menceritakan singkat skripsiku seperti apa. Presentasi skripsi berlangsung selama lima belas menit dan dilanjutkan tanya jawab oleh penguji selama satu jam. Yap, tiap dosen mendapat jatah bertanya 25 menit.

Dua puluh lima menit termasuk waktu yang singkat atau tidak? Entahlah, selama tanya jawab aku tidak memikirkan waktu. Yang jelas selama satu jam aku dibantai pertanyaan-pertanyaan--yang--tentu--aku--kesulitan--menjawab. Ya maklum otak pas-pasan begini. Malu ah kalau aku harus cerita seperti apa aku dibantai. Aib, sungguh /.\

Usai sidang, aku diminta menunggu di luar ruangan untuk memberi kesempatan mereka berdiskusi apa aku layak lulus atau tidak. Membuka pintu ruang sidang itu anugerah banget, seolah-olah aku kekurangan oksigen di dalam. Alay? Bodo amat. Sepuluh kemudian aku masuk ruangan kembali. Alhamdulillah aku lulus. Malam harinya aku merevisi skripsiku, untung tidak banyak revisi. Esoknya aku ke kampus lagi menyerahkan skrispi. Bu Nora melongo melihat aku datang menyerahkan revisian.

"Beneran sudah selesai?"

"Sudah, bu," meringis.

"Sudah diperiksa penguji 4?"

"Sudah."

"Penguji 3?"

"Sudah," ketawa dalam hati.

Bu Nora akhirnya menerima revisiku. Alhamdulillaaah, lancaar. Setelah revisiku di-acc oleh semua penguji. Aku mencetak hard cover skripsiku dan mengurus syarat-syarat yudisium. Halo, engineer!


-end-


#Hari ke-14  #30HariMenulisCerita










0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Secangkir Espresso

23.33 Putri Dewayanti 0 Comments



"Dibalik kesibukan seseorang, ada sesuatu yang ingin dilupakan."


Begitulah yang kulihat dari gadis berambut coklat itu. Setiap malam selama hari kerja, sekitar pukul delapan, dia selalu datang ke Kedai Kopi memesan secangkir espresso dan air putih kemudian duduk di tempat yang dekat colokan. Tempat ini memang jadi andalan dia mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Aku menduga dia seorang wanita kantoran jika dilihat dari rok span dan blouse yang membalut indah tubuhnya.

Aku barista di kedai ini. Wajar saja jika aku mengenal wajah pelanggan yang sering nongol di kedai. Meskipun dia sering ke mari, dia tidak pernah basa-basi dengan kami, para barista. Dia hanya butuh kopi dan tempat yang nyaman. Sekitar pukul sebelas malam dia bergegas pulang. Kami mengucapkan "terima kasih" yang hanya disambut senyum kecil yang menurutku sedikit dipaksakan.

Beberapa minggu kemudian, aku tahu wanita itu bernama Hera. Ternyata Ferdi, tetanggaku, adalah teman sekantornya. Ia bekerja sebagai editor buku fiksi di penerbit Ideabooks. Wajar saja jika dia ke sini selalu membuka laptop. Mengedit naskah cerita memang tidak mudah. Hal lain yang kuketahui dari Ferdi adalah Hera seoarang workaholic. Jam pulang kantor tepat pukul lima sore, tapi Hera tidak pernah pulang tepat waktu. Gadis berambut pirang ini selalu pulang terlambat. Berarti setelah dari kantor dia langsung ke mari, pikirku.

Asli aku dibuat penasaran dengan Hera. Mengapa dia selalu ke mari setelah pulang kantor? Mengapa tidak langsung pulang ke rumah? Kalau aku jadi dia bisa tekor, sih, mengingat secangkir espresso di sini tidaklah murah.

"Dia kok nggak pernah dateng ke kafe sama seseorang sih? tanyaku ke Ferdi saat kami asyik jogging.

"Semenjak kejadian itu dia memang berbeda."

"Apaan?"

"Semua yang bekerja di Ideabooks tahu, setahun yang lalu, Hera sempat mengalami kecelakaan. Kecelakaan tunggal di tol Cipularang saat perjalanan dari  rumah orang tuanya di Bandung menuju Jakarta. Naasnya hanya Hera yang selamat itu pun dia harus dilarikan ke rumah sakit sesegera mungkin. Orang tuanya meninggal di tempat dan..." Ferdi menelan ludah sejenak, "tunangannya juga meninggal. Hera berhasil diselamatkan itu pun dia harus menjalani operasi dan perawatan selama tiga bulan."

"Bagaimana dengan pekerjaannya saat itu?" Aku bertanya penasaran.

"Hera adalah editor terbaik yang kami punya. Beberapa kali dia menjadi translator untuk novel terjemahan. Waktu itu dia memegang dua buku untuk diedit dan dua buku untuk diterjemah. Sempat terbengkalai, dan tim menginginkan diganti orang lain untuk sementara. Sayangnya si bos tidak mau. karena semuanya sudah diproses oleh Hera. Kalau sampai sisanya diganti orang lain, akan beda rasa. Beda hasil. Hebatnya si bos mau menunda proyek ini, dan menanggung risiko dari mundurnya deadline. Setelah keluar dari rumah sakit, sebenarnya Hera dapat cuti untuk recovery, tapi dia tidak mau. Dia bersihkeras tetap masuk."

***

"Espresso satu."

Kali ini giliranku yang menjadi barista. Hera datang lagi tetapi uniknya dia tidak membawa seperangkat alat kerja dan kawan-kawannya. Setelah mendapat espresso, Hera berjalan ke luar kafe. Dia berdiri memandang langit hitam sembari dia menyesap pelan-pelan espressonya. Aku tak bisa melihat ekspresinya karena ia memunggungi kafe. Aku lepas celemekku dan keluar menemuinya.

"Mengapa tidak di dalam saja? Biasanya kan seperti itu," kataku sok akrab.

Hera menoleh kaget. Aku bisa melihat kegugupannya yang ia tutupi dengan menyesap espresso. "Aku butuh angin segar," jawabnya.

"Hei, aku Gilang, namamu siapa?" Basa-basi tidak apa-apa, kan.

"Hera."

"Single bersih atau single kotor?"

Astaga mulut aku ini kenapa sih. Bisa-bisa dikira playboy kesepian. Kuperhatikan alisnya terangkat, dan akhirnya dia pun bertanya.

"Maksudnya?"

"Nggggg..." aku bingung menjelaskan, "Single bersih itu si doi lagi sendiri dan belum ada siapapun yang mengisi hatinya. Kalau single kotor, ya sebaliknya, Neng," jawabku nyengir.

Dia tampak ragu menjawab. Oke, dia tidak jawab tidak apa-apa kok. Namanya juga pertanyaan ngawur. "Single kotor," jawabnya.

"Single kotor gak baik untuk hati dan pikiran, Neng. Aa' bersihkan boleh?"

Dia tersenyum. Untuk kali pertama aku lihat dia tersenyum. Sepertinya ini permulaan yang baik. Tanpa berpikir lama-lama, ia mengangguk.

"Nah, gitu. Sesekali menikmati udara kota Jakarta nggak buruk-buruk amat, kok. "Hera mau espresso lagi? Malam ini beli satu gratis satu!"

***

The best thing about waking up is knowing you have another cup of coffee to enjoy"

Filosofi kopi barusan benar-benar Hera banget. Melupakan seseorang bukan dengan cara sibuk sampai mati. Masih banyak hal indah di dunia ini yang patut kaunikmati, kausyukuri. Kehilangan seseorang dalam sekejap adalah sesuatu yang tidak akan pernah diduga kita sebagai manusia biasa, tapi percayalah hal itu keputusan terbaik Tuhanmu. Tidak ada salahnya harus ikhlas agar bisa menikmati secangkir kebahagian baru.



-end-


#harike-13 #30HariMenulisCerita











0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Buku Harian

23.47 Putri Dewayanti 0 Comments


Nama laki-laki itu Harris. Ia pemuda gagah, tampan, dan bersahaja. Harris menikah muda saat umur 23 tahun dengan wanita berumur 22 tahun bernama Harrisa. Harris dan Harrisa. Namanya yang berbeda satu huruf seolah-olah menunjukkan mereka berjodoh sejak lahir. Harris dan Harrisa hidup sederhana di rumah yang hanya memiliki satu dapur, satu kamar mandi, dan satu ruang kosong multifungsi sebagai tempat tidur, berkumpul, atau bertamu.

Mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Harrisa selalu membantu Harris berjualan. Biasanya mereka ambil beberapa dagangan di toko, kemudian menjajahkan dari rumah ke rumah. Dagangannya pun rupa-rupa, mulai dari sembako, peralatan dapur, sapu, dan keset. Mereka memiliki gerobak kecil yang mampu memuat dagangan. Mereka menawarkan barang dagangan dari rumah ke rumah. Upahnya mereka bagi menjadi tiga, untuk kehidupan sehari-hari, sedekah, dan simpanan hari tua.

Harris dan Harrisa sangat suka membaca. Sembari berjualan, mereka sempatkan untuk membaca. Membaca koran bekas, majalah, tulisan di tiang listrik, dan apapun yang berupa rangkaian kata dan gratis. Selain suka membaca, mereka juga suka menulis. Setelah makan malam, mereka selalu menulis semua kegiatan dalam satu hari. Mereka selalu menetapkan poin yang wajib ditulis: apa yang bahagia, apa yang sedih, apa yang disyukuri, dan siapa saja yang ditemui hari itu. Mereka sengaja membuat tulisan agar suatu hari nanti mereka bisa membaca bersama anak dan cucunya.

Sepuluh tahun berlalu. Harrisa menunjukkan kegelisahan. Ia bercerita kepada suaminya mengapa sampai saat ini mereka belum dikaruniai anak. Apa Tuhan berlaku tidak adil? Harrisa menitikkan air mata yang langsung diusap oleh Harris.

"Tuhan selalu punya cara untuk membahagiakan umatnya," ucap Harris tersenyum.

Harris mengecup kening istrinya dan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sejak saat itu mereka berjanji untuk tidak saling mengeluh dan lebih bersyukur dengan apa yang mereka dapatkan. Akhirnya mereka memutuskan untuk menghapus poin "apa yang sedih" dalam buku harian. 

Kini usia pernikahan mereka menginjak tiga puluh tahun. Harrisa sudah memasuki usia menopause yang artinya mereka tidak mungkin dikaruniai keturunan. Hebatnya mereka tidak bersedih. Mereka bersyukur dengan apa yang dimiliki. Makan yang cukup, dagangan yang tak pernah sepi, dan tetangga yang murah hati. Kesederhanaan itu sudah membuat mereka bahagia.

Akhirnya mereka memutuskan untuk menghabiskan sebagian uang simpanan hari tua untuk membeli buku-buku bekas di pasar. Harrisa dari dulu berkeinginan memiliki taman baca.

"Kita kan sudah tua. Sudah saatnya pergunakan uang ini," kata Harris tersenyum.

Sejak ada tumpukan buku-buku, rumah mereka tak pernah sepi. Setiap hari anak-anak tetangga selalu datang ke rumah mereka sekadar membaca atau bermain. Melihat hal itu, Harris memutuskan Harrisa di rumah saja menemani anak-anak. Sudah saatnya Harrisa istirahat, dan biarkan ia bekerja sendiri. Semula Harrisa masih ingin membantu suaminya, tapi Harris menolak dengan halus.

"Kausudah cukup menemaniku bekerja. Kini saatnya kau bersenang-senang."

***

Rumah indah, 30 Maret 2014

Apa yang bahagia?
Sudah lima bulan lamanya rumah kami tak pernah sepi. Sejak kami memiliki taman baca, anak-anak tetangga sering mampir ke mari. Sejak saat itu pula, aku pandai bercerita. Aku selalu diminta anak-anak berdongeng. Hari ini aku mendongengkan Alice in Wonderland karya Lewis Carrol. Mereka menikmati dan kesekian kalinya memuji suara merduku.

Apa yang disyukuri?
Aku selalu bersyukur memiliki Harris. Dia suami yang hebat. Dia selalu memberi kehidupan baru untukku setiap pagi. Ia mengajariku banyak hal. Yang paling berkesan adalah saat ia mengatakan bahwa Tuhan selalu punya cara untuk membahagiakan umatnya. Entah dari mana ia bisa berkata seperti itu. Ucapan yang selalu membuatku bersyukur. Kata-kata yang meneduhkan.

Sepuluh tahun kemudian...
Untuk kesekian kalinya Harris duduk di sudut ruang multifungsinya. Usianya yang senja benar-benar .terpancar dari wajahnya. Matanya masih setajam dulu tetapi tidak bisa menyamarkan kedukaan, janggutnya memanjang dan memutih. Ia duduk sembari membuka buku bersampul merah. Buku harian Harris dan Harrisa. Halaman buku yang dibuka tampak kusut seolah-olah menunjukkan halaman itu sudah terlalu sering dibaca. Halaman itu adalah tulisan terakhir mendiang istrinya. 

Keesokan paginya, pada hari terakhir di bulan Maret, Harrisa tidak pernah bangun dari tidurnya. Ia tidur selama-lamanya. Harris hampir gila. Segalanya begitu mendadak. Selama ini istrinya tak pernah mengeluh sakit. Harris akhirnya mengerti bahwa Tuhan bisa mengambil milik-Nya lagi kapanpun Ia mau.

Lagi-lagi Harris menitikkan air mata setiap kali membaca buku harian itu.

Siapa saja yang ditemui hari itu?
Pagi hari aku membangunkan suamiku untuk bersiap-siap bekerja. Selanjutnya aku membacakan dongeng untuk "anak-anakku" yang kini berjumlah lima, yang bernama Aji, Rama, Meita, Retha, dan Vega. Kemarin "anak-anakku" hanya ada tiga. Mudah-mudahan besok "anak-anakku"  semakin banyak yang datang. Amiiiin. Sore harinya, Bu Tina, tetangga kami, memberi semangkok sup ayam untuk makan malam. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena telah menjaga Rama selama ini. Orang yang kutemui terakhir tentu saja suamiku. Harris pulang membawa lima buku anak-anak. Bukan buku bekas. Semuanya buku baru. Katanya, hari ini dia mendapat bonus banyak. Tak lupa, ia memberiku kejutan, sebuah coklat bar untuk dimakan berdua.

Bahagia sesederhana itu, ya.


-end-

#harike-12 #30HariMenulisCerita




0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Kebiasaan Memakai Helm

00.58 Putri Dewayanti 0 Comments

Saya pilih selamat

Banyak yang tidak mengerti dengan kebiasaanku satu ini. Dengan mudahnya mereka berkomentar tanpa alasan yang menurutku tidak jelas. Selalu memakai helm saat mengendarai motor itulah kebiasaanku. Lebih kukerucutkan lagi ya maksudnya. Selalu memakai helm saat mengendarai motor meskipun hanya berjarak beberapa ratus meter.

Beberapa dialog yang sering terjadi.
Sukirman: "Ke Indomari saja kok pakai helm?"
Aku: "Nanti kalau jatuh gimana?"
Sukirman: "Mulutnya lho kok bilang begitu!"

Ada pula yang seperti ini.
Sukirwoman: "Ngapain pake helm, kan gak ada polisi."
Aku: "Emang nunggu harus ada polisi baru pakai helm?"

Semuanya berawal dari aku magang di salah satu perusahaan gas di Bontang. Perusahaan tersebut berupa kompleks yang terdiri dari industri, gedung perkantoran, perumahan karyawan, dan lain-lain. Perusahaan tersebut sangat menjunjung tinggi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di mana semua karyawan selama bekerja harus mengutaman kesehatan dan keselamatan. Perusahaan tersebut dijaga sangat ketat, sehingga tidak semua orang bisa masuk. Kalaupun diizinkan masuk, orang tersebut harus paham akan semua peraturan yang diterapkan, terutama peraturan lalu lintas.

Salah satu peraturan lalu lintas yang wajib dipatuhi adalah penggunaan helm saat berkendara motor. Di sini aku baru menyadari betapa pentingnya menggunakan helm. Mari kita berpikir sejenak mengapa harus menggunakan helm.

Ada dialog yang sarkas. Bunyinya seperti ini.
"Kalian tahu mengapa harus pakai helm?"
"Untuk melindungi kepala."
"Mengapa kepala harus dilindungi?"
"Karena terdapat otak di dalamnya."
"Jadi, kalau tidak pakai helm berarti dia tidak punya apa?"

Silakan kalian jawab sendiri sebagai instropeksi diri. Organ otak begitu penting bagi kita. Semua pesan saraf dan rangsangan diatur di sini. Jika otak kalian (maaf) mengalami kecelakaan, kalian paham risiko yang terjadi, kan?

eciyeee

Susah sekali bagi orang di sekitarku memahami kebiasaan sederhana ini. Menurutku kecelakaan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Entah di jalan ramai penuh truk atau di depan rumah yang sepi. Semua kemungkinan itu ada. Kakakku pun pernah jatuh di lapangan sekolahnya saat rodanya terlilit benang layangan. Adikku pernah jatuh di kompleks perumahan. Memang tidak ada luka di kepala, tapi kemungkinan itu pasti ada, kan? Aku tidak menginginkan sampai itu terjadi, tapi siapa tahu, kan?

Oleh karena itu, sejak aku pulang dari magang, kuputuskan untuk memilih selamat dalam berkendara. Ke manapun aku pergi, sedekat apa jaraknya, selama aku berkendara dengan motor, wajib hukumnya menggunakan helm. Dan jangan lupa pastikan klik pada tali pengamannya.



-end-

#harike-11 #30HariMenulisCerita



0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Sepatu High Heels

00.15 Putri Dewayanti 0 Comments

red shoes

Coba jelaskan padaku mengapa perempuan itu suka sekali ribet! Aku termasuk orang yang tidak mau ribet, tapi terpaksa harus ribet. Paham maksudku, kan? Aku ribet kalau harus pergi ke acara yang membutuhkan fashion lebih, sepatu high heels salah satunya.

Aku tidak punya sepatu high heels. Masalah? Iya, masalah kalau aku harus pergi ke kondangan. Aku bingung mau pakai sepatu apa. Aku cuma punya tiga sepatu, flat shoes model sporty, sepatu kets, dan safety shoes. Nah, tidak mungkin kalau ke kondangan harus memakai sepatu demikian. Ya, sebenarnya oke-oke saja, cuma kembali lagi: cewek itu suka meribetkan diri.

Kisahku dengan sepatu high heels yang pertama adalah saat acara wisuda. Selain mengenakan toga sudah pasti aku mengenakan pakaian kebaya dengan segala keribetannya. Kalau pakai kebaya, akan terlihat aneh memakai salah satu dari sepatuku, kan? Beli? Ogah. Hahahaha. Jadi, baru beberapa langkah dari taksi yang aku tumpangi, dan ehem...alas high heels-nya lepas, saudaraaaaa. Aku melongo. Ada-ada aja kan, pas punya acara macam gini, sepatu malah rusak,sepatunya mama lagi. Akhirnya, mama menukar sepatunya dengan sepatuku. Uf, aku merasa durhaka.

Acara kondangan teman juga menjadi saksi bahwa aku merusakkan sepatu mamaku lagi. LAGI. Mungkin tingkahku yang petakilan. Sebelum ke lokasi kondangan, aku menuju rumah Retha untuk berangkat bersama. Sayangnya, aku kena macet dan takut telat jadinya aku lewat sela-sela barisan truk dan mobil. Ya, tentunya sepatuku harus bergesekan dengan aspal berkali-kali. Sampai di rumah Retha, tiba-tiba terdengar suara kretek. Hak sepatunya PATAH. Antara ingin tertawa terbahak-bahak dan mengasihani diri sendiri. Akhirnya Retha meminjami wedges setinggi sepuluh senti. Alhamdulillah sepatunya tidak rusak, hanya kakiku saja yang cekit-cekit. Ya bayangkan saja aku memakai sepatu itu untuk berdiri sekitar dua jam dan jalan cepat.

Yang terakhir, adalah saat menemani mama ke acara wisuda muridnya. Baru memarkir motor, dan tiba-tiba alas sepatunya lepas. Duh, Put, duh. Itu sepatunya mbakmu, Put.
         "Kamu itu ada-ada saja..." heran mama.
Lalu apa solusinya? Alas dan sepatunya kuikat dengan karet. Aku berjalan sedikit menyeret.

Ya begitulah. Aku jarang tidak beruntung menggunakan sepatu high heels. Lebih baik aku beli flat shoes yang feminin untuk acara begini. Tidak mungkin kan kalau aku pakai safety shoes!

Perihal gambar red high heels yang kujadikan teman cerita ini sebenarnya tidak terlalu nyambung dengan kekonyolanku. Aku suka warna merah. Red high heels bagiku terkesan hot dan seksi. Jika aku punya sepatu itu pasti hanya kujadikan pajangan. 

-end-


#harike-10 #30HariMenulisCerita

0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Media Sosial

12.52 Putri Dewayanti 0 Comments

cek-cek


Wah, sudah jam empat subuh. Sudah kebiasaan kalau menunggu adzan subuh berkumandang, Fariz selalu bermain dengan ponselnya. Memantau media sosial adalah kegiatan di pagi hari yang sama pentingnya dengan kadahajat. Pertama-tama ia mengecek grup whatsapp. Ini penting karena ia gabung di beberapa grup, dan ia tak mau ketinggalan satu berita pun. Bukankah, kita harus kaya informasi agar tidak ketinggalan zaman?

Fariz tertarik membaca percakapan grup. Grup sedang membahas toko daring Lalaza yang seharusnya kirim paket ponsel ke pelanggan malah keliru kirim sabun Nova.

"Fariz, sudah waktunya subuhan!" teriak ibunya dari dapur.
"Ya, Buuuu..." jawab Fariz.

Selanjutnya buka timeline Line dulu. Biasanya si Tio posting status galau. Benar dugaannya, si Tio galalu lagi. "Ini anak butuh dirukiyah, deh, betah banget berkubang di kenangan," batinnya.

Kemarin Fariz tanya ke Gya masalah tugas di Facebook. Jempolnya kini beralih ke ikon Facebook. Fariz sedikit kesal, karena belum dijawab Gya.

Kegiatan memantau akun media sosial berlanjut dengan kunjungan ke Path, Instagram, Twitter, hingga ia tidak sadar kalau waktu sholat subuh sudah habis.



-end-

#harike-9 #30HariMenulisCerita

0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Pasrahnya Jadi Bola Sepak

23.26 Putri Dewayanti 0 Comments



Panggil aku bola. Tidak ada yang spesial dari fisikku. Tuhan menciptakan aku dengan sederhana, terbuat dari kulit berbentuk bundar. Sudah, tidak pakai embel-embel rambut, jari, telinga, dkk, dll. Tetapi, Tuhan memberiku rasa.

Umurku baru dua bulan setelah dilahirkan di rumah sakit, eh pabrik maksudku. Sekarang aku tinggal di Lapangan Tambaksari, tepatnya di ruang penyimpanan peralatan sepak bola. Eh, apa sepak bola? Oh, ya, sehari setelah dilahirkan, Tuhan bertelepati. Kata-Nya, suatu hari nanti akan ada peran penting untukku di kompetisi sepak bola bergengsi. Peranku hanya pasrah saja. Aku tidak mengerti maksud pesan itu, tapi Tuhan tidak ingin memberi petunjuk lebih.

Aku merasakan ada seseorang yang membawaku entah ke mana.  Hei aku mau diapakan? Perasaanku ke mana-mana selama dibawanya. Kucoba telepati dengan Tuhan, atau dengan petugas pabrik, tidak diindahkan. Aku merengut. Sebal. Tidak bisa apa-apa.

Semuanya telah terjawab setelah dua jam kemudian. Rupanya peranku seperti ini, toh. Sakit, euy, jadi bola sepak itu. Selama 90 menit pertandingan aku diperlakukan barbar oleh manusia-manusia. Salah satu dari mereka, yang bernama wasit meletakkan aku di lapangan. Rasa gatal akibat rumput-rumput itu membuatku ngeri. Aku tidak punya tangan dan kaki. Bagaimana aku bisa garuk-garuk? Aku hanya bisa pasrah.

Kalian tahu apa yang kampret dari sepak bola? Ya, ketika aku menjauh ke pinggir lapangan, manusia-manusia itu mengejarku. Lelah ia tak peduli. Keringat mengucur ia bodoh amat. Ketika mereka mendekatiku, bukannya diambil, malah ditendang! Nah, kurang kampret apa coba? Tapi toh, aku hanya bisa pasrah.

Sebenarnya ingin sekali protes ke Tuhan, tapi kan dosa. Jadi aku hanya bisa mengampretkan mereka dan memasrahkan diri. Bola bukan malaikat yang selalu tunduk, bukan? Nasibku tidak hanya sampai di situ. Seringkali aku disundul kepala mereka yang rupa-rupa. Kalau aku disundul oleh manusia gundul rasanya panas sekali. Disundul manusia jabrik akunya gatal-gatal, bahkan kesakitan. Belum lagi, kalau aku ditendang kena mistar gawang. Astagaaa, sakitnya tuh di sini!

Satu hal yang tidak kuduga-kuduga adalah aku punya manusia pelindung. Di saat manusia-manusia keji itu menandangku ke sana ke mari, Rupanya ada dia yang selalu berusaha melindungiku. Detik-detik terakhir menjelang pertandingan habis, aku ditendang sekuat tenaga. Rasa sakit menjalar di seluruh kulit. Saat itu pula rasanya aku ingin mati. Namun beberapa detik kemudian aku merasakan pelukan hangat. Dia memelukku, dia menangkapku. Dia menjagaku agar tidak melesak jauh. Aku merasakan dia menatapku dan tersenyum. Aku bersyukur bisa pasrah kali ini. Dan rasanya ingin sekali aku bilang, "Tangkap aku lagi, dong, Bang!"



-end-


#harike- 8 #30HariMenulisCerita






0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Lukisan Laut di Wajah Rani

14.57 Putri Dewayanti 0 Comments

the sea on the girl face



Hari ini aku mendapat job melukis lagi. Beruntung sekali seniman amatir macam aku tidak pernah sepi pesanan. Rata-rata mereka memintaku melukis dirinya, Mereka bosan hanya dipajang pada sebingkai foto. Menurut mereka lagi, foto itu tidak hidup. Entah, kebanyakan berkata seperti itu.

Sekarang aku di depan pintu apartemen 509. Pintu itu membuka setelah dua kali aku pencet bel. Seorang gadis ada di depanku. Cantik. Cantik sekali. Dia mempersilakanku masuk ke apartemennya. Apartemennya besar tapi tak banyak perabotan, sepertinya dia penghuni baru di sini.

Pelangganku satu ini bernama Rani. Dia ingin lukisan dirinya dipajang di kamar tidurnya. Ia ingin mengagumi diri sebelum terlelap. Rani membuatkanku kopi kemudian pamit untuk berdandan terlebih dahulu. Melihat sekeliling apartemen aku jadi punya ide bagaimana dia dilukis. Kubuka tirai jendela, dan sinar matahari sore masuk menciptakan warna oranye kemerahan yang berpadu dengan tembok putih tulang apartemen ini. Aku menata kursi berwarna putih di dekat jendela.

"Aku sudah siap," Rani menyapa di balik punggungku.

Aku menoleh. Malaikat. Ada malaikat di depanku. Rani cantik sekali. Ia mengenakan gaun tube top berwarna biru laut selutut, menampakkan kulitnya yang putih bersih. Rambutnya yang disemir coklat dikepang samping. "Ya, bagaimana kalau kamu duduk di kursi itu,"

Rani menurut saja. Segera ia duduk. "Duduklah senyaman mungkin," ucapku. Rani duduk tegap. Seolah-olah mau foto KTP. Baru kali ini ada yang minta dilukis dengan model seperti itu.

Sebelum melukis, aku selalu melakukan "ritual" mengamati objek lukisan. Demi sebuah lukisan yang indah ada baiknya kau memakai waktumu untuk mengamati. Rani cantik. Ya, berkali-kali aku mengucapkan hal itu tanpa rasa bosan. Matanya...Hei ada apa dengan matanya?

Kedua matanya menerawang jauh. Tak punya titik fokus. Ia ingin bebas, tapi jiwanya terpasung.  Ia memiliki masa lalu yang kelam, tapi ia ingin menunjukkan dia baik-baik saja. Entahlah itu hanya menurutku. Sebaiknya aku mulai melukis.

Kata teman-temanku yang sesama pelukis amatir, kemampuan melukisku tidak diragukan. Meskipun bukan dari lulusan akademi melukis atau semacamnya, aku paham memainkan cat minyak di atas kanvas. Aku melukis sesuai dengan instingku dan tak pernah memaksa jari-jari melukis jika tak memiliki inspirasi.

Mataku saling beradu antara Rani dan kanvas. Rani dan kanvas. Rani dan kanvas. Mimik muka Rani tenang, tetapi matanya tetap menerawang. Yang kutakutkan alih-alih dia kerasukan. Beberapa menit kemudian mukanya menjadi sendu. Abu-abu. Rani adalah objek melukis yang paling indah yang tidak bisa direncanakan. Pengaturan kursi jendela dan tetek bengeknya menjadi tidak berarti

"Ran, sudah selesai. Coba ke mari!"

Sudah dua jam lebih Rani duduk. Dia melemaskan kaki dan tangannya saat berdiri. Rani menghampiriku untuk melihat hasil lukisannya. "Astaga, indah sekali! Tak salah aku memanggilmu."

Ia mematut-matut dirinya di depan lukisan bak cermin. "Berkali-kali aku memanggil tukang lukis dan berkali-kali aku dikecewakan dengan hasilnya," katanya. "Lihat mukaku, benar-benar menunjukkan ingin lepas dari semua kebohongan dunia. Semua keinginan itu ada di lukisan ini pun sudah diwujudkan. Sekarang aku bisa hidup dengan bahagia." Ia mengucapkan kalimat itu dengan semangat.

Aku tersenyum puas. Sekarang mata rani tidak menerawang. Mimik mukanya tidak sendu lagi. Karena semua energi itu telah dipindah di atas kanvas. 

-end-



#harike-7 #30 HariMenulisCerita

0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Mimpi di Telingaku

10.43 Putri Dewayanti 0 Comments

My ear dream


"Kamu percaya mimpi?"

Laki-laki berkaca mata di sampingku menatap sendu langit kota yang memerah, tanda akan menjemput malam. Dia adalah dr. Harris, teman semasa kecil. Kami bertemu saat magang di bagian IGD.

Kami berada di atap rumah sakit. Ini adalah tempat favorit kami untuk beristirahat sejenak dari aktivitas rumah sakit. Kami hanya punya waktu 30 menit untuk mengobrol. Oleh karena itu, kami harus memanfaatkan sebaik-baiknya.

Aku tertegun mendengar pertanyaannya. Bukan. Bukan pertanyaannya. Tapi bagaimana caranya ia bertanya. Suaranya berbeda. Ada keganjilan di suranya yang tenor itu.

"Tentu, tanpa mimpi aku tak bisa sampai seperti ini," aku tersenyum. Aku menyeruput kopi berharap mampu mengurangi rasa cemas.

"Apa mimpimu kali ini?"

Dahiku berkerut. Berusaha memikirkan apa mimpiku berikutnya.

"Aku tak tahu. Aku cukup puas dengan apa yang kudapat sekarang."

Sekarang giliran dahinya yang berkerut. Kemudian dia tertawa sambil mengacak-acak rambutku. Dia merogoh saku jas putihnya dan menyodorkan sesuatu.

"Dreamcacther!" Ucapku agak keras saat melihat benda lingkaran berwarna biru tua dan bulu angsa berwarna sama yang menggantung.

Dreamcacther itu berbentuk anting. Ukurannya tidak terlalu besar sehingga tidak berat di telinga. Kuucapkan terima kasih saat ia meletakkan kedua anting itu di genggamanku. 

"Jadi apa kau sudah punya mimpi?" Ia bertanya sekali lagi.

Aku tersenyum. Anehnya setelah melihat dreamcacther, aku bisa bermimpi. Ya, mimpi yang kuharap bisa menjadi nyata.

"Aku ingin menjadi ibu dari anak-anakmu kelak."


***

"Putri, telingamu memerah. Sepertinya bahan anting sudah tidak cocok dengan kulitmu," dr. Sam mendekati dan mengamati daun telinga kananku. Aku mengelak. Risih. Dr. Sam memegang kedua pundakku. Aku menunduk.

"Putri, aku mengerti itu hadiah dari seseorang yang begitu berharga untukmu. Maaf, kalau aku jahat mengatakan ini, setelahnya Putri boleh membenciku," dr. Sam memberi jedah sejenak. "Aku tahu ini berat untukmu, tapi apa enaknya tinggal di masa lalu? Dr. Harris nyatanya sudah pergi."

Tangisku pecah mendengar namanya. Dr. Sam memelukku, memberikan perlindungan terbaiknya. "Setelah ini Putri boleh membenciku," ia mengulangi.

Seperti kata W.S Rendra, nasib cinta memang siapa yang tahu. Harris telah pergi selama-lamanya. Ia mengalami kecelakaan saat terbang ke Tokyo menemui orang tuanya. Jasadnya pun tak ditemukan. Lima tahun kepergiannya hampir membuatku gila. Memang aku bisa menjalani aktivitas seperti biasa. Segalanya atas dasar profesionalitas. Hidupku seperti mesin. Tetapi, hari-hariku terasa kosong dan sepi.

Dr. Sam menyentuh antingku. Pelan-pelan dia melepas. Aku merintih kecil, karena sakitnya luar biasa. Ya, melepas itu berat. Tapi setelahnya kaubisa melengang dengan ringan.

***

"Mengapa kautidak memberiku dreamcacther yang digantung di pintu?"

"Ada baiknya mimpi kaubawa ke manapun pergi. Agar selalu ingat kaubisa di sini karena ada mimpi yang selalu kausemogakan."

- end -



#harike-6 #30HariMenulisCerita





0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Menyambut Sepi di Kotamu [Part 2 - End]

01.43 Putri Dewayanti 0 Comments

Sampai kosan, aku tersenyum. Eh, kampret, mengapa aku lupa bertanya siapa namanya. Ah, sial. Lupa minta nomor hp-nya pula. Ya, mungkin besok akan bertemu lagi. Sepertinya aku harus sering-sering mengamen di sana. Setelah cuci muka, aku mulai memejamkan mata.

Keesokan malamnya aku mengamen lagi di sekitar PKU. Dia ada! Di warung oseng-oseng mercon yang sama! Kuhampiri dia sembari menyanyikan lagu, khusus untuknya. Dia tersenyum. Kemudian ia menggeser pantatnya untuk memberiku tempat duduk.

"Kau sering makan di sini?" tanyaku.
"Ya, saya suka tempat ini. Oseng-oseng merconnya enak sekali dan pedasnya sungguh terlalu nikmat," ucapnya sambil melihat sekeliling.

Aku bukan peramal, juga bukan seorang psikolog, tapi aku mengerti matanya menyimpan rasa sepi yang dalam dan menyiksa. Seolah-olah berton-ton kenangan menggantung di mata. Nyatanya, bibirnya berkata lain. Kami membicarakan banyak hal, bahkan tertawa. Ya, bibirnya tertawa, tetapi matanya sepi. Kosong.

Hubungan kami hari demi hari terus berlanjut sejak kuputuskan hanya mengamen di sekitar PKU. Setelah makan oseng-oseng mercon, dia menemaniku mengamen dari warung ke warung. Dia menyumbang suaranya yang menurutku agak cempreng. Tak mengapa, kusuka.


***

Malam ini malam minggu, aku akan menemui dia dan mengajak ngopi di Angkringan Tugu. Aku tak membawa gitar. Sekali-kali libur kerja, tidak apa-apa bukan. Kaos oblong terpasang rapi di badan. Celana jins oke! Bunga? Tak perlu, bunga akan layu. Lebih baik kuberi cinta yang tak akan pernah layu dimakan waktu. Lempar bata saja kalau kalimat barusan terdengar menjijikkan.

Hei, kok dia tidak ada? Setiba di warung, tidak ada gadis yang kukenal. Semua yang datang ke sini tidak ada yang sendirian. Tidak mungkin dia ada di warung lain. Keyakinanku tidak sejalan dengan akal sehat. Aku berjalan dari satu warung ke warung lain. Ya, dia tidak ada. Aku nyaris putus asa. Kaosku penuh keringat.

Mungkin dia terlambat. Aku kembali ke warung kali pertama bertemu. Penjual oseng-oseng menghampiriku dan memberi sepucuk kertas yang dilipat rapi.

"Hei, terima kasih, sudah menemaniku selama ini."

Baru kusadari aku tidak pernah tahu namamu, dan demikian kamu tak tahu namaku. Hanya ada inisial "S" di sudut kertas. Dan kamu pergi begitu saja.


***

Pertemuan yang sebentar tapi berkualitas itu membuatku harus mengenyahkan diri dari kota ini. Kuputuskan untuk kembali ke Surabaya. Mencari suasana baru. Sayangnya, Surabaya terlalu hiruk-pikuk. Dimana-mana penuh manusia dengan mobilitas tinggi.

Aku rindu kotamu. Aku ingin pulang ke kotamu. Haru dan biru saling mengaduk dalam rindu. Aku ingin menyusuri warung-warung yang telah kita lewati, meskipun itu artinya aku harus bertengkar dengan akal pikiran. Ya, semuanya masih seperti dulu. Pemilik warung masih mengenalku. Mereka bersahaja. Rupanya mereka paham tujuanku ke mari bukan untuk mengamen, tapi untuk menyambut gadis berinisial "S".

Ya, aku menyambut sepi dikotamu.


- end -







*Cerita yang kubuat terinspirasi dari Kla Project - Yogyakarta.

#harike-5 #30HariMenulisCerita





0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Menyambut Sepi di Kotamu (Part 1)

00.43 Putri Dewayanti 0 Comments

Ini bukan kotaku, memang. Aku tidak dilahirkan di sini. Keluarga pun tidak ada yang tinggal di sini. Aku merantau untuk memperbaiki nasib. Jakarta terlalu mainstream, dan aku tak suka ingar bingar. Jadilah, aku pilih kota ini. Semoga kota ini mampu menghidupi dan kuat kuhidupi.

Awalnya aku tak tahu harus bekerja sebagai apa. Aku hanya tamatan SMP, tidak mungkin lah kerja kantoran, selain menjadi office boy. Satu hal yang kuyakini kota ini tidak pernah mati akan kreativitas. Pun profesi musisi jalanan akan selalu dihargai di sini. Bersyukurlah aku karena Kla Project mentitahkan lirik "Musisi jalanan mulai beraksi..."

Jadi, kuputuskan aku akan menjadi pengamen. Keputusan inilah yang membuat aku bertemu denganmu.

Ya, tidak ada yang menduga kita akan bertemu di sini, di kota ini. Waktu itu aku sedang asyik mengamen lagu The Beatles - I Wanna Hold Your Hand. Eits, jangan salah meskipun aku pengamen, pengetahuanku akan lagu-lagu legendaris tidak diragukan lagi, ya. Seperti biasa, aku mengamen dari satu warung ke warung lain. Saat itulah aku bertemu kamu, di warung oseng-oseng mercon dekat pertigaan PKU.

Anehnya waktu itu kamu sendirian. Hei, matamu sembab, tapi kupilih diam saja tidak bertanya. Kusodorkan botol air putih untukmu. Hari ini libur dulu, kali ya, cari duitnya. Ada bidadari manis kok dianggurin. Ditemani lah sampai tidak sembab lagi. Kami hanya bertegur sapa, berbicara basa-basi, karena ia cenderung menutup diri.


***

Sampai kosan, aku tersenyum. Eh, kampret, mengapa aku lupa bertanya siapa namanya. Ah, sial. Lupa minta nomor hp-nya pula. Ya, mungkin besok akan bertemu lagi. Sepertinya aku harus sering-sering mengamen di sana. Setelah cuci muka, aku mulai memejamkan mata.












- bersambung - 



*Cerita yang kubuat terinspirasi dari Kla Project - Yogyakarta. Ketika menulis ini tentunya aku sedang mendengar "Untuk selalu pulang lagi..."


#harike-4 #30HariMenulisCerita


0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Aku Fulan, Si Penunggu Masjid

00.12 Putri Dewayanti 0 Comments

Sebenarnya tujuan mereka ke masjid untuk apa, sih? Aku mengernyitkan diri saat melihat aktivitas mereka yang katanya menunaikan solat terawih, kok, seolah-olah hanya menggerakkan tubuh tanpa makna. Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid. Tugasku sederhana, menunggu masjid.

Hari ini adalah hari keempat untuk solat terawih. Yang laki-laki datang dengan baju koko, sarung, tanpa sajadah. Laki-laki di sini terbiasa solat tanpa beralaskan sajadah. Berbeda dengan wanita, yang datang dengan mukenah warna-warni penuh motif dan sajadah yang tak kalah indahnya. Ketika mereka solat, aku bisa melihat dua perbedaan. Barisan shof laki-laki rapat, ujung kakinya berdempetan. Barisan shof wanita, menurutku, tidak rapat. Mereka terpaku dengan sajadah milik masing-masing. Meskipun kanan-kirinya masih longgar, tak masalah. Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid yang bisa melihat.

Solat terawih ditunaikan setelah solat isya. Saat Al Fatihah selesai dibaca, sang imam melanjutkan membaca ayat kursi yang ada di surat Al Baqarah 255. Rupanya beliau tidak berhenti sampai di situ, beliau masih melanjutkan Al Baqarah 266. Aku melihat ada perubahan mimik muka di wajah makmum. Ada yang gelisah. Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid yang bisa melihat.

Setelah mengucapkan salam, banyak yang berbisik kalau solatnya terlalu lama, bacaannya terlalu panjang. Banyak yang tidak mengerti. Tapi, toh, mereka hanya makmum. Makmum harus patuh dengan imam, bukan? Solat terawih dilanjutkan. Sang imam melafalkan bacaan surat yang panjang. Banyak yang tidak fokus. Rupanya banyak yang membatin "ini rokaat berapa ya?" atau "Aduh, lama sekali". Bapak yang memakai sarung merah itu, sedari tadi merencanakan, "Setelah ini main catur, ah!". Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid yang bisa merasa dan mendengar.

Sama halnya saat sang imam memberi ceramah. Beberapa bapak memejamkan mata. Entah merenung entah tidur. Anak-anak kecil lebih memilih bermain di sekitar masjid. Di teras beberapa ibu mengobrol dengan asyiknya. Oh, ya, perkenalkan, aku Fulan si penunggu masjid yang memiliki penginderaan lebih.

Kalian sudah mengenalku, bukan? Aku Fulan, si penunggu masjid. Tugasku di sini sederhana, menunggu masjid. Tugasku di sana tidak sederhana, melaporkan apa yang kulihat ketika menunggu masjid.



#harike-3 #30HariMenulisCerita







0 komentar:

#30HariMenulisCerita - Sebuah Perjalanan

00.21 Putri Dewayanti 0 Comments

Stasiun Lempuyangan (dok: pribadi)

"Meskipun kita tahu kemana kereta ini akan melaju, kita tidak akan tahu bagaimana kereta ini melaju." 

Suara kedatangan kereta Gaya Baru Malam memekakakan telingaku. Tak urung, aku tetap berdiri di belakang garis kuning bersiap-siap masuk gerbong. Ya, akhirnya aku pulang ke Surabaya. Tak sabar bertemu mama papa di rumah.

"Sampai bertemu lagi, Yogyakarta," ucapku pelan di bangku saat kereta pelan-pelan menjauhi Stasiun Lempuyangan. Perjalanan malam memang membuat aku tak bisa menikmati pemandangan luar dan akhirnya aku mulai mengedarkan pandangan. Pertama-tama di depan bangkuku ada keluarga kecil dengan satu anak yang kira-kira masih TK. Di kanan kiriku entah siapa, mereka sibuk dengan gawainya.

Aku sering melakukan perjalanan Yogyakarta-Surabaya dengan kereta, daripada bis, apalagi pesawat. Duh, mana kuat uang untuk tiket pesawat. Alasannya sederhana, karena kereta lebih nyaman dan aku sendiri lebih mudah berinteraksi dengan penumpang lainnya, ya meskipun sekadar ngobrol basa-basi.

Anak kecil di depanku ini sungguh aktif berbicara. Dia laki-laki. Lucu menggemaskan. Ya, namanya juga anak kecil. Kalau sudah besar, ya, amit-amit. Anak kecil itu sebenarnya capek terlalu lama sendiri duduk. Perjalanan dengan kereta ekonomi memang lama, karena sering berhenti di beberapa stasiun. Apalagi kereta ini doyan sekali memberi waktu beberapa menit untuk perokok aktif beraktivitas di luar. Ya, dua kali kampret lah lamanya.

Seringnya kereta itu berhenti, membuat sang anak bertanya ke ibunya.
"Mah, keretanya kok berhenti terus."
"Iya, Nak, ban keretanya bocor."
"Lho, Mah, bannya kereta kan dari besi!"

Anak itu mengucapkannya cukup keras. Sontak membuat mama dan papanya tertawa. Tidak hanya mereka, orang si sekitarnya pun yang diam-diam mendengar juga tertawa.

"Anaknya nggak bisa dibohongi, Bu," ucap Kakek yang duduk di bangku sebelah.

Ibunya tertawa. Sebenarnya sang ibu juga ngasal saat menjawab. Ya, mungkin beliau lelah. Kemudian sang kakek memanggil si anak dan mengajaknya salim.

"Sekolah yang pinter, ya, Nak," kata kakek. Si anak mengangguk dan  menyambut tangan sang kakek.

Percakapan sederhana itu membuatku kagum dan terharu. Ya, dua generasi bertemu dan berinteraksi. Yang tua memberi pesan berharga ke yang muda. Keluarga kecil itu turun di Sragen. Mereka berpamitan kepada kami yang masih melanjutkan perjalanan.

Kereta kembali melaju. Sang kakek menceritakan kehidupannya saat masih muda. Ya, saat itu ada pria yang mengajak ngobrol beliau. Terus aku cuma penggembira? Iya, aku orangnya cenderung jadi pendengar. Ya, hanya menanggapi sedikit-sedikit.

Jadi, kakek itu sudah mengelilingi banyak kota di Indonesia. Beliau bekerja sebagai enjiner kapal laut. Kemudian beliau memamerkan cincin yang dipakainya. Bentuknya besar dan aneh, terbuat dari logam berwarna abu-abu. Kalah deh batu akik!

Rupanya cincin itu memiliki makna. Cincin itu adalah kenang-kenangan persahabatan kakek dengan ketiga temannya yang dulu bekerja di pabrik kapal laut. Cincin itu rupanya baut kapal. Jadi baut kapal itu mereka berikan ke pandai besi untuk dibuat empat cincin. Ya, bayangkan saja sebasar apa bautnya.

Obrolan itu menutup perjalanan kami dan sampailah kami di Stasiun Gubeng. Jam dua dini hari. Alhamdulillah. Kami berpamitan dan mengucapkan "monggo". Kukemas ranselku dan keluar dari stasiun.

"Hei, Papa, I go home."




nb: cerita nonfiksi dengan sedikit penyedap fiksi. Sedikit saja, kok.




Hari ke-2 #30HariMenulisCerita







0 komentar: